Dalam Joker (2019), Todd Phillips mencoba memberikan perspektif baru dalam memandang sifat ‘antagonis’ manusia, bahwa tak semua sifat jahat muncul dari dalam diri manusia. Di tengah suasana kota Gotham yang kelam, Arthur Fleck mendapatkan begitu banyak perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan sekitarnya, menciptakan luka dan trauma yang begitu dalam yang akhirnya melahirkan sosok ‘Joker’ dari dalam dirinya. Sifat ‘antagonis’ Joker bukanlah berasal dari dalam dirinya, namun itulah bentuk respon Arthur, sebagai manusia, dalam merespon luka dan penderitaannya.
Dalam perspektif yang serupa, Jafar Panahi mencoba memunculkan sisi lain dari cara manusia dalam merespon trauma dalam lapisan emosi yang ada di dalamnya. Alih-alih mengemasnya dalam bentuk balas dendam yang gelap dan kelam, Panahi justru lebih banyak memberikan elemen komedi situasional dan lebih sedikit ketegangan di dalamnya.

It Was Just An Accident (Source: Madman)
Vahid, seorang pekerja di sebuah bengkel, tak sengaja bertemu seseorang yang mirip dengan petugas tahanan yang dulu menyiksanya di dalam penjara, bernama Eghbal. Ia sempat ragu apakah orang itu adalah Vahid. Namun, suara decitan kaki palsu menjadi ciri khas utama yang meyakinkan dirinya, bahwa benar, itulah orangnya.
Lantas, Vahid pun mengikuti orang itu, mengetahui di mana ia tinggal, dan berencana untuk membalaskan dendamnya. Tanpa menunggu waktu lama, Vahid pun berhasil menangkapnya dan menyekapnya di dalam Van milik bengkelnya.

It Was Just An Accident (Source: Madman)
Niat awalnya jelas, Vahid hendak membunuh orang itu, untuk membalaskan dendam atas apa yang dialaminya semasa Ia di dalam penjara. Namun, semakin lama, Vahid semakin ragu apakah orang ini adalah benar Eghbal. Puncak keraguannya muncul ketika Vahid hendak mengubur orang itu hidup-hidup, ekspresi ketakutan orang itu membuat Vahid iba. Orang yang ditangkap Vahid mengelak, bahwa ia bukan Eghbal.
Vahid yang terjebak pada kebimbangan, akhirnya memutuskan untuk mencari tahu, apakah orang yang ia tangkap betul adalah Eghbal, seorang petugas penjara yang menyiksa banyak tahanan. Ia pun menghampiri beberapa orang yang pernah mengalami penderitaan serupa, untuk menemukan kebenaran; Apakah orang yang ia tangkap adalah Eghbal?

It Was Just An Accident (Source: Madman)
It Was Just An Accident memang tak banyak memberikan kita informasi serta gambaran apa terjadi pada tokoh-tokohnya sebelumnya, Malahan. film ini membiarkan penonton untuk menerka-nerka pemikiran serta perasaan setiap tokohnya. Kelihaian Jafar Panahi menunjukan beragam dan kompleksnya respon manusia dalam menyikapi sebuah peristiwa terlihat dari tingkah laku dan dialog yang ada.
Dialog yang ada pada film ini tak hanya berhasil menggelitik di beberapa bagian, namun juga berhasil menyindir banyak hal tentang kemanusiaan. Begitu pun juga setiap adegan demi adegan yang bergulir. Ada yang terasa komikal di beberapa bagian, namun juga ada yang terasa nyata dapat dialami oleh semua orang.

It Was Just An Accident (Source: Madman)
Cara ini cukup berhasil membawa penonton merasakan situasi yang terjadi tanpa perlu mengetahui riwayat hidup tiap tokohnya, juga menguji seberapa tajam rasa empati yang kita miliki. It Was Just An Accident pun berhasil tampil solid. Walaupun dengan latar dan cerita yang sederhana, eksekusi matang dengan emosi berlapis nampaknya akan membuat penonton duduk terdiam menatap layar bioskop selama 1 jam 45 menit.
Maka tak heran, kalau karya Jafar Panahi ini dapat meraih Palm D’Or pada gelaran Cannes 2025 serta didapuk untuk mewakili Perancis dalam Oscars 2025 untuk Best International Features Film.
Pada akhirnya, It Was Just An Accident akan meninggalkan kesan tak biasa pada bagian endingnya. Sebuah open ending yang tak terduga, dan bisa bikin kepikiran, bahkan setelah title credit dimunculkan.






