Lee Cronin's The Mummy (Source: IMDB)

Review Lee Cronin's The Mummy: Lebih Seram Tapi Hambar

Lee Cronin, sutradara di balik Evil Dead Rise kembali dengan visi horornya yang brutal lewat The Mummy, sebuah reboot yang mengambil arah berbeda. Hilang sudah nuansa adventure yang khas pada versi-versi sebelumnya. The Mummy versi Lee Cronin beralih ke pendekatan pure dread horror yang jauh lebih gelap dan ekstrem.

 

Berlatarkan di Kairo, Mesir, Lee Cronin’s The Mummy berpusat pada sebuah keluarga yang hidup dalam bayang-bayang kehilangan setelah putri kecil mereka diculik. Delapan tahun kemudian, putri mereka akhirnya ditemukan. Anehnya, putri mereka ditemukan di dalam sebuah sarkofagus berusia ribuan tahun. Penemuan yang seharusnya menjadi reuni hangat tersebut justru berbalik menjadi teror saat terungkap bahwa putri mereka telah menjadi sesuatu yang berbeda.

 

Lee Cronin's The Mummy (Source: IMDB)

Lee Cronin’s The Mummy (Source: IMDB)

 

Personally, saya sangat menyukai Evil Dead Rise, jadi rasanya saya masih bisa menyimpan ekspektasi yang cukup positif untuk The Mummy ini. Opening scene-nya langsung ngehook dan efektif menarik attention, dengan tone yang sudah terasa mencekam sejak menit pertama.

 

Cara film ini membuka ceritanya juga cukup berhasil membangun rasa penasaran, bikin penonton langsung masuk dan siap mengikuti misterinya. Ada sense of unease yang sudah ditanamkan sejak awal, jadi kita tau kalau sesuatu yang gak beres sedang terjadi, dan itu cukup kuat untuk bikin kita tetap engaged di awal film.

 

Dari segi kekuatan, film ini cukup berhasil menjaga intensitasnya tetap stabil. Misteri demi misteri diselidiki, sambil memperlihatkan teror mencekam yang semakin lama semakin ngeri. Hal itu ditambah banyak elemen disturbing imagery, with a bit of body horror, yang genuinely menjijikkan, bahkan rasanya hampir mual saat nonton.

 

Lee Cronin's The Mummy (Source: IMDB)

Lee Cronin’s The Mummy (Source: IMDB)

 

Atmosfer horrornya dibangun secara konsisten untuk menghadirkan pengalaman yang intens, bahkan semakin chaos saat mendekati klimaks. Dukungan dari visual dan sound design juga cukup efektif dalam membangun tension, membuat beberapa momen terasa impactful. Penggunaan teknik shot split diopter ala Brian de Palma di beberapa adegan terasa cukup efektif, bikin visualnya lebih layered dan menambah rasa tegang.

 

Namun di balik pendekatan yang ambisius tersebut, eksekusinya masih terasa belum matang. Banyak aspek yang seharusnya bisa dibuat lebih rapi justru terkesan setengah-setengah. Misal, dari segi cerita, film ini terasa cukup formulaik, main aman. Rasanya seperti gabungan beberapa film yang elemen-elemennya sudah sering kita lihat sebelumnya. Walhasil, jadi terasa kurang menawarkan sesuatu yang baru.

 

Selain itu, semakin ke belakang, naskahnya semakin terasa draggy. Memang sih klimaksnya cukup chaos, tapi naskahnya malah jadi ikutan chaos juga. Dan, pastinya, saya sudah bisa menebak kalau para karakter di film ini akan bikin saya geleng-geleng kepala. Sebab, keputusan mereka sering kali gak masuk akal yang cukup bikin gemes karena settingnya yang sudah berada di era modern.

 

Lee Cronin's The Mummy (Source: IMDB)

Lee Cronin’s The Mummy (Source: IMDB)

 

Alih-alih membangun rasa takut yang benar-benar membekas, film ini lebih sering mengandalkan shock value. Hasilnya, kengerian yang ditawarkan terasa sekadar lewat tanpa meninggalkan kesan mendalam. Konflik yang diangkat juga terasa dangkal, sehingga payoff-nya terasa kurang memuaskan. Hal itu diperburuk dengan kehadiran beberapa humor yang terasa tidak perlu, adegan yang repetitif, serta chemistry antar karakter yang tidak kuat. Masalah chemistry tadi adalah final nail in the coffin karena untuk sebuah film yang konfliknya berpusat pada sebuah keluarga, gak seharusnya itu terjadi karena dampak emosionalnya jadi hambar. 

 

Meskipun menawarkan pendekatan yang lebih ekstrem dan berbeda, pada akhirnya, The Mummy versi Lee Cronin terasa seperti film yang punya potensi besar namun belum sepenuhnya terealisasi dengan baik. Namun, bukan berarti film ini tidak bisa dinikmati sampai selesai, masih bisa dibilang seru, seram, ngeri, bisa dinikmati oleh penggemar horror brutal, atau penonton yang mencari adrenalin dengan melihat darah berceceran. Tetapi secara keseluruhan meninggalkan kesan yang cenderung hambar dan kurang membekas setelah film berakhir.

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

16 + 19 =