Evil Dead Burn (Source: IMDB)

Review Evil Dead Burn: Ini Franchise Horor Gak Mati-Mati

Evil Dead sudah menjadi salah satu franchise horror yang tidak pernah habis masanya. Apa pun eranya dan siapa pun sutradaranya, selalu ada cara baru untuk membuat deadites kembali terasa mengerikan. Kini giliran Sébastien Vaniček yang membawa kutukan itu ke arah yang lebih mencekam, lebih sadis, dan lebih personal lewat Evil Dead Burn.

 

Evil Dead Burn hadir dengan energi yang liar, brutal, dan tanpa ampun. Rentetan gore yang intens dari awal hingga akhir terasa seperti sebuah lukisan bergerak, dengan setiap semburan darah bak sapuan kuas di atas layar. Ia membawa franchise ini melampaui sekadar kisah tentang kitab Necronomicon dan mantra petaka. 

 

Di balik segala kengeriannya, film ini mencoba memberi bobot emosional lewat eksplorasi tentang kekerasan rumah tangga dan relasi yang toxic. Direksi tersebut menjadikan teror Evil Dead Burn tidak hanya datang dari para Deadite, tetapi juga datang dari ranah yang lebih personal, keluarga.  Lebihj jelasnya, kisah film ini ingin menunjukkan bagaimana keluarga, orang yang kita cintai, menjelma menjadi luka yang traumatis.

 

Evil Dead Burn (Source: IMDB)

Evil Dead Burn (Source: IMDB)

 

Kisah tersebut disampaikan dari sudut pandang Alice (Souheila Yacoub), seorang wanita yang berduka akibat kematian tragis suaminya. Untuk mencari ketenangan, ia mengunjungi rumah keluarga mertuanya di daerah terpencil. Sayangnya, liburan Alice tersebut berubah menjadi neraka dunia saat buku terkutuk Necronomicon Ex-Mortis memicu teror brutal, merasuki anggota keluarga Alice menjadi Deadite.

 

Satu hal yang membuat saya cukup menyukai sentuhan emosional di film ini, adalah latar belakang Alice. Ia adalah korban kekerasan mendiang suaminya. Nah, belum selesai ia berurusan dengan duka dan trauma tersebut, ia sudah terseret ke dalam medan pertempuran yang menuntut darah dan kematian. Gara-garanya, keluarga suaminya juga sama-sama gak waras.

 

Hal tersebut membuat tantangan yang  dihadapi Alice bukan hanya menjadi survivor dalam melawan Deadite, tetapi juga keluarga yang sejak awal telah menjadi sumber ketakutan dalam hidupnya.  Walhasil, teror supernatural yang hadir terasa seperti perpanjangan dari luka batin yang selama ini Alice pendam, membuat perjuangannya lebih challenging dan memiliki bobot emosional yang lebih kuat.

 

Evil Dead Burn (Source: IMDB)

Evil Dead Burn (Source: IMDB)

 

Sayang, ceritanya tersebut masih belum mampu mengimbangi elemen gore-nya maupun aspek teknisnya sendiri. Eksplorasi temanya memang menarik, tetapi narasinya sedikit berantakan, development nya terasa lemah, pendalaman karakternya kurang maksimal, dan adegan pembunuhan di akhir terlalu dramatis hingga mengurangi intensitas brutalnya. Dan, sosok Deadite yang mirip seperti final boss di klimaks memberi kesan yang cukup aneh.

 

Secara visual, film ini memiliki cinematography yang agresif dan berenergi, dilihat dari bagaimana kamera terus bergerak mengikuti kekacauan. Hal itu dipadukan dengan pencahayaan yang muram serta komposisi gambar yang membuat setiap ruang terasa sempit dan claustrophobic.

 

Practical effects dan makeup gore juga punya peran penting di aspek visual itu. Setiap semburan darah, luka, dan transformasi Deadites terlihat begitu real sekaligus menjijikkan. Potongan kepala hingga wajah yang hancur pun menghiasi film bak gorefest, Ditambah scoring yang efektif untuk membangun suspense, setiap siksaan di Evil Dead Burn terasa memekik dan mencekik.

 

Evil Dead Burn (Source: IMDB)

Evil Dead Burn (Source: IMDB)

 

Semua kebrutalan itu disampaikan dengan pacing yang cepat dan intense. Hal itu membuat  teror film berdurasi 1 jam 51 menit ini terasa seperti medan bertahan hidup yang memacu adrenaline dan berdarah-darah. Sesekali humor tipis diselipkan sebagai perada ketegangan, namun hal itu tidak  mengganggu kengeriannya.  Atmosfer film ini tetap terasa mencekam, dipenuhi rasa keputusasaan dan karakter-karakter yang beradu antara luka personal mereka dengan kegilaan di luar nalar. Sébastien Vaniček tahu betul bagaimana caranya membuat penonton merasa gak nyaman, mual, ngeri, takut, sekaligus berempati sama karakternya. 

 

Overall, Evil Dead Burn hadir sebagai tontonan yang begitu memuaskan bagi penikmat gore. Sébastien Vaniček memiliki caranya sendiri untuk membuat film ini tetap identik dengan franchise Evil Dead, memadukan kegilaan visual, element gruesome yang raw, practical effects yang menjijikkan, para Deadites yang sadis, dan pendekatan horror yang suram dan personal. Meski menurut saya sendiri belum mampu melampaui Evil Dead (2013) karya Fede Alvarez, Burn tetap menjadi entri yang solid bagi franchise ini dan membuktikan bahwa Evil Dead masih punya banyak cara untuk berevolusi dan tetap hidup sebagai franchise horror yang ikonik.

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

five × 3 =