Spider-Man: Brand New Day

Review Spider-Man: Brand New Day, Lebih Emosional Dibanding Sebelumnya

Film Spider-Man: Brand New Day bukan tentang menyelamatkan dunia, melainkan tentang belajar hidup kembali setelah kehilangan segalanya. Kalau Spider-Man: No Way Home adalah puncak perjalanan Peter Parker sebagai superhero, maka Spider-Man: Brand New Day terasa seperti titik nol. Tidak ada suit yang dibuat oleh Stark Industry seperti di Homecoming, terasa seperti Riri William yang merakit sendiri senjatanya pada series Ironheart.

 

Film ini membawa Peter kembali menjadi sosok Friendly Neighborhood Spider-Man yang sederhana, tanpa Avengers, tanpa multiverse. Bahkan bisa dibilang tanpa orang-orang yang dulu mengenal dirinya. Dan justru di situlah kekuatan film ini. Keputusan untuk memperkecil skala cerita adalah langkah yang tepat. Marvel tidak mencoba mengulang kemegahan No Way Home. Sebaliknya, mereka membiarkan Peter Parker berdiri sendirian, menghadapi konsekuensi dari keputusan yang pernah ia ambil.

 

Peter Parker masih Spider-Man, tetapi kini ia harus memulai semuanya dari awal. Tidak ada lagi teman yang mengingatnya, tidak ada keluarga yang bisa menjadi tempat pulang, dan tidak ada sosok mentor yang selalu siap membantunya. Semua keputusan harus ia ambil sendiri. Tom Holland berhasil memberikan salah satu penampilan terbaiknya tidak hanya bermain sebagai Spider-Man, tetapi benar-benar memperlihatkan rapuhnya Peter Parker sebagai manusia setelah menyadari tidak ada yang mengenal dirinya pasca-No Way Home.

 

Meski kembali ke ranah street level, film ini tidak melupakan untuk memberikan adegan swinging di kota New York yang mana terlihat lebih mirip seperti game Marvel’s Spider-Man. Bahkan, cara bertarung Spider-Man di sini juga memiliki koreografi yang amat sangat mirip dengan game-nya. Rasanya seperti membuat gerakan game animated menjadi real live-action. 

 

Tidak lupa lagi dengan dynamic duo dari Spidey-Punisher. Tidak disangka, interaksi antara kedua karakter ini menjadi comic-relief sepanjang film. Meskipun Jon Bernthal sebagai Punisher sudah di-develop sejak series Netflix dan comeback pada Daredevil: Born Again, pada film layar lebarnya sedikit diceritakan masa lalunya secara subtle tanpa harus preachy.

 

Film ini terlihat lebih fokus pada drama seperti krisi jati diri Spider-Man dan Peter Parker, hubungan Peter dengan kedua temannya yang sudah melupakannya, Frank Castle yang menjadi sosok side-kick, hingga karakter yang diperankan Sadie Sink sebagai pusat utama cerita film ini. Bahkan ada satu adegan di mana villain utama karakter ini mengacak-acak emosi Peter Parker dengan jahatnya. Di mana awalnya kita akan berpikir bahwa ini lazy writing, ternyata kita dikejutkan dengan revelation kejahatan villain utama di film ini sebegitu sadisnya bermain dengan perasaan Peter Parker yang sudah rapuh ini.

 

Ditambah lagi dengan Peter Parker mengalami krisis jati diri. Jika pada Spider-Man 2 dari Tobey Maguire kehilangan superpower-nya, di sini Spider-Man Tom Holland malah memiliki kemampuan organic web seperti Tobey Maguire serta kehilangan kontrol kekuatannya seperti ketika Tobey menjadi Venom. Di sinilah menariknya bagaimana cara Peter Parker mampu menerima dirinya bisa mengekspresikan DNA Spider-Man dan kemanusiaannya, tanpa perlu ditekan seperti Bruce Banner mencoba menekan Hulk dengan inhibitor.

 

Kalaupun diharuskan menyebutkan kekurangan, film ini terkadang terlalu larut dalam drama kesepian Peter Parker sehingga ritmenya sedikit melambat. Treatment character development Peter Parker mirip dengan bagaimana Destin Daniel Cretton membuat Shang-Chi dan eksekusi awal hingga closure dari villain utamanya juga mirip dengan bagaimana Jake Schreier membuat Thunderbolts. 

 

Kemudian, pertanyaan yang selalu ditanya adalah apakah film ini terkoneksi langsung dengan rangkaian film-film MCU sebelumnya? Jawabannya adalah iya dikarenakan adanya cameo yang cukup besar sebagai penyambung cerita dan ditutup dengan after-credit yang sepertinya tersambung dengan Avengers: Doomsday, meskipun Tom Holland belum resmi diumumkan berada di film tersebut. Tapi, ada kemungkinan di-setup untuk film Spider-Man selanjutnya yang berdampak dari film Avengers: Doomsday, sama seperti Far From Home memulai ceritanya setelah dampak dari Avengers: Endgame.

 

Terakhir, hadirnya for Revenge sebagai pengisi original song untuk Spider-Man: Brand New Day. Band asal Indonesia tersebut merilis lagu berjudul “I Miss You Every Brand New Day”, sebuah kolaborasi resmi dengan Sony Music dan Sony Pictures yang lahir karena karya-karya for Revenge dinilai memiliki warna emosional yang sejalan dengan perjalanan Peter Parker di film ini.

 

Pada akhirnya, film ini bukan tentang tanggung jawab besar yang didapat dari kekuatan besar. Tapi, soal bagaimana Peter Parker berani untuk memulai sesuatu yang baru dan move on dari kegelisahannya selama ini. Seperti judulnya, ini adalah Brand New Day untuk Tom Holland sebagai Peter Parker sekaligus Spider-Man di MCU.

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

15 + 1 =