Adaptasi video game tampaknya sedang berada di fase menarik. “The Last of Us” dan “Super Mario Bros” jadi salah satu contoh bahwa sebuah IP video game dapat memiliki daya tarik yang jauh lebih luas ketika dialihwahanakan ke dalam bentuk serial maupun film. Tidak hanya mampu memuaskan penggemarnya, tetapi juga berhasil menjangkau penonton lainnya.
Di tengah fenomena tersebut, Resident Evil berada pada posisi yang sedikit berbeda. IP ini sudah berkali-kali diadaptasi ke berbagai bentuk, tetapi belum juga menemukan formula yang benar-benar mampu mempertemukan ekspektasi penggemar gamenya dengan identitasnya sebagai sebuah film.

Resident Evil (Source: IMDb)
Kini, Sony tampaknya ingin mencoba lagi, namun dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih kembali mengandalkan cerita atau karakter yang sudah dikenal, mereka memberikan ruang yang cukup luas untuk membangun cerita baru walau tetap di dunia yang (relatively) sama.
Untuk mewujudkannya, Zach Cregger pun didapuk sebagai sutradara. Setelah Barbarian dan Weapons mendapatkan banyak apresiasi, Cregger tampaknya pilihan menarik untuk memberikan perspektif baru bagi Resident Evil. Dan kebebasan yang diberikan kepadanya terasa cukup jelas sejak awal: Resident Evil kali ini tidak datang untuk mengulang apa yang sudah kita kenal…well, yang fansnya kenal.
Jadi, kalau Anda datang dengan ekspektasi bahwa film ini merupakan remake, adaptasi, prequel, ataupun sequel dari cerita Resident Evil yang sudah ada, buang jauh-jauh ekspektasi tersebut. Cregger menggunakan semesta Resident Evil sebagai landasan untuk membangun kisah yang benar-benar baru dengan tetap memperhatikan beberapa lore, ciri khas, dan experience yang substansial pada gamenya.

Residence Evil (Source: IMDb)
Protagonis yang dipilih pun bukanlah sosok dengan kemampuan luar biasa atau punya aura ‘main character’ yang kuat ala Leon S. Kennedy atau Chris Redfield. Ia adalah Bryan (Austin Abrams), seorang kurir lepas yang secara tidak sengaja terjebak pada situasi sulit.
Kisah Bryan bermula kita tiba-tiba ia mendapat pekerjaan untuk mengantar sebuah paket ke rumah sakit di Racoon City. Di tengah perjalanan, Ia tak sengaja menabrak seorang wanita yang ternyata telah terjangkit virus dan berubah menjadi zombie. Di situlah kisah survival horror Bryan dimulai.
Menonton Resident Evil versi Zach Cregger, sederhananya, terasa seperti menyaksikan walkthrough sebuah video game dengan gameplay yang linear dan sederhana. Di satu sisi, pendekatan ini membuat ceritanya begitu mudah dipahami dan diikuti. Kita hanya perlu mengikuti perjalanan sang protagonis dari titik A ke titik B dan seterusnya untuk menyelesaikan satu misi sederhana: mengantarkan sebuah barang ke tempat tujuan. Namun di sisi lain, pendekatan ini malah justru tak memberikan banyak ruang terhadap emosi tokohnya.

Resident Evil (Source: Screenrant)
Kisah Bryan dan keadaan sekitar pun tak begitu dieksplor. Jika dalam Weapons Cregger mencoba merangkai cerita melalui berbagai sudut pandang untuk memperlihatkan gambaran yang lebih luas, Resident Evil justru mengambil pendekatan yang jauh lebih sederhana dan to the point.
Cerdiknya, pendekatan ini tidak lantas membuat film terasa monoton atau membosankan. Pace film yang cenderung stabil dalam membangun ketegangan berhasil memberikan sensasi seperti menaiki wahana roller coaster. Ada beberapa hal yang berhasil membuat kita tertawa, namun ada beberapa hal yang berhasil membuat kita bergidik ngeri.
Di sisi lain, Cregger juga mengadopsi beberapa mekanisme gamenya. Sebagai contoh, setiap kali Bryan masuk ke area atau menghadapi tantangan baru, di momen itu ia juga mendapatkan jenis senjata baru. Dan, kalau senjatanya kehabisan peluru, ia harus mengobok-obok segala sisi ruangan untuk mencari amunisi. Persis seperti di game Resident Evil.
Penggunaan mekanisme game tersebut dimaksimalkan Cregger lewat pergerakan kamera yang dinamis dan menggunakan banyak long shot. Cregger juga mengkombinasikan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga, menghadirkan pengalaman visual yang, lagi-lagi, terasa seperti sedang bermain video game. Pendekatan itu efektif membuat penonton seolah ikut berada di dalam situasi yang sama dan merasakan ketegangan yang terus meningkat.

Resident Evil (Source: Screenrant)
Namun, pendekatan tersebut tidak sepenuhnya berhasil hingga akhir. Setelah membangun perjalanan Bryan dengan ketegangan yang terus meningkat, penyelesaiannya justru terasa cukup mendadak. Bagi sebagian penonton, bagian ini mungkin terasa antiklimaks atau bahkan seperti terburu-buru menyelesaikan segala sesuatu yang sudah dibangun sebelumnya.
In short, Cregger paham betul apa yang ingin dikerjakannya, sehingga segala aspek dapat dimaksimalkan untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan dan menyerupai gamenya. Meski begitu, bisa dipahami juga jika ada fans yang kecewa Cregger memilih untuk tidak mengadaptasi lore ataupun karakter gamenya.
Pada akhirnya, Resident Evil menjadi pilihan menarik untuk dinikmati bersama, terutama bagi mereka yang ingin menyaksikan film horor dengan pendekatan yang lebih sederhana namun tetap imersif. Resident Evil sudah dapat disaksikan di bioskop kesayangan Anda.






