Setelah empat film dengan kisah yang keluar masuk kamar tidur anak, mulai dari krisis eksistensial hingga kabur dari boneka megalomania, Toy Story hadir kembali lewat Toy Story 5. Namun, film ini datang dengan satu pertanyaan besar: apakah franchise Toy Story masih punya cerita yang layak diceritakan atau cuma sekadar milking nostalgia? Gue masuk bioskop dengan ekspektasi yang cukup skeptis. Takutnya ini bakal jadi Cars 2 all over again. Thank God, ternyata jauh dari itu.

Toy Story 5 (Source: IMDB)
Before I explain what is good and bad from this movie, a bit of history lesson to y’all iPad kids / Gen Alpha. Toy Story adalah film animasi CGI pertama di dunia yang diproduksi oleh Studio Pixar. Di saat banyak dari kalian mungkin baru kenal animasi lewat YouTube Shorts atau TikTok, Pixar sudah mengubah sejarah perfilman sejak tahun 1995 dan sampai sekarang masih melanjutkan franchise kesayangannya ini lebih dari tiga dekade kemudian. So, before watching the latest installment, ada baiknya kalian marathon 4 film pertamanya to get the maximum impact from Toy Story 5.
Disutradarai Andrew Stanton, animator veteran Pixar dengan rekam jejak animasi dan live-action yang sama impresifnya mulai dari Wall-E, Finding Dory, Stranger Things, hingga Better Call Saul, Toy Story 5 kembali menceritakan aksi mainan hidup Woody (Tom Hanks), Buzz (Tim Allen), Jessie (Joan Cusack), dan teman-teman mereka. Nah, menariknya, fokus film ini justru bergeser dari duo Woody dan Buzz. Sekarang fokus cerita ada pada Jessie (Joan Cusack), sang cowgirl yang pertama kali diperkenalkan di Toy Story 2.
Buat fans lama, direksi baru ini mungkin akan sedikit mengejutkan. Apalagi, Woody dan Buzz juga masih punya peran ke cerita utama Toy Story 5. However, they’re no longer the emotional center of the story. Spotlight diberikan ke Jessie yang kembali dihantui ketakutan terbesar semua mainan: tidak lagi dimainkan oleh pemiliknya. Kalau kalian sudah menonton Toy Story 2, tentu kalian tahu bahwa Jessie dibuang oleh pemilik lamanya.

Toy Story 5 (Source: IMDB)
Nah, kalau dulu ancamannya adalah dibuang karena anak yang tumbuh dewasa, sekarang musuhnya jauh lebih modern—sebuah gadget bernama Lilypad (Greta Lee). Dan, menurut gue, keputusan memindahkan fokus ke Jessie justru jadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Setelah puluhan tahun menjadi karakter pendamping, akhirnya ia mendapat closure yang terasa pantas dan emosional.
Well, sebenarnya, sejak film pertama, franchise Toy Story selalu berbicara tentang rasa takut ditinggalkan. Dulu ancamannya adalah waktu. Anak-anak akan tumbuh besar dan perlahan meninggalkan mainan mereka. Di tahun 2026, Pixar memperbarui keresahan itu dengan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: layar sentuh. Julukan “iPad kids” sendiri sudah jadi meme internet bertahun-tahun, jadi memang terasa sedikit terlambat ketika Toy Story baru membahas fenomena ini sekarang. But honestly? Better late than never.
Nah, bagusnya, direksi yang diambil film ini tidak sesimple hitam versus putih, digital versus analog, teknologi versus mainan. No, film ini tidak memposisikan Lilypad sebagai sosok jahat konvensional layaknya Sid (Toy Story 1), Al (Toy Story 2), maupun Lotso (Toy Story 3). Lilypad dihadirkan lebih sebagai tantangan yang hadir secara natural seiring dengan berkembangnya zaman. Apakah komunikasi para digital natives, anak-anak yang lahir di era digital seperti Bonnie, akan sepenuhnya di-shape teknologi seperti Lilypad atau interaksi yang bersifat analog (baca: tatap muka) akan tetap punya peranan penting? Toy Story 5 bermain di ranah tersebut.

