Lilo & Stitch (Source: Disney)

Review Lilo & Stitch: So Far... Adaptasi Live Action Terbaik Disney

Bermula dari adaptasi Maleficent tahun 2014 silam, Disney terus konsisten membuat ulang kartun-kartun legendaris mereka ke dalam bentuk live action. Beberapa di antaranya bagus (Contoh: Cinderella & The Jungle Book), tapi sebagian besar biasa aja atau malah kurang bagus (Contoh: Pinocchio & Snow White). Sampai- sampai, fans film animasinya menyatakan kalau adaptasi live action Disney itu unnecessary alias tidak dibutuhkan. Untungnya, Lilo & Stitch masuk ke kategori yang bagus. 

 

Bercerita tentang Lilo (Maia Kealoha), seorang gadis kecil yatim piatu yang tinggal berdua bersama kakaknya, Nani (Sydney Agudong). Hidup mereka berubah setelah Lilo mengadopsi Stitch (Chris Sanders) , seekor anjing yang ternyata alien hasil eksperimen.

 

Kehancuran demi kehancuran dilakukan Stitch, seraya menghindar dari buruan penciptanya, Dr. Jumba Jookiba (Zach Galifianakis) dan Agen Pleakley (Billy Magnussen) dari United Galactic Federation. Disisi lain, Nani harus berusaha untuk memperbaiki hidupnya dan Lilo agar Lilo tidak diambil oleh Ibu Kekoa (Tia Carrere), perwakilan dinas sosial setempat. Tetangga yang suka dengan Nani, David (Kaipo Dudoit) dan Ibunya Tutu (Amy Hill) turut hadir memberi warna hidup Lilo & Nani.

 

Lilo & Stitch (Source: Disney)

Lilo & Stitch (Source: Disney)

 

Story-wise, secara garis besar masih sama dengan animasinya. Malah beberapa scene tidak ada perubahan sama sekali and that’s a good thing. If it ain’t broke, don’t fix it, right? Namun, beberapa perubahan yang ada memperbaiki serta elevates down to its tiniest details.

 

Salah contoh perubahan yang signifikan adalah perubahan role Jumba. Dikarenakan karakter Captain Gantu dihilangkan, Main villain akhirnya berpindah ke Jumba. Hal itu berdampak ke redemption arc dia yang di versi animasinya terasa sangat cepat dan cartoonish. Di versi live action, character developmentnya terasa lebih convincing karena tidak ada lagi redemption arc untuk Jumba.

 

Karakter lain yang berubah adalah Cobra Bubbles dari dinas sosial. Technically, karakternya di bagi dua, yang semula Lilo dikirim orang dinas sosial berklasifikasi khusus, kini Cobra Bubbles masih menjadi seorang agen CIA (tidak jadi pensiun), sedangkan karakter dari dinas sosial ada dalam bentuk Ibu Kekoa. We’re not gonna spoil it here, tapi endingnya walau berbeda, sekilas masih tetap sweet ending yang sama dengan animasinya. Satu hal yang kami agak sayangkan, overall action scenes dikurangkan jauh dibanding animasinya.

 

Lilo & Stitch (Source: Disney)

Lilo & Stitch (Source: Disney)

 

Perubahan lain ada pada karakterisasi Nani, yang kini diberikan beban emosional paling besar dalam film. Menjadi seorang yatim piatu yang harus menghidupi adiknya adalah hal yang sangat berat, tidak hanya untuk Nani, tapi juga banyak kakak di luar sana.

 

Di animasi, kita tidak diperlihatkan dengan jelas bagaimana susah payah Nani menghidupi dan menjaga adiknya. Simpelnya, kita hanya diperlihatkan sepak terjang Nani mencari kerja, tapi tidak dengan realita sebagai seorang anak yatim piatu yang mengasuh adik kandung.

 

Dengan adanya Ibu Kekoa, banyak adegan-adegan yang menggambarkan realitas rumit Nani tersebut. Pertahankan adiknya? atau lepaskan agar hidupnya lebih layak? Perubahan ini is a welcome change dan membuat filmnya menjadi emotionally heavy.

 

Lilo & Stitch (Source: Disney)

Lilo & Stitch (Source: Disney)

 

Now, let’s talk animationOverall, visual efek Lilo & Stitch live action top notch. Desain Stitch sendiri masih tetap sesuai dengan desain animasinya. Stitch terlihat real, seperti beneran ada namun tidak juga mengurangi aspek kartun yang ia miliki. Alhasil, tingkah pembuat onarnya masih otentik, lucu dan menggemaskan.

 

Bagaimana dengan alien-alien lain? Kinda of a mixed bag. Bahkan di adegan pembuka yang seluruhnya CGI, mereka masih tetap terlihat fake. Desainnya memang sama persis dengan desain animasinya, but they got that weird glow about them. CGI anehnya also applies to Dr. Jumba dan Agen Pleakley. Mungkin itu alasannya hampir 80% screentime mereka tidak pakai CGI dan lebih memilih pakai aktor aslinya. 

 

Kalau dari segi akting, Maia Kealoha dan Sydney Agudong perfectly captures Lilo & Nani. Maia amat sangat lucu, imut dan menggemaskan! Maialah salah satu alasan mengapa Stitch terlihat nyata. Interaksinya menangkap betul bagaimana interaksi seseorang yang dekat dengan hewan kesayangannya. I should know. I’m bestfriends with my two cats.

 

Lilo & Stitch (Source: Disney)

Lilo & Stitch (Source: Disney)

 

Akting Sydney Agudong juga elevates dilema hidup Nani. Lewat aktingnya kita bisa melihat bingungnya menjadi seorang anak yang harus dewasa sebelum waktunya. And Billy Magnussen….well he is a joy to look at as Agent Pleakley. Goofy side Magnussen tetap membuat karakter Pleakley otentik dan cartoonish

 

Personal opinion tapi Zach Galifianakis tidak cocok sebagai Jumba. Apalagi Jumba yang ini dijadikan main villain. Zach kurang terlihat mad scientist and lebih terlihat biasa saja. Walaupun Jumba animasi juga tidak terlihat villain-villain banget, dari awal memang bukan Jumba musuh dari Stitch. Seharusnya Jumba live action dibuat berbeda jauh karena perannya yang juga berubah total. 

 

Sebagai penutup, let me reiterate. I love this movie with all my heart. Sepanjang film, I kept weeping tears of joy. Walaupun beberapa aspeknya kurang, film ini hampir 100% captures the spirit of the original animation. Ceritanya masih sama, musik-musiknya masih sama, keindahan Hawaii masih sama dan semua karakternya, walaupun sekarang lebih nyata, in one ways or another, masih tetap berperilaku sama seperti yang kita selama ini ingat. Lilo & Stitch sejauh ini adalah live action remake terbaik yang pernah Disney buat.

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

11 − 9 =