Sekuel film animasi pertama Nintendo akhirnya rilis setelah bikin kita nunggu tiga tahun. The Super Mario Galaxy Movie (and yep, mereka skip era Land, World, 64 sampai Sunshine—straight to Galaxy huh?) hadir bertepatan dengan ulang tahun ke-40 franchise ini. Masih bareng Illumination, studio dibalik Minions, kali ini skalanya nggak lagi sekadar Mushroom Kingdom—kita langsung diajak main ke level kosmik yang jauh lebih luas, lebih chaotic, dan jelas lebih ambisius.
From the get go, film ini langsung terasa seperti lagi main game Mario—no logic, just vibes. Dibuka dengan Rosalina lawan Bowser Jr., lalu tanpa banyak basa-basi langsung lompat ke Mario dan Luigi yang ketemu Yoshi di Sand Kingdom. Nggak ada penjelasan “kenapa” atau “gimana bisa”, semuanya ya… terjadi begitu saja. It just is. Masih sama absurd dan nonsensical seperti film pertamanya, tapi kali ini bahkan lebih to the point karena exposition-nya hampir nol.
Ada sedikit improvement di sisi karakter, terutama hubungan Mario dan Peach yang akhirnya dibuat lebih jelas. Kalau di game kita cuma bisa nebak-nebak, temen? gebetan? kekasih? Di sini filmnya kayak bilang, “yeah… you know where this is going.” Tapi ya itu, tetap cuma lewat. Ada development, tapi tipis—blink and you’ll miss it.

Super Mario Galaxy (Source: IMDB)
Hal yang sama juga terjadi di sisi antagonis. Dinamika Bowser Sr. dan Bowser Jr. sebenarnya punya potensi sebagai father-son relationship yang menarik, tapi eksekusinya masih setengah matang. Ada hint redemption arc untuk Bowser, tapi muncul sebentar lalu hilang—factory reset real quick. Pacing-nya pun masih khas: super ngebut, kayak nonton orang speedrun—dan film ini bahkan self-aware sampai masukin literal speedrunning scene.
Dari sisi keseluruhan plot film ini, kerasa banget kalau Illumination memang sengaja buang logika narasi demi ngejar momentum yang non-stop, just like in the games, and fair enough, Mario memang bukan soal cerita. Tapi, ketika masalah yang sama dari film pertama muncul lagi tanpa perbaikan, itu berarti… that’s a bit of a shame. Walaupun begitu, satu hal yang patut diapresiasi adalah pembagian porsi karakter yang jauh lebih merata. Mario, Luigi, Peach, Yoshi, Toad, sampai Rosalina semuanya kebagian momen, dan ada satu karakter kejutan di bagian awal third act yang… let’s just say, fans bakal teriak di bioskop.
Sayangnya, Bowser Jr. juga jadi salah satu kelemahan terbesar. Karakter ini terasa seperti walking cheat code—muncul di mana pun the plot needs him to be. Bahkan untuk dunia seabsurd Mario, ini tetap terasa seperti lazy writing. Come on! Padahal secara konsep, dia justru lebih menarik dari Bowser. Motivasinya jelas, ada sisi emosional sebagai anak yang haus validasi, dan itu sebenarnya bisa jadi highlight kalau digarap lebih serius.

