Beberapa waktu terakhir, potongan-potongan film semakin sering berseliweran di TikTok. Cuplikan adegan yang dipotong oleh uploader, biasanya dengan tujuan sederhana: mengejar views dan likes. Kadang hanya satu adegan dramatis. Kadang satu punchline yang kuat. Kadang juga potongan cerita yang, jika ditonton berurutan, hampir terasa seperti menonton filmnya secara utuh.
Dari sudut pandang produsen film, praktik seperti ini tentu bisa dianggap sebagai bentuk pembajakan. Apalagi jika film yang masih tayang di bioskop sudah diunggah sepotong-sepotong ke media sosial. Namun dari sudut pandang penonton, ceritanya bisa sedikit berbeda. Potongan-potongan itu sering kali justru menjadi pintu pertama untuk menemukan film yang sebelumnya tidak pernah kita dengar.
Itulah yang terjadi dengan I Swear. Sebelum pemeran utamanya, Robert Aramayo, memenangkan penghargaan Best Actor di BAFTA Awards, beberapa adegan film ini cukup sering lewat di FYP saya. Tanpa TikTok, kemungkinan besar saya tidak akan pernah tahu film ini ada. Jadi, mungkin semuanya memang soal perspektif. Bagi sebagian orang itu pembajakan. Bagi saya, itu semacam faux marketing. Either way, it worked. Saya jadi menonton filmnya, dan akhirnya bisa menulis ulasan ini.

I Swear (Source: IMDB)
Film ini mengangkat kisah nyata John Davidson, seorang penderita sekaligus aktivis Tourette Syndrome, dan bagaimana hidupnya berubah drastis ketika kondisi tersebut mulai muncul.
Yang membuat cerita John terasa semakin tragis adalah fakta bahwa ia tidak mengidap Tourette sejak kecil. Hingga lulus SMP, hidupnya berjalan relatif normal. Ia bahkan memiliki potensi untuk mendapatkan beasiswa sebagai penjaga gawang profesional. Namun semuanya berubah ketika gejala Tourette mulai muncul. Awalnya hanya berupa gerakan leher yang terjadi secara involuntary. Perlahan, gejalanya berkembang menjadi tic yang semakin sulit dikendalikan, hingga akhirnya John mulai mengumpat tanpa bisa menahannya.
Dua puluh menit pertama film ini terasa cukup pilu. Pada era 1980-an, Tourette Syndrome hampir tidak dikenal oleh masyarakat umum. Setiap kali John secara refleks mengumpat atau bahkan meludah tanpa sengaja, ia selalu langsung meminta maaf. Namun bagi orang-orang di sekitarnya, kata-kata itu tetap terdengar sebagai penghinaan yang disengaja.

I Swear (Source: IMDB)
Menariknya, sutradara Kirk Jones tidak mencoba memposisikan orang-orang di sekitar John sebagai antagonis. Ketidaktahuan mereka ditampilkan secara sederhana dan apa adanya. Film ini secara halus menunjukkan satu hal yang sering terjadi dalam kehidupan nyata: betapa cepatnya manusia menghakimi sesuatu yang tidak mereka pahami.
Ketika John beranjak dewasa, film ini mulai menyisipkan sedikit humor dalam cara ia menggambarkan Tourette. Umpatan-umpatan yang tiba-tiba keluar memang kasar, tetapi kadang justru terasa jujur bagi orang yang mendengarnya. Pada saat yang sama, kita juga melihat bagaimana John berusaha keras menahan tic-nya di situasi sosial tertentu—usaha yang hampir selalu berakhir dengan kegagalan.
Di sinilah performa Robert Aramayo terasa sangat menonjol. Ia berhasil menampilkan kompleksitas kondisi John dengan sangat meyakinkan. Ekspresi wajahnya dapat berubah dalam hitungan detik, mengikuti ritme Tourette yang tidak bisa diprediksi. Hal yang sama juga berlaku pada Scott Ellis Watson, yang memerankan John kecil dengan performa yang sama kuatnya. Keduanya berhasil membuat penonton hampir lupa bahwa mereka sebenarnya tidak mengidap kondisi tersebut.
Film ini juga diperkuat oleh jajaran pemain pendukung yang solid. Shirley Henderson, yang mungkin banyak dikenal lewat Harry Potter and the Goblet of Fire, memerankan Heather, ibu John. Karakter Heather terasa cukup kompleks. Ia digambarkan seolah merasa lebih menderita daripada anaknya sendiri, karena kondisi John membuat hidupnya ikut berubah secara drastis.

