Masters of The Universe

Review Masters of The Universe: Jared Leto Have Fun di Sini

 

MGM Studios, Sony Pictures dan Mattel berusaha mengangkat kembali sebuah film dan franchise yang pernah terkenal di era 80an, Masters of The Universe atau dikenal juga sebagai He-man: Masters of The Universe. Dan, surprisingly, sebagai sebuah franchise jadul, sutradara Travis Knight berhasil mengemas film ini menjadi sebuah kisah action adventure yang ramah untuk generasi apapun, baik boomers yang sudah familiar sama franchise ini maupun Gen Z. 

 

Kisahnya sendiri masih mempertahankan lore yang dulu di-establish di sunday morning cartoon-nya. Setelah terpisah selama lima belas tahun, the Sword of Power membawa Pangeran Adam alias He-Man (Nicholas Galitzine) kembali ke Eternia dimana ia menemukan rumahnya telah hancur oleh kekejaman pemimpin bengis Skeletor (Jared Leto). Untuk menyelamatkan dunianya, Adam harus menyatukan kekuatan bersama para teman-teman dan sekutunya, Teela (Camila Mendes) dan Duncan alias Man-At-Arms (Idris Elba), serta mengemban misi dan takdirnya sebagai He-Man — manusia terkuat sejagat raya.

 

Castle Grayskull in MASTERS OF THE UNIVERSE.

 

Dulu, pada zamannya, Masters of Universe sempat dianggap sebagai rip off Star Wars yang terlalu kekanakan terlepas bahwa kisahnya sarat akan unsur ancient time, perebutan tahta hingga pertarungan dengan perpaduan arsenal yang ahead of its time. Sutradara Travis Knight, yang tidak asing dengan legacy IP karena pernah menyutradarai Bumblebee, berhasil mengenyahkan anggapan itu. Ia mengambil direksi yang lebih modern namun tidak menghilangkan substansi sumber aslinya. 

 

Secara garis besar, cerita yang disampaikan masih menyesuaikan dengan animated series nya. Bahkan jalan ceritanya sedikit mengadaptasi film live action versi 1987 di mana Adam diperankan Dolph Lundgren.  Pendekatannya lebih mennyerupai film-film superhero ensemble ala Guardians of The Galaxy, The Suicide Squad di mana sepasukan manusia super, yang sejatinya tidak cocok satu sama lain, harus berhadapan dengan sepasukan antagonis dengan para kaki tangan dan grunts yang nyaris gak berguna selain menjadi canon fodder.

 

Jared Leto stars as ‘Skeletor’ in MASTERS OF THE UNIVERSE.

 

Seperti dua title superhero yang disebutkan di atas, Masters of Universe terkini juga menonjolkan elemen komedi sebagai salah satu sajian utamanya. Dan, untungnya, kisah Masters of Universe tidak asing dengan direksi tersebut. Pada kisah animasinya dulu, misalnya, Skeletor digambarkan sebagai bitter villain yang saking bitternya, secara tidak disengaja maupun disengaja, menjadi elemen komedi tersendiri. Nah, Travis Knight memilih untuk condong ke arah tersebut. 

 

Hasilnya adalah berbagai elemen komedi yang sukses bikin ketawa, bahkan dari villainnya. Somehow akting Jared Leto terasa hidup sebagai Skeletor dibanding ia menjadi Joker dulu. He seems having fun with this role, even ketika scene-scene yang komikal dan slapstick. Tidak lupa, film ini banyak melempar sindiran ke genre superhero, misalnya dengan mengolok-olok nama-nama Superhero zaman dulu yang tidak lazim.

 

Sayangnya, ketika film ini mencoba menyeimbangkan elemen komikalnya dengan drama, malah gagal. Ada beberapa dialog yang ditujukan untuk memancing tangis drama  malah jatuhnya dragging, repetitif, dan bikin ngantuk. 

 

Bagaimana dengan karakter selain He-Man dan Skeletor? Dibandingkan dengan versi live action tahun 1987,  supporting character di versi baru ini memiliki porsi yang cukup imbang dan variatif.  Sayangnya, kemunculan para supporting character tersebut di beberapa scene sangat lompat-lompat, walhasil presentasi mereka terasa tidak konsisten di beberapa bagian. Lumayan mengganggu. 

 

Untuk scoring dan soundtrack tidak perlu diragukan lagi. Daniel Pemberton mampu mengaransemen scoring dan memilih lagu-lagu yang yang cocok dengan filmnya. Satu scene di mana menonjolkan melodi gitarnya Brian May itu keren banget. Sayangnya, timing musik yang muncul kadang tidak pas sehingga lumayan mengagetkan saat musiknya muncul.

 

Nicholas Galitzine stars as ‘Adam’ in MASTERS OF THE UNIVERSE.

 

Production value-wise, dari kostum hingga properti,layak di acungi jempol. Bahkan adegan transformasi He-Man tampak cringe layaknya di era 80an yang menggunakan vest dan cawat ketat. Tapi, entah kenapa menjadi momen yang sakral yang tidak boleh dilewatkan. 

 

Satu hal terakhir, cameo dan after credit scene jangan sampai terlewatkan. Cameo film 1987 sebagai easter egg dan after credit scene yang mengindikasikan film sekuel berikutnya. Easter egg ini sangat dinantikan oleh generasi-generasi lama yang menunggu-nunggu film ini di layar lebar. Tapi untuk generasi baru seperti gen-z atau bahkan millenial sendiri, hal itu menjadi kurang esensial terhadap cerita. Riset terhadap cerita orisinalnya sangat dibutuhkan sebelum menonton.

 

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

1 × 5 =