Mengenal status legendaris The Wailing sebagai salah satu film horror Asia terbaik, tidak bisa dipungkiri ekspektasi gw terhadap film terbaru Na Hong-Jin, Hope, tinggi banget. Apalagi, Hope juga menyandang title film Korea Selatan dengan budget terbesar sepanjang masa. Trailernya yang diputar pertama kali pada Cannes Film Festival 2026 pun tampak menjanjikan. What could go wrong right?
Namun, kebisingan reaksi yang mixed yang pasca Cannes sukses bikin gw was was. Ada yang mengatakan Hope sebagai film yang apik, ada juga yang tidak. Spektrum reaksinya cukup divisive dan polarizing. Ketika akhirnya berkesempatan menontonnya langsung, reaksi yang mixed itu ada benarnya.. Di satu sisi, Hope menawarkan pengalaman audio-visual yang menegangkan. Namun, di sisi lain, pondasi penceritaannya rentan dan kian runtuh seiring berjalannya cerita. Dan, hal itu diperburuk kualitas CGI yang bahkan lebih buruk dibanding MCU pada periode terendahnya.
Kisah Hope membawa penonton ke sebuah kawasan pelabuhan bernama “Hope”. Menerima berbagai laporan darurat dan kekacauan, personil kepolisian setempat, Beom Seok (Hwang Jung-Min) dan Sung Ae (Hoyeon), melakukan penyelidikan ke lokasi. Apa yang mereka dapati di luar nalar, berbagai jenazah manusia dengan bagian tubuh tercerai berai. Di saat bersamaan, Hope sudah seperti zona perang di mana tidak jelas siapa melawan siapa atau apa. Beom Seok, Sung Ae, dan warga setempat, mau tidak mau, harus memutar otak dan mengendalkan insting mereka untuk bisa bertahan hidup sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Hope.

Hope (Source: IMDB)
Tidak bisa disangkal, plot dari Hope terasa “been there done that”. Walau begitu, Hope begitu rancak membangun rasa gelisah dan ketegangan, memadukan teror makhluk misterius dengan aksi yang epik serta penuh ledakan.
Sejak menit pertama, Hope sukses membangun rasa mencekam dengan mengeksploitasi ketidaktahuan penonton, memicu rasa penasaran sekaligus gelisah yang konsisten. Pengambilan gambarnya dieksekusi dengan sangat brilian. Kamera bergerak sedemikian rupa sehingga memberikan pengalaman yang frantic sekaligus cinematic, terutama saat adegan car chase dan gun fight yang terasa begitu maksimal. Hal itu ditambah scoring dan sound design yang menghentak “nendang, membuat setiap desingan peluru, raungan makhluk asing, dan ledakan terasa begitu dekat. Direksinya impresif dan in some way mengingatkan dengan gaya direksi Michael Bay yang Bayhem itu.
Film ini pun memiliki set yang sangat luas, masif, dan detail, membuat Hope tampil begitu menyakinkan sebagai setting yang mencekam dan porak poranda. Budgetnya yang besar, untuk hal ini, harus diakui benar-benar well-spent. Tapi, sayang sekali, CGI yang ditampilkan lumayan kasar, terutama untuk makhluk asingnya. Bahkan, di beberapa adegan penting, efek visualnya terlihat seperti tempelan 3D saja.

Hope (Source: IMDB)
Power scale yang disajikan juga tidak masuk akal. Terjadi inkonsistensi yang kentara antara brute force yang dimiliki sang makhluk asing dengan tingkat ketahanan fisik manusianya, sehingga sering kali scene aksi di dalam film ini terasa membingungkan penonton.
Kekurangan Hope belum berhenti di situ. Dari segi narasi dan karakter, film ini memiliki dinamika yang cukup timpang. Beberapa memang dimainkan dengan baik, dengan sisipan komedi yang porsinya lumayan pas. Tapi, hampir seluruh karakter di film ini terasa dangkal dan tidak memiliki kedalaman motif yang jelas, membuat penonton sulit untuk benar-benar peduli pada nasib mereka. Masalah berlanjut pada pacing penceritaan yang lumayan dragging di beberapa adegan. Tensi cerita yang seharusnya terus naik malah sering kali anjlok akibat transisi adegan yang terlalu lambat. Konklusi ceritanya pun meninggalkan banyak plothole yang bikin filmnya kurang baik endingnya.
Singkat kata, Hope seolah terjebak dalam ambisinya sendiri. Film yang melahirkan sebuah rollercoaster visual dan audio yang sukses memacu jantung dan cukup immersive, memang menjadi nilai jual utama. Namun di sisi lain, Na Hong-Jin gagal membawa kualitas cerita yang sepadan dibandingkan dengan karya ia sebelumnya, The Wailing.






