Dalam Na Willa, sutradara Ryan Adriandhy tampaknya tidak sekadar ingin bercerita. Ia seperti sedang membuka sebuah kotak kenangan lama dan mengajak penonton mengintip isinya.
Berapa banyak memori masa kecil yang masih kalian ingat? Main layangan di lapangan dekat rumah. Adu kelereng sampai lupa waktu. Lari-larian di lapangan bola sampai akhirnya terdengar suara ibu memanggil dari dalam rumah. Bagi banyak orang, potongan-potongan kecil seperti itu biasanya sudah mulai kabur dimakan waktu. Namun Na Willa entah bagaimana berhasil menarik memori-memori itu kembali ke permukaan. Film ini dengan cukup piawai menangkap rasa menjadi anak-anak: rasa penasaran, kepolosan, dan kebahagiaan yang dulu bisa lahir dari hal-hal yang sangat sederhana.
Filmnya sendiri disampaikan dari sudut pandang anak perempuan berusia 6 tahun, Willa (Luisa Adreena). Tinggal di Surabaya tahun 60an, Willa memandang gang di mana rumahnya berada sebagai segalanya, dunia magis di mana lagu-lagu di radio terasa hidup, tiap toko menyimpan kejutan, dan teman-teman selalu siap diajak bertualang. Namun, ketika satu per satu temannya mulai bersekolah, Willa mendapati dunianya tak lagi seseru dulu. Ia pun memutuskan untuk masuk sekolah, berharap ia bisa menemui teman-temannya lagi dan menghidupkan kembali dunianya yang magis dulu.

Na Willa (Source: IMDB)
Sejak menit pertama, film ini sudah terasa magical. Visual identity-nya sungguh kuat. Gayanya terasa sangat Wes Anderson-esque, di mana warna-warna pop dominan, production design-nya penuh detail, dan cinematography-nya membuat setiap frame terasa seperti halaman buku ilustrasi yang hidup. Memang tidak selalu menggunakan framing simetris yang identik dengan Anderson, tetapi komposisi gambarnya tetap terasa sangat deliberate dan playful.
Setting Surabaya tahun 1960-an juga dibangun dengan sangat menarik. Rumah Na Willa menjadi salah satu highlight visualnya. Interiornya terasa era-appropriate, namun diberi sentuhan ilustratif yang penuh warna sehingga ruang tersebut terasa hangat sekaligus whimsical. Film ini bahkan menyisipkan ilustrasi kartun yang diambil langsung dari buku sumbernya sebagai elemen visual tambahan. Sentuhan kecil ini membuat dunia film terasa semakin unik, sekaligus menegaskan bahwa kita sedang melihat dunia dari perspektif seorang anak.
Film ini sendiri hasil adaptasi dari buku karya Reda Gaudiamo oleh Ryan Adriandhy. Bagi sebagian penonton, nama Ryan Adriandhy mungkin langsung memicu rasa penasaran, terutama setelah karya sebelumnya, Jumbo, berhasil menyentuh banyak penonton lewat cerita yang terasa seperti proses healing the inner child. Dalam konteks itu, Na Willa terasa seperti kelanjutan eksplorasi tema yang serupa: masa kecil, kenangan, dan cara anak-anak memahami dunia yang bagi orang dewasa sering terasa terlalu rumit.

Na Willa (Source: IMDB)
Willa adalah perwujudkan kepolosan anak-anak itu. Ia adalah tipe karakter yang sulit untuk tidak disukai. Ceplas-ceplos, penuh rasa ingin tahu, dan sering melontarkan pertanyaan polos yang justru terasa lucu sekaligus jujur. Cara ia mencoba memahami dunia sering terasa out of the box, persis seperti cara anak-anak menyusun logika mereka sendiri. Banyak humor film ini lahir dari kepolosan Na Willa tersebut, membuat tone filmnya terasa ringan dan innocent.
Hubungan antara Na Willa dan ibunya, Marie, menjadi jantung emosional film ini. Marie tidak digambarkan sebagai sosok ibu yang selalu benar atau selalu tahu jawabannya. Ia memiliki keraguan, rasa bersalah, dan konflik batin tentang bagaimana ia membesarkan anaknya. Justru kompleksitas itulah yang membuat karakternya terasa sangat manusiawi.
Bagi banyak penonton Indonesia, dinamika ini terasa sangat familiar. Terutama bagi mereka yang tumbuh dengan pola asuh tegas yang sering dijuluki secara bercanda sebagai gaya didikan “VOC”. Ada momen-momen kecil dalam interaksi mereka yang terasa sangat personal. Bahkan detail kecil seperti rambut Marie yang wavy entah kenapa bisa memicu nostalgia tersendiri. Hal-hal kecil seperti itu kadang tiba-tiba mengingatkan kita pada sosok ibu.