I Swear (Source: IMDB)
Di sisi lain ada Maxine Peake, yang dikenal lewat Black Mirror, sebagai Dottie. Jika Heather adalah karakter yang dipenuhi frustrasi, maka Dottie justru menjadi semacam penyeimbang emosional. Karena ia sendiri hidup dengan penyakit serius, Dottie mampu memahami John dengan cara yang jauh lebih empatik. Dua karakter ini seperti magnet dengan dua kutub berbeda, menawarkan perspektif berbeda bagi penonton untuk memahami kondisi John.
Selain itu ada juga Tommy, bos John di community center, yang menjadi salah satu orang pertama yang mencoba mentolerir kondisinya.
Salah satu kekuatan utama I Swear adalah bagaimana film ini memperlakukan Tourette bukan sekadar sebagai kondisi medis. Film ini memperlihatkan bagaimana kondisi tersebut memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan sosial penderitanya. Bukan hanya soal tic atau umpatan yang keluar tanpa kontrol, tetapi juga bagaimana masyarakat meresponsnya dengan kebingungan, ketakutan, atau bahkan kemarahan.
Dari sisi penyutradaraan, Kirk Jones memilih pendekatan yang relatif sederhana. Ia tidak mencoba membuat film ini terasa terlalu melodramatis. Banyak adegan dibiarkan berjalan dengan ritme yang tenang, memberi ruang bagi penonton untuk merasakan ketidaknyamanan sosial yang dialami John dalam kesehariannya. Pendekatan yang restrained ini membuat film terasa lebih jujur, meskipun pada beberapa bagian ritmenya mungkin terasa sedikit lambat.

I Swear (Source: IMDB)
Sinematografinya juga cukup membantu membangun atmosfer tersebut. Lanskap kota kecil di Skotlandia digambarkan dengan hangat tanpa terasa terlalu romantis. Atmosfer small-town ini bekerja dengan baik, membuat perjalanan John terasa lebih personal dan membumi.
Hal lain yang patut diapresiasi adalah bagaimana film ini tidak mencoba memberikan resolusi yang terlalu rapi. Tourette Syndrome tidak tiba-tiba “disembuhkan”, dan kehidupan John tidak mendadak menjadi sempurna. Sebaliknya, film ini lebih menekankan proses penerimaan, baik dari John sendiri maupun dari orang-orang di sekitarnya. Dalam banyak hal, film ini lebih berbicara tentang acceptance daripada victory.
Secara keseluruhan, I Swear adalah drama yang sangat solid. Performa Robert Aramayo memang terasa pantas mendapatkan penghargaan BAFTA yang ia terima. Filmnya sendiri membawa nuansa klasik drama Inggris: kota kecil yang indah, karakter-karakter dengan personality yang kuat, serta aksen Skotlandia yang memberikan warna tersendiri pada keseluruhan pengalaman menonton.

I Swear (Source: IMDB)
Mungkin satu catatan kecil muncul pada beberapa adegan yang seharusnya terasa sangat serius. Tics John terkadang justru sedikit mengurangi intensitas emosional adegan tersebut. Namun di sisi lain, itulah juga realitas dari Tourette itu sendiri: tidak bisa diprediksi, tidak bisa dikontrol, dan sering kali muncul di saat yang paling tidak tepat.
Pada akhirnya, I Swear mungkin bukan film yang spektakuler secara sinematik. Tetapi film ini membawa satu hal yang jauh lebih sulit untuk dipalsukan: kejujuran emosional. Dalam cerita tentang seseorang yang hidup dengan kondisi yang sering disalahpahami, kejujuran seperti itu terasa jauh lebih berharga daripada sekadar drama yang besar dan bombastis.






