Kalau melihat perkembangan film Indonesia beberapa tahun terakhir, rasanya makin sulit untuk tidak optimis. Genre yang dulu terasa “mustahil” diproduksi secara lokal kini mulai dicoba satu per satu. Horror sudah mapan, drama keluarga selalu punya tempat, animasi mulai menemukan jalannya, dan sekarang—pelan tapi pasti—sci-fi juga mulai berani digarap oleh sineas lokal. Pelangi di Mars menjadi salah satu contoh paling jelas dari keberanian itu.
Dilihat dari perspektif industri, film ini terasa seperti tanda bahwa perfilman Indonesia sedang naik level. Namun, bukan berarti kualitas teknisnya sudah bisa langsung dibandingkan dengan Hollywood atau bahkan beberapa film sci-fi Asia yang lebih mapan. The CGI still needs a lot of improvement. Still, keberanian membuat film petualangan sci-fi yang sebagian besar settingnya berada di planet lain tetap terasa seperti langkah besar.
Film ini berlatar tahun 2090, ketika kondisi Bumi sudah tidak lagi layak huni akibat krisis air bersih yang dimonopoli oleh sebuah perusahaan besar bernama Nerotex. Situasi ini sempat memaksa manusia membangun koloni di Planet Mars sebagai upaya bertahan hidup. Namun, seiring waktu, koloni tersebut akhirnya ditinggalkan, menyisakan berbagai fasilitas dan robot yang terbengkalai di planet merah itu.

Pelangi di Mars (Source: IMDB)
Cerita kemudian berfokus pada Pelangi (Messi Gusti), seorang gadis berusia 12 tahun yang memiliki status unik sebagai manusia pertama yang lahir dan tumbuh besar di Mars—bahkan setelah sebagian besar manusia meninggalkan planet tersebut. Sejak kecil, Pelangi menjalani hidupnya hampir sendirian di Mars, bertahan di tengah dunia yang perlahan menjadi sunyi.
Di planet yang hampir kosong itu, Pelangi ditemani oleh robot-robot rusak yang dulu ditinggalkan manusia. Bersama mereka, ia menjelajahi Mars sekaligus terlibat dalam misi mencari mineral langka bernama Zeolith Omega. Material tersebut diyakini mampu memurnikan air dan mungkin menjadi harapan terakhir untuk menyelamatkan Bumi dari krisis air bersih.
Kalau membahas dunianya, worldbuilding Pelangi di Mars sebenarnya cukup menarik. Film ini membangun gambaran masa depan di mana krisis lingkungan dan kekuasaan korporasi menjadi ancaman besar bagi umat manusia. Premisnya memang bukan sesuatu yang benar-benar baru bagi penggemar sci-fi, tetapi film ini tetap mencoba memberi sentuhannya. Konflik korporasi seperti Nerotex sendiri terasa seperti trope klasik sci-fi—sedikit mengingatkan pada perusahaan rakus di universe Alien dengan Weyland-Yutani-nya.

Pelangi di Mars (Source: IMDB)
Sayangnya, meskipun dunianya menarik, karakter manusianya terasa masih kurang digali. Pelangi sebagai karakter utama sebenarnya memiliki potensi emosi yang besar, tetapi film ini tidak benar-benar mengeksplorasi kepribadian maupun konflik batinnya lebih dalam. Bahkan kubu antagonisnya pun terasa kurang diberi ruang untuk berkembang.
Ironisnya, dari beberapa momen kecil justru terlihat bahwa film ini sebenarnya memiliki fondasi emosional yang cukup kuat. Salah satunya datang dari karakter Pratiwi yang diperankan oleh Lutesha. Walaupun durasi kemunculannya tidak terlalu panjang, akting Lutesha terasa natural dan hangat. Chemistrynya dengan Pelangi kecil juga cukup terasa, sehingga hubungan ibu–anak yang menjadi fondasi emosional cerita tetap believable. Justru karena momen-momen ini bekerja dengan baik, rasanya sedikit disayangkan filmnya tidak memberi ruang lebih panjang untuk mengeksplorasi hubungan mereka.
Di sisi lain, yang justru paling menyenangkan untuk diikuti, adalah para robot teman Pelangi. Masing-masing memiliki personality yang berbeda dan sedikit backstory. Memang pengembangannya juga belum terlalu dalam, tetapi interaksi antara Pelangi dan para robot ini tetap terasa hangat. The chemistry works. Kita bisa percaya bahwa mereka benar-benar menjadi semacam “keluarga kecil” yang menemani Pelangi bertahan hidup di Mars.

