Sebagai penikmat film Indonesia, kita seharusnya patut berbahagia karena akan banyak film Indonesia berkualitas yang dapat dinikmati tahun ini dan telah mendapatkan apresiasi di sirkuit film festival internasional. Ghost in the Shell adalah salah satunya. Berhasil tampil di Festival Film Berlin (Berlinale), Ghost in the Shell pun sudah dipastikan siap tayang di 86 negara.
Bukan tanpa alasan Ghost in The Shell berhasil memikat para distributor film internasional. Joko Anwar mampu mengolah subgenre gore menjadi sebuah sajian yang menghibur dan menarik tanpa harus menjual ketakutan lewat jumpscare murahan.

Ghost in the Cell (Source: Come and See)
Cerita dimulai ketika seorang wartawan bernama Dimas baru pulang meliput sebuah kasus penebangan hutan liar di Kalimantan. Di malam ketika ia hendak menyelesaikan liputannya, bosnya terbunuh dengan cara mengenaskan di kantornya, dan Dimas dituduh membunuh bosnya itu dan dijebloskan ke penjara bernama Labuan Angsana.
Semenjak Dimas tiba di Labuan Angsana, keanehan mulai terjadi, ketika salah satu napi mati secara mengenaskan di dalam kamar mandi. Dari sana terror pun muncul, ketika ‘hantu’ memburu korban selanjutnya dan setiap orang mencari cara untuk dapat bebas dari teror yang ada.

Ghost in the Cell (Source: Come and See)
Ghost in the Cell seolah menjadi angin segar, tak hanya bagi horor, namun juga untuk perfilman Indonesia yang mulai mengarah pada satu tema atau cerita tertentu. Secara tidak langsung, Joko Anwar mencoba memberikan statement bahwa horor tetap bisa relevan dengan selera penonton Indonesia, tanpa mengorbankan kedalaman cerita. Isu “kebobrokan sistem” ditelanjangi dengan cukup tajam lewat alur cerita yang terfokus pada latar penjara. Ditopang oleh ensemble cast yang punya chemistry solid dan karakter-karakter yang terasa otentik.
Mudah untuk melihat setiap karakter dan motivasi setiap karakternya. Walaupun tak setiap karakter punya motivasi kuat ataupun reasonable, namun tetap mudah untuk memahami setiap keadaan dan tujuan mereka masing-masing. Dialog yang ditulis pun cukup kuat di beberapa momen, bahkan sesekali disisipi satir yang menggelitik.

Ghost in the Cell (Source: Come and See)
Kebanyakan scene diambil lewat teknik long shot yang menambah ketegangan dan membuat penonton larut dalam teror yang terus memuncak. Namun, film ini bukan tanpa kekurangan. Alurnya cenderung predictable dan terasa sangat cepat. Ketika sosok ‘hantu bayangan’ menghabisi korbannya sentuhan artistik yang menjadi ciri khas Joko Anwar juga bisa terasa berlebihan bagi beberapa orang.
Pada akhirnya, Ghost in the Cell tetap jadi tontonan yang solid. Di tengah horor yang mulai generik, Joko Anwar menghadirkan film yang berani secara konsep, tajam secara isu, dan cukup efektif dalam membangun teror. Mungkin belum sepenuhnya sempurna, tapi cukup untuk membuktikan bahwa horor Indonesia masih punya banyak cara untuk berkembang.
Ghost in the Cell di bioskop seluruh Indonesia 16 April 2026.