Toy Story 5 (Source: IMDB)
Menurut gue, itu direksi yang jauh lebih dewasa dan menarik daripada sekadar bilang “main HP bikin anak bodoh.” Bahkan, kalau dipikir-pikir, Toy Story 5 mungkin lebih banyak berbicara kepada para orang tua dibanding anak-anak itu sendiri karena toh perkenalan anak-anak terhadap teknologi juga diawali orang tua. Orang tua punya peranan untuk menentukan posisi teknologi dalam hidup anak-anak. Dan, topik kritis tersebut, surprisingly, dieksekusi dengan kreatif via berbagai penggunaan teknologi di dunia mainan yang tidak pernah gue bayangkan sebelumnya.
Patut digarisbawahi, meski topiknya deep, filmnya tetap terasa ringan dan menghibur. Humornya balance antara jokes yang bakal bikin anak-anak ketawa—termasuk segudang toilet humor khas Pixar—dan jokes yang justru lebih mengena ke orang dewasa. Tapi, di balik semua itu, pembahasannya menyentuh berbagai isu teknologi yang nggak asing buat kita mulai dari soal kecanduan gadget, pengaruh media sosial, sampai bagaimana teknologi bisa memengaruhi hubungan pertemanan sejak usia dini. Ditambah lagi, film ini cukup pintar menyimpan berbagai surprise yang bikin rasa penasaran tetap terjaga sepanjang durasi tanpa harus mengandalkan twist besar-besaran.
Secara visual? Pixar ini bos. Mereka mungkin bukan lagi satu-satunya studio animasi yang bisa bikin CGI cantik. Setiap kali mereka turun gunung, rasanya studio lain tetap harus kerja ekstra keras buat nyusul. Art style Toy Story masih konsisten dengan empat film sebelumnya, tidak ikut mengejar tren visual ala Spider-Verse yang sekarang lagi menjamur. Namun, justru pendekatan klasiknya itu yang bikin semuanya terasa familiar. Ada sedikit sentuhan baru lewat beberapa sequence imajinasi anak-anak yang dibuat seperti buku cerita bergambar dengan soft colour palette dan nuansa watercolor painting. Hasilnya cantik tanpa terasa berusaha terlalu keras untuk tampil beda.

Toy Story 5 (Source: IMDB)
Aspek audio juga masih sama solidnya. Hampir semua pengisi suara lama kembali mengisi karakter mereka masing-masing, bahkan untuk tokoh-tokoh yang porsinya kini jauh lebih kecil seperti Rex, Slinky, dan Mr. Potato Head. Randy Newman pun kembali duduk di kursi komposer, sesuatu yang rasanya sudah jadi tradisi wajib setiap kali Toy Story hadir di layar lebar. Melodi-melodi ikonik tetap bermunculan sepanjang film, dan setiap kali tema Jessie atau When She Loved Me terdengar, sulit rasanya buat tidak langsung teringat salah satu backstory paling menyedihkan dalam sejarah animasi Pixar.
Overall, gue datang ke bioskop dengan satu pikiran: Pixar is milking this franchise dry. Gue keluar dengan opini yang benar-benar berbeda. Toy Story 5 mungkin tidak akan menggantikan Toy Story 3 sebagai penutup paling sempurna dalam sejarah franchise ini, tapi film ini berhasil membuktikan bahwa masih ada cerita yang layak untuk disampaikan. Premis Toy vs Tech ternyata jauh lebih menarik daripada yang gue bayangkan, dieksekusi dengan kreatif, dan surprisingly relevan dengan kondisi sekarang. Bahkan. buat gue pribadi, film ini berhasil melampaui Toy Story 4 karena berani membawa konflik yang baru tanpa melupakan identitas yang membuat franchise ini dicintai sejak awal.
Yang paling gue suka justru adalah bagaimana film ini diam-diam mengingatkan bahwa para mainan ikut bertambah tua, sama seperti penontonnya. Dulu kita melihat Woody dan Buzz dari sudut pandang Andy. Sekarang banyak dari kita mungkin sudah berada di posisi orang tua Andy, atau bahkan mulai memikirkan bagaimana membesarkan anak sendiri di era gadget. Pada akhirnya, ketakutan terbesar sebuah mainan ternyata tidak pernah berubah. Mereka hanya berganti bentuk. Kalau dulu ancamannya adalah anak yang tumbuh dewasa, sekarang ancamannya adalah sebuah layar sentuh berukuran beberapa inci. The fear stays the same. Only the enemy evolves.






