Review My Father’s Shadow: Road Trip Ayah Anak di Negeri Konflik

Ketika muncul sebagai additional line-up pada gelaran Jakarta World Cinema, awal Oktober silam, My Father’s Shadow cukup mencuri perhatian saya. Posternya yang sederhana nan misterius, trailernya yang minimalis namun menjanjikan, hingga capaian film ini di festival film Cannes akhirnