Hype yang mengiringi Project Hail Mary, karya terbaru duo sutradara Phil Lord dan Chris Miller (21 Jump Street, Spider-Man: Into The Spider-Verse), ternyata tidak salah. Film yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Andy Weir ini memang sebagus itu. It’s worth the hype. Dan, tidak berlebihan menyebutnya sebagai salah satu film sci-fi terbaik yang pernah ada. Mengutip salah satu ucapan di filmnya, Project Hail Mary sukses bikin saya “Amaze, Amaze, Amaze!”.
Tentunya, sebelum saya bicara panjang lebar soal film ini, harus mengucapkan terima kasih dulu ke film The Martian, yang juga diadaptasi dari novel Andy Weir. Tanpa The Martian yang disutradari Ridley Scott, saya mungkin nggak akan pernah kenal Andy Weir—dan jelas nggak akan jatuh cinta pada karya-karya dia lainnya seperti Project Hail Mary. Novel Project Hail Mary yang dirilis pada tahun 2021 sendiri salah satu buku yang paling sering saya baca ulang. Hampir semua aspeknya resonates—dari karakternya, pendekatan sainsnya, sampai pertemanan antara dua entitas yang berbeda tapi punya tujuan yang sama. Jadi wajar kalau adaptasi filmnya jadi salah satu yang paling saya tunggu di tahun 2026.

Project Hail Mary (Source: IMDB)
Project Hail Mary bercerita tentang guru sains SMP bernama Ryland Grace (Ryan Gosling), yang terbangun dari koma tanpa ingatan—bahkan tentang siapa dirinya sendiri. Perlahan, ingatannya kembali, dan ia menyadari bahwa ia berada di dalam kapal luar angkasa bernama Hail Mary. Kapal tersebut dalam perjalanan menuju Tau Ceti, sebuah bintang di galaksi Cetus yang berjarak sekitar 12 tahun cahaya dari Bumi. Misinya tidak main-main: bersama seorang alien berbentuk “batu” dari planet 40 Eridani bernama Rocky, ia harus mencari cara untuk menyelamatkan dua bintang—Tau Ceti dan Matahari—dari ancaman mikroorganisme pemakan energi bernama Astrophage.
Secara plot, versi filmnya punya pacing yang cukup solid. Ceritanya berjalan dengan mantap, dengan perpaduan yang seimbang antara timeline sekarang dan berbagai flashback saat ingatan Grace kembali. Film ini juga cukup pintar dalam menyederhanakan eksposisi—tidak terasa terlalu berat, tapi juga tidak terlalu ringan . Bahkan sebagai pembaca novelnya yang sudah tahu arah ceritanya, saya tetap bisa menikmati versi film yang lebih cepat ini. Walaupun begitu, ada beberapa bagian yang terasa terlalu dikebut. Momen awal saat Grace bangun dari koma dan mulai memahami situasinya berjalan jauh lebih cepat dibanding versi novel. Di buku, proses ini terasa lebih panjang dan gradual—kita benar-benar ikut merasakan kebingungannya. Di film, aspek amnesia ini terasa sedikit di-tone down. Bukan masalah besar, tapi cukup mengurangi impact awal yang seharusnya bisa lebih kuat.
Perubahan lain yang cukup terasa adalah pada penyajian aspek sainsnya. Novel Project Hail Mary adalah hard sci-fi—walaupun fiksi, semuanya grounded dengan ilmu sains nyata. Perhitungan matematis, rumus fisika, sampai logika ilmiahnya dijelaskan dengan sangat detail. Di film, sebagian besar hal itu disederhanakan. Dibandingkan dengan Mark Whatney—protagonis The Martian yang diperankan Matt Damon—Grace jauh lebih sedikit “menjelaskan” proses berpikirnya. Ada beberapa momen ia menghitung, tapi lebih sering hanya ditampilkan sekilas tanpa penjelasan. Sense of “Eureka!” yang jadi jiwa novel Andy Weir terasa sedikit hilang—filmnya kasih hasil, tapi jarang ngajak kita ikut mikir prosesnya. In short, less emotionally impactful.

Project Hail Mary (Source: IMDB)
Ngomong-ngomong soal karakter, Ryan Gosling surprisingly cocok sebagai Ryland Grace. Dia berhasil menggabungkan awkward scientist, reluctant hero, dan comic relief dengan sangat natural. Nggak terasa over the top, tapi tetap human. Sedikit banyak mengingatkan dengan karakter yang ia perankan di film Half Nelson (2006). Dan seperti di novel, Grace memang karakter yang sangat fun—cara dia melihat sains itu menular ke penonton. Makes sense karena ia adalah seorang guru. Gak heran banyak orang menganggap Gosling sebagai salah satu aktor paling versatile di Hollywood saat ini.
Interaksi Grace dengan Rocky juga jadi highlight terbesar film ini. It works really well. Bahkan bisa dibilang, tanpa Rocky, cerita Project Hail Mary mungkin nggak akan sekuat ini. Chemistrynya dapet, humornya kena, dan hubungan mereka terasa tulus dan hangat. Duo ini jadi emotional core yang bikin filmnya bukan cuma pintar, tapi juga punya hati.
Sedikit nitpick, elemen first-person dari novel—seperti inner monolog Grace sebagai narator—dikurangi cukup signifikan dengan sedikitnya jumlah scene video recording seperti di The Martian. Mungkin karena versi film sudah mengandalkan flashback untuk bercerita, jadi tidak terlalu butuh device itu. Tapi, tetap saja, elemen ini sebenarnya cukup penting untuk membangun kedekatan dengan Grace.

Project Hail Mary (Source: IMDB)
Dari sisi visual, film ini pops. Lord & Miller bersama cinematographer Greig Fraser (Dune, The Batman) berhasil menggambarkan luar angkasa sebagai sesuatu yang massive sekaligus colourful. Terutama saat perjalanan menuju Tau Ceti e (atau Planet Adrian), visualnya benar-benar terasa hidup—the colors just burst onto the screen. Sense of awe yang dirasakan Grace juga berhasil ditransfer ke penonton. Ini salah satu momen di mana filmnya berhasil ngasih sesuatu yang bahkan imajinasi pembaca bukunya belum tentu bisa capai. Jujur, saya sendiri terkejut. Saat membaca novelnya, bayangan saya soal planet ini lebih “ilmiah”—berdasarkan referensi dari NASA. Tapi versi filmnya justru jauh lebih fantastical dan visually engaging. Satu-satunya minus kecil ada di beberapa pergerakan kamera yang cukup intens, yang sempat bikin saya sedikit pusing—tapi ini bisa jadi faktor kondisi nonton juga (IMAX + duduk terlalu dekat is not always a good combo).
Pada akhirnya, Project Hail Mary adalah adaptasi yang pintar. Film ini tahu bagian mana dari novelnya yang harus dipertahankan, dan mana yang perlu disederhanakan untuk medium yang berbeda. Esensi ceritanya tetap utuh—terutama hubungan antara Grace dan Rocky yang masih terasa otentik dan hangat. Walaupun ada beberapa kompromi, terutama di aspek sains dan kedalaman eksplorasinya, film ini tetap berhasil menangkap apa yang membuat ceritanya spesial: rasa penasaran, optimisme, dan kehangatan dari hubungan dua karakter yang tidak biasa. Buat penonton umum, ini adalah sci-fi yang seru, emosional, dan mudah diikuti. Buat pembaca novelnya, mungkin tidak sempurna—tapi cukup untuk bilang, yeah… it still works.






