The Odyssey adalah bukti Christopher Nolan adalah salah satu sutradara paling versatile di industry. Bagaimana tidak, meski The Odyssey jauh dari kesan sci-fi yang lekat dengannya, Nolan tetap mampu mengadaptasinya menjadi sebuah epic yang megah, magis, sekaligus ramah penonton. It’s not an easy task!
Hebatnya lagi, The Odyssey tetap terasa sangat Nolan. Obsesi Nolan terhadap permainan waktu, visual realistis namun tetap stylish, hingga narasi non-linear masih menjadi DNA film ini. His fingerprints are all over the frame.
Walau begitu, sulit untuk mengatakan ini karya terbaik Nolan. The Odyssey memiliki beberapa kekurangan yang membuatnya tak sahih disebut “Peak Nolan”. Bukan bermaksud mengatakan film ini underwhelming, tapi ada beberapa direksi Nolan yang membuat film ini gagal tampil maksimal.

The Odyssey (Source: IMDB)
Adapun The Odyssey adalah film kesekian yang mengadaptasi puisi berjudul sama karya penyair Yunani, Homer. Lebih tepatnya, Nolan mengadaptasi translasi The Odyssey karya Emily Wilson yang dirilis pada 2017. Sebagai catatan, Emily Wilson adalah perempuan pertama yang menerjemahkan The Odyssey.
Secara garis besar, adaptasi Nolan tidak berbeda dengan sumber aslinya. Fokusnya tetap pada menceritakan perjalanan pulang Raja Ithaca, Odysseus (Matt Damon), setelah menuntaskan Perang Troya bersma Agamemnon (Benny Safdie) dan Menelaus (Jon Bernthal).
Namun, perjalanan pulang yang seharusnya singkat berubah menjadi pengembaraan dua dekade. Odysseus dihukum para Dewa Olympus atas dosa-dosanya selama dan sesudah Perang Troya.

The Odyssey (Source: IMDB)
Sementara Odysseus terombang-ambing menghadapi Cyclops, penyihir, monster, hingga dunia arwah, Ithaca berada di ambang krisis. Istri dan anaknya, Penelope (Anne Hathaway) dan Telemachus (Tom Holland) bertahan dari 108 peminang yang ingin merebut takhta, dipimpin Antinous (Robert Pattinson) yang mengkhianati kepercayaan Odysseus.
Penelope dan Telemachus tidak punya pilihan selain mengulur waktu sembari mencari kepastian akan status Odysseus. Sementara itu, Antinous dan komplotannya merencanakan kudeta jika Penelope enggan dipinang, membuat situasi di Ithaca kian genting.
Kisah epik seperti di atas tentunya membutuhkan delivery yang sama epiknya. And, boy oh boy, this movie delivers! Kembali menggandeng Hoyte von Hoytema (Interstellar, Oppenheimer) sebagai cinematographer, Nolan menjadikan The Odyssey sebagai karyanya yang paling megah dan picture-esque.
Seperti biasa, Nolan menolak jalan pintas CGI berlebihan. Syuting di lokasi nyata, penggunaan practical effect, hingga animatronic membuat setiap badai, pulau, dan monster yang dihadapi Odysseus terasa convincing dan berbobot. Ketika Odysseus dihantam ombak, berhadapan dengan Polyphemus, atau berkunjung ke alam arwah, penonton ikut merasakan atmosfer dan ancamannya.

The Odyssey (Source: IMDB)
Perihal atmosfer, Nolan banyak menggunakan karya Kurosawa sebagai referensinya. Salah satunya adalah Ran. Nolan ingin cuaca memiliki peran integral dalam kisah Odysseus sebagaimanya halnya di film Kurosawa. Menurut Nolan, reaksi alam kerap dipandang sebagai perwujudan dewa di masa lampau sehingga ia harus bisa menggambarkannya dengan tepat.
Aspek visual itu kian komplit dengan digunakannya kamera IMAX terbaru, “Keighley”, untuk shooting. Hal itu memungkinkan The Odyssey menampilkan scope serta kualitas visual yang lebih massif dan tajam. Bahkan, The Odyssey menjadi film pertama yang sepenuhnya di-shoot dengan kamera IMAX tersebut.
Tentu visualisasi yang apik itu akan hambar tanpa audio yang mumpuni. Nolan kembali menggaet Ludwig Gorranson (Black Panther, Oppenheimer) untuk sector tersebut.
Gubahannya sukses membangun nuansa yang otherworldly yet intimate dan gentle, terutama pada sequence underworld yang menjadi salah satu highlight film ini. Walau begitu, gubahan Goransson kali ini tidak memiliki leitmotif yang benar-benar melekat di kepala.