Pelangi di Mars (Source: IMDB)
Humor film ini juga surprisingly cukup berhasil. Banyak leluconnya terasa sangat dekat dengan kultur internet Indonesia saat ini. Ada robot bernama Petya yang digambarkan seperti host TikTok dengan kalimat khas “checkout keranjang kuning”, sampai karakter Kimchi yang tergila-gila media sosial. Referensi seperti ini mungkin terasa absurd, tetapi justru itulah yang membuat filmnya terasa hidup. It’s very +62 coded humor dan bagi penonton Indonesia rasanya cukup mudah untuk connect dengan lelucon-lelucon tersebut.
Secara teknis, penggunaan teknologi XR (Extended Reality) di film ini juga patut diapresiasi. Environment Mars yang dibangun lewat CGI terlihat cukup meyakinkan untuk ukuran produksi lokal. Karakter Pelangi sebagai aktor live-action juga lumayan bisa menyatu dengan lingkungan CGI di sekitarnya—sesuatu yang sebenarnya tidak mudah dilakukan. Secara visual memang belum bisa dibilang spektakuler, tetapi tetap cukup believable untuk standar film lokal.
Art design dunia Mars mungkin terasa agak generik, tetapi desain karakter robotnya justru menjadi salah satu highlight film ini. Setiap robot memiliki bentuk dan animasi yang berbeda sehingga terasa memiliki personality masing-masing. Motion capture pada robot juga terlihat cukup halus. Sayangnya, ada beberapa momen di mana gerakan karakter Pelangi terasa agak kaku, seolah tidak menggunakan motion capture yang sama seperti para robot. Dalam beberapa adegan, animasinya terasa tidak seluwes karakter digital di sekitarnya, sehingga kadang terlihat seperti mereka tidak benar-benar berada di ruang yang sama.

Pelangi di Mars (Source: IMDB)
Di saat yang sama, kualitas graphics environment-nya juga kadang tidak konsisten. Ada shot Mars yang terlihat cukup solid, tetapi di momen lain teksturnya terasa agak low-res, bahkan seperti belum sepenuhnya selesai dirender. Sebagai seorang gamer yang cukup sering memperhatikan detail kecil pada CGI environment, hal-hal seperti ini jadi lumayan mudah terlihat. But, to be fair, kemungkinan besar penonton awam—apalagi anak-anak—mungkin tidak akan terlalu terganggu oleh hal tersebut. Bagi mereka, dunia Mars yang ditampilkan film ini kemungkinan tetap terasa cukup imajinatif dan menyenangkan untuk diikuti.
Dari segi tema, film ini membawa pesan yang cukup jelas: pentingnya menjaga Bumi dan nilai kepercayaan. Pesan ini sebenarnya tersampaikan dengan cukup baik sepanjang film. Pelangi di Mars seolah ingin mengingatkan bahwa eksplorasi luar angkasa bukanlah solusi instan jika manusia sendiri masih merusak planet tempat mereka berasal. Masalahnya ada di bagian cerita. Plotnya sendiri terasa masih cukup standar. Banyak konflik yang terselesaikan terlalu mudah, bahkan beberapa terasa agak unbelievable jika dipikir lebih jauh. Plot armor juga terasa cukup tebal, terutama menjelang klimaks. Scene perangnya sendiri sayangnya tidak terasa setegang yang diharapkan. Alih-alih intens, beberapa bagian justru terasa agak canggung—like watching someone play a video game on very easy mode.
Terlepas dari semua kekurangannya, Pelangi di Mars tetap terasa penting bagi perkembangan film Indonesia. Film ini memang belum sempurna. The storytelling still needs polishing, the character development could go deeper, and the spectacle could be stronger. Tetapi sebagai langkah menuju genre sci-fi yang lebih serius dalam perfilman Indonesia, film ini tetap terasa seperti langkah yang cukup berani. Karena pada akhirnya, dalam perkembangan industri film, yang paling penting bukan hanya seberapa sempurna sebuah film dibuat, tetapi juga seberapa berani sebuah industri mencoba sesuatu yang baru. Dan dalam hal itu, Pelangi di Mars berhasil menunjukkan satu hal: masa depan film Indonesia mungkin jauh lebih besar dari yang dulu kita bayangkan.