Super Mario Galaxy (Source: IMDB)
Di luar cerita, film ini benar-benar double down di semua aspek. Action lebih banyak, referensi makin gila, dan roster karakter makin penuh. Beberapa adegan aksinya bahkan terasa terinspirasi film martial arts Hong Kong era 80-an—wide shot, minim cut, koreografi kelihatan jelas. Hasilnya chaotic, tapi in a very good way. Aaron Horvath dan Michael Jelenic paham betul gimana bikin aksi yang fun tanpa kehilangan identitas Mario sebagai platformer: lari, lompat, step on the enemies, repeat.
Walaupun mostly mengadaptasi kedua game Super Mario Galaxy, referensinya justru ke mana-mana. Dari Sunshine, Odyssey, sampai Mario Maker, semuanya diselipkan. Nostalgia bait? Sure. But it works. Ada kepuasan tersendiri lihat sprites yang biasanya cuma kita mainkan di layar TV, sekarang jadi spectacle di layar IMAX. Bahkan bisa dibilang, ini salah satu adaptasi video game yang benar-benar “respect” the source material. Game mechanics-nya diterjemahkan dengan mulus ke format film—dari Sling Star sampai ke berbagai power-up ikonik. Flawless.
Visualnya? Illumination lagi-lagi all out. Detail kecil seperti tekstur kostum, partikel debu bintang di Comet Observatory, sampai helai rambut Peach dan Rosalina yang terasa hidup, semuanya digarap serius. Warnanya vibrant, effects flying all over the place, dan desain karakter tetap 100% setia ke versi game. Art style Yoshi’s Crafted World juga muncul di film ini. Bikin adanya Yoshi bukan cuma sekedar karakter saja tapi juga bisa influence ke filmnya sendiri. But as a character? Yoshi (plus Luma), no debate, bakal jadi scene-stealer—terutama buat penonton yang lebih muda.

Super Mario Galaxy (Source: IMDB)
Musiknya juga jadi highlight lain yang dapet power-up. Brian Tyler yang sebelumnya sukses nge-elevate soundtrack film pertama, di sini kembali ngangkat aransemen Super Mario Galaxy ke level yang lebih tinggi. Padahal, dari gamenya sendiri OST-nya sudah operatic—megah, luas, dan memang didesain buat ngikutin skala petualangan kosmiknya. Tapi entah gimana, Tyler masih bisa bikin semuanya terasa lebih besar.
Track favorit seperti Enter the Galaxy, Egg Galaxy, Rosalina in the Observatory, sampai Gusty Garden Galaxy (yang sempat muncul di film pertama) diaransemen ulang dengan rasa yang lebih grand dan sinematik. Ditambah selipan motif dari game lain, terutama Super Mario Odyssey, semuanya terasa seperti love letter buat fans lama. Hasilnya? Pengalaman nonton jadi makin exciting and fun. Musiknya bukan cuma jadi background, tapi benar-benar ikut “dorong” setiap momen biar terasa lebih impactful. Satu-satunya yang agak disayangkan—nggak ada kejutan baru dari sisi Bowser. Lagu Peaches masih jadi momen paling ikonik yang belum bisa ditandingi. Sad they don’t even try.
Untuk voice acting, spotlight kali ini pindah ke Bowser Jr. yang diisi Benny Safdie. Dia berhasil kasih range yang menarik—bisa terdengar intimidating, tapi tetap ada sisi childish-nya. Brie Larson sebagai Rosalina juga surprisingly cocok, bahkan terasa lebih regal dibanding Peach-nya Anya Taylor-Joy. Dan Charlie Day? Masih jadi Luigi yang selalu mencuri perhatian. Honestly, at this point… give us a Luigi’s Mansion movie already.

Super Mario Galaxy (Source: IMDB)
Pada akhirnya, The Super Mario Galaxy Movie adalah sekuel yang lebih besar, lebih heboh, dan lebih percaya diri. Hampir semua aspek berhasil di-upgrade, kecuali dua hal yang masih jadi PR: cerita dan character growth. Mungkin memang itu DNA-nya Mario—it’s never about the story. Tapi tetap saja, melihat potensinya, rasanya film ini bisa jadi sesuatu yang jauh lebih dari sekadar “a fun ride”.
Sebagai pengalaman menonton? An absolute blast. Sebagai film? Masih ada yang perlu dibereskan. Dan justru itu yang bikin penasaran—kalau franchise film Super Mario Bros. ini lanjut, apakah mereka bakal level up di sisi cerita juga, atau tetap main aman di zona “yang penting seru”?





