Na Willa (Source: IMDB)
Sebagai penonton yang tumbuh sebelum teknologi menjadi bagian dari keseharian anak-anak, melihat Na Willa dan teman-temannya bermain layangan, bermain kelereng, hingga belajar mengaji bersama terasa sangat nostalgic. Film ini secara halus mengingatkan kita pada masa ketika kebahagiaan datang dari hal-hal sederhana. Waktu kecil kita sering ingin cepat dewasa. Tapi setelah dewasa, sering kali yang kita inginkan justru sebaliknya: kembali menjadi anak-anak, meski hanya sebentar.
Dari sisi musik, film ini juga cukup berhasil memperkuat atmosfer tahun 1960-an yang ingin dibangun. Pilihan lagunya terasa tepat, mulai dari penyanyi era tersebut seperti Lilis Suryani hingga musisi modern seperti NonaRia yang membawa nuansa retro yang selaras dengan dunia filmnya. Film ini juga menghadirkan momen teatrikal lewat lagu Sikilku Iso Muni. Walaupun mungkin tidak seikonik Selalu Ada di Nadimu dari Jumbo, lagu ini tetap terasa catchy dan menyenangkan. Tidak berlebihan rasanya jika mengatakan bahwa lagu ini punya potensi menjadi semacam Lebaran earworm untuk anak-anak tahun ini.
Meski demikian, film ini bukan tanpa kekurangan. Salah satu yang cukup terasa adalah penggunaan bahasa Suroboyoan yang relatif minim. Mengingat setting ceritanya berada di Surabaya tahun 1960-an, penggunaan dialek lokal yang lebih intens mungkin bisa membuat dunia film terasa lebih autentik. Ada juga momen yang menyinggung isu rasisme, seperti ketika teman-teman Na Willa menertawakan namanya atau muncul panggilan seperti “asu cino”. Sayangnya, konflik ini hanya lewat begitu saja tanpa eksplorasi lebih jauh. Padahal jika digarap lebih dalam, tema tersebut sebenarnya memiliki potensi memberi dimensi emosional tambahan pada cerita.

Na Willa (Source: IMDB)
Dari segi ritme, film ini juga berjalan cukup lambat. Di satu sisi, pacing yang santai ini memberi ruang bagi penonton untuk benar-benar mengamati keseharian Na Willa. Kita diajak melihat bagaimana ia bermain, belajar, dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Namun di sisi lain, film ini juga terasa tidak memiliki konflik sentral yang benar-benar kuat.
Pada akhirnya, Na Willa terasa seperti sebuah slice-of-life film. Kita tidak sedang mengikuti satu konflik besar, melainkan menyaksikan potongan-potongan kecil kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian penonton, pendekatan ini mungkin terasa hangat dan intimate. Tetapi bagi yang mengharapkan alur cerita yang lebih kuat, ritme film yang lambat ini kadang bisa terasa sedikit membosankan. Namun mungkin justru di situlah letak pesonanya. Dengan membiarkan cerita mengalir tanpa konflik besar, Na Willa terasa seperti kumpulan fragmen kenangan masa kecil. Momen-momen sederhana yang mungkin terlihat kecil, tetapi sering kali menjadi hal yang paling membekas ketika kita sudah dewasa.
Pada akhirnya, Na Willa bukan film yang mencoba menjadi spektakuler. Ia hanya ingin mengajak kita berhenti sebentar, menoleh ke belakang, dan mengingat masa ketika hidup terasa jauh lebih sederhana. Masa ketika bermain di lapangan bersama teman-teman sudah cukup untuk membuat satu hari terasa sempurna. Dan mungkin setelah menonton film ini, kita akan menyadari satu hal kecil: Sebagian dari diri kita sebenarnya masih ingin kembali ke masa itu.






