The Furious (Source: IMDB)

Review The Furious: Akhirnya Ada yang Ngimbangin The Raid

Sampai sekarang, gw masih merasa kalau dunia film action punya hutang budi sama The Raid dan The Raid 2. Sebelum kedua film itu tayang, film action tidak banyak berubah sejak era film Hong Kong tahun 80-an. Improvement paling besar yang kita dapat  lebih banyak datang dari sisi teknologi. CGI makin realistis, ledakan makin besar, dan spectacle makin megah. Tapi, dari sisi practical action, kurang lebih ya sami mawon. Lalu datanglah The Raid dan film itu mengubah semuanya.

 

Sejak The Raid, film-film action jadi lebih brutal, lebih cepat, lebih sadis, dan, yang paling penting, lebih bergantung pada kemampuan aktornya sendiri dibanding bantuan editing. Banyak film mencoba meniru formulanya, sebagian berhasil, sebagian lagi cuma jadi imitasi. Finally, sekarang, setelah lebih dari satu dekade, akhirnya muncul satu film yang mampu menantang bahkan melampaui kegilaan yang pernah diperlihatkan The Raid. The film’s name? The Furious. Dibintangi aktor-aktor yang berpengalaman di fim laga Asia seperti Xie Miao, Joe Taslim, JeeJa Yanin, dan Yayan Ruhian, The Furious is an All Star Asian Action Cinema.

 

The Furious (Source: IMDB)

The Furious (Source: IMDB)

 

Disutradarai Kenji Tanigaki, action director di balik trilogi live action Rurouni Kenshin dan film-film terbaik Donnie Yen seperti Project SPL serta Flashpoint, The Furious bercerita tentang Wang Wei (Xie Miao). Wang adalah seorang ayah bisu yang mencari putrinya, Rainy (Yang Enyou), yang diculik oleh sindikat human trafficking di Asia Tenggara.

 

Wang tidak sendirian dalam mencoba menguak jaringan tersebut. Selain dia, ada Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis yang berusaha menemukan istrinya, Matia (JeeJa Yanin). Matia hilang setelah menyelidiki jaringan perdagangan manusia yang menculik Rainy. Nasib mempertemukan keduanya dan memaksa mereka bekerja sama demi menyelamatkan orang-orang yang mereka cintai.

 

Secara cerita, stakes yang ditawarkan sebenarnya cukup tinggi karena isu yang diangkat bukan sesuatu yang jauh dari realita. Human trafficking masih menjadi masalah besar di kawasan Asia. Berita tentang lowongan kerja palsu yang menjebak korban ke dalam eksploitasi, perbudakan modern, hingga organ harvesting bukan lagi cerita asing di media massa.

 

Yang gue suka, film ini doesn’t try to save the world. Tidak ada ancaman kiamat, tidak ada bom nuklir, tidak ada multiverse collapse. Wang Wei dan Navin cuma ingin menemukan keluarganya. And, somehow, justru karena skalanya lebih kecil, perjuangan mereka terasa jauh lebih personal dan lebih gampang untuk dipedulikan.

 

Basically mirip The Raid, yang hanya berfokus pada upaya seorang polisi bertahan hidup di dalam rusunawa berisi gembong penjahat kelas kakap. 

 

The Furious (Source: IMDB)

The Furious (Source: IMDB)

 

But let’s be honest… nobody is buying a ticket to The Furious for its human trafficking commentary. Kita semua datang untuk melihat orang berantem. Dan ya Allah… what a fight.

 

The Furious punya apa yang Hollywood tidak punya: Speed. Not fake movie speed created by editing. Bukan ilusi cepat hasil 37 cuts dalam 10 detik. Ini genuinely fast martial arts performed by people who clearly know what they’re doing. Joe Taslim pernah bercerita bahwa saat syuting Mortal Kombat, sutradara Simon McQuoid beberapa kali memintanya bergerak lebih lambat karena gaya bertarung Joe dianggap terlalu cepat untuk kamera dan penonton. Kenji Tanigaki sepertinya mendengar cerita itu lalu mengambil keputusan yang sepenuhnya berlawanan. Rasanya seperti dia cuma berteriak “ACTION!” lalu membiarkan para aktornya saling menghajar secepat dan seberingas mungkin tanpa rem.

 

Dan hasilnya? Gila. Beneran gila. No joke, ada beberapa momen dimana gue sampai menyerah mencoba mengikuti koreografinya dan memilih menikmati chaos yang ada di layar. Bukan karena action-nya berantakan, justru kebalikannya. Saking cepatnya, otak gue kadang kalah ngebut dibanding para aktornya. Disaat gue belum selesai memproses satu bantingan, tiba-tiba Joe Taslim sudah mengunci lawan berikutnya. Belum sempat mencerna kuncian itu, Xie Miao sudah menghantam orang lain dengan kombinasi berikutnya. Ada titik dimana gue berhenti mencoba menganalisa koreografinya dan memilih menerima bahwa para aktor ini emang udah bukan orang lagi, but an unstoppable action movie machine. Gue bahkan sempat mikir, there’s no way all of them pulang shooting dalam kondisi masih 100% utuh.

 

The Furious (Source: IMDB)

The Furious (Source: IMDB)

 

Yang bikin semuanya makin keren adalah bagaimana Kenji Tanigaki memahami kemampuan para akotrnya. Joe Taslim terlihat jelas menggunakan Judo dengan berbagai bantingan dan submission yang jadi ciri khasnya. Xie Miao membawa gaya Kung Fu yang lebih tradisional. Karakter lain menggunakan MMA, Karate hingga Taekwondo.

 

Dan tentu saja ada Yayan Ruhian yang kembali mengingatkan kenapa Pencak Silat bisa terlihat begitu mematikan di layar lebar. Setiap karakter punya “bahasa bertarungnya” sendiri dan semuanya terasa berbeda. It’s like watching multiple martial arts styles crash into each other in the best way possible. Dalam aspek action murni, ini mungkin pertama kalinya gue berani mengatakan bahwa The Raid akhirnya punya kompetitor yang layak.

 

Tentu saja film ini tidak sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah. Beberapa kali gue cukup terganggu oleh kualitas dubbing dan efek suara yang terasa tempelan. Ada momen dimana suara pukulan, dialog, atau ambience terdengar kurang natural dan sedikit menarik gue keluar dari immersion yang sudah dibangun dengan susah payah oleh adegan aksinya. It’s not a deal breaker, but it’s noticeable enough to mention.

 

But overall, The Furious berhasil melakukan sesuatu yang selama ini gue kira mustahil. For the first time in more than a decade, gue keluar bioskop sambil bertanya ke diri sendiri: “Wait… apakah The Raid akhirnya punya penerus?” Apakah ceritanya lebih bagus? Belum tentu. Apakah karakternya lebih berkesan? Bisa diperdebatkan. Tapi dari sisi pure action spectacle, film ini benar-benar bermain di level yang berbeda. Saat kredit film mulai berjalan, yang gue ingat bukan kekurangan dubbing atau efek suaranya. Yang gue ingat adalah betapa gilanya pertarungan yang baru saja gue tonton.

 

Lebih dari satu dekade setelah The Raid mengubah wajah film action modern, akhirnya muncul film lain yang terasa layak duduk di meja yang sama. Dan itu mungkin pujian tertinggi yang bisa gue berikan untuk The Furious.

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

fifteen + 9 =