The Odyssey (Source: IMDB)
Bicara soal hal-hal yang non-memorable, laga di film ini masuk kategori tersebut. Tidak sedikit adegan laga yang tidak well-choreographed ataupun well-shot. Salah satunya ada pada pertarungan Odysseus dan pasukannya dengan para raksasa Laestrygonian. Walau Nolan sudah menunjukkan progress yang signifikan sejak Inception, terlihat jelas ia masih gagap di sektor ini.
Di luar aspek teknis, The Odyssey mulai terasa mixed. Salah satu kekurangan ada pada keputusan Nolan untuk memangkas bagian-bagian penting pada epik ini. Misalnya tipuan “Nobody” pada pertemuan Odysseus dan Polyphemus.
Dalam puisi Homer, momen tersebut bukan sekadar pertunjukkan kecerdasan Odysseus dalam mengelabui Polyphemus, tetapi fondasi yang memicu amarah Poseidon untuk menundukkannya. Hilangnya rangkaian peristiwa tersebut membuat konsekuensi kecerdikan Odysseus kurang menggigit dan mereduksi keangkuhannya.
Nah, karakter angkuh Odysseus ini juga dipangkas Nolan, walau tidak dibabat habis. Karya Homer sejatinya disampaikan sebagai pesan tentang keangkuhan, kegigihan, dan penyambutan. Hal itu dikarenakan Odysseus adalah sosok pahlawan yang cerdas dan glory-seeker. Kalau zaman sekarang, mungkin Odysseus adalah apa yang disebut sebagai seorang Alpha.
Meski angkuh, Odysseus adalah sosok yang gigih. Ketika dia sudah menginginkan sesuatu, dia akan melakukan apapun untuk mencapainya, tak terkecuali menantang dewa. Hal itu lah yang membuatnya commit untuk pulang ke Ithaca, bahkan ketika dihukum para dewa, kehilangan seluruh pasukannya, dan pada satu titik digoda untuk melupakan keluarganya.

The Odyssey (Source: IMDB)
Odysseus versi Matt Damon bukan pemburu kejayaan. Direksi Nolan menjadikannya sosok yang lebih gentle, humble, dan complicated. Meski dia tidak takut untuk “defy the gods”, sepanjang film ia dihantui rasa bersalah atas apa yang ia lakukan di Troya. Dia sadar telah melanggar aturan Zeus dengan menginvasi Troya via patung kuda yang diklaim sebagai “peace offering”.
Saya memiliki beberapa dugaan kenapa Nolan memilih direksi yang lebih rendah hati tersebut. Pertama, karena Nolan memakai translasi Emily Wilson yang tidak menglorifikasi perang. Walhasil, Odysseus menjadi sosok yang lebih mempertanyakan konsekuensi aksinya dibanding pahlawan perang yang being humbled by the gods.
Dugaan kedua, karena Nolan memang tidak memiliki niatan untuk mengadaptasi The Odyssey secara faithful. Ia lebih memposisikan the Odyssey sebagai intepretasinya atas karya Homer sebagaimana Emerald Fennell memposisikan adaptasi Wuthering Heigths-nya sebagai “roman picisan” karena intepretasi pribadinya.
Kami jujur condong pada dugaan kedua. Apalagi, melihat keputusan Nolan untuk menggunakan bahasa prokem pada dialog-dialog the Odyssey. Hal itu diperkuat dengan pemilihan aksen Amerika sebagai aksen utama film ini, bukan aksen Yunani atau yang menyerupai.
Puncaknya, absennya aktor Yunani asli maupun keturunan dalam jajaran cast utamanya. Sungguh ironis mengingat pemerintah Yunani mengeluarkan 6,5 juta Euro dari APBN mereka untuk mendukung produksi film ini. Ini ibarat bikin koperasi di desa tapi nggak melibatkan masyarakat desanya #oops.

The Odyssey (Source: IMDB)
Jujur, keputusan-keputusan kreatif di atas lumayan mengurangi kualitas film ini. Seandainya Nolan mempertahankan keangkuhan Odysseus dan gradually “mendewasakan”nya lewat rangkaian konsekuensi atas aksinya, niscaya film ini akan lebih menarik. Walau begitu, bisa saya pastikan bahwa hal-hal di atas tidak menganggu kenikmatan filmnya secara keseluruhan.
The Odyssey bisa dikatakan sebagai karya Nolan yang paling “effortless” untuk dipahami. Walau Nolan masih mempertahankan alur non-linearnya, tidak sulit untuk menyusun kepingan-kepingan kisahnya. Twist-nya pun lumayan tertebak. Kalian tidak perlu membaca karya Homer dulu untuk bisa menikmati film ini.
Pace the Odyssey juga asyik diikuti. Semua bagian disampaikan dengan rancak, tanpa basi-basi. Third act menjadi bagian paling memuaskan di mana Nolan mendeliver laga balas dendam ala drama Korea. In short, The Odyssey membuat durasi tiga jam terasa berlalu begitu saja.
Kalau dipikir-pikir, sejak Oppenheimer, karya-karya Nolan memang lebih ramah untuk penonton luas. Tidak ada lagi entropy diputar balik ataupun mimpi bisa dijelajahi yang memaksa penonton memutar otak. Nolan sepertinya ingin film-filmnya lebih seperti studi karakter ke depannya sebagaimana Oppenheimer adalah studi tentang Oppenheimer dan the Odyssey adalah soal Oddyseus.
Pada akhirnya, The Odyssey tetap layak masuk jajaran karya terbaik Nolan. Audio visualnya luar biasa, narasinya jauh lebih mudah diikuti, dan berhasil menghidupkan epos klasik untuk penonton modern. Sayangnya, beberapa keputusan adaptasi membuat film ini terasa lebih sebagai interpretasi Nolan daripada The Odyssey versi Homer. Hebat, tapi belum mencapai Peak Nolan.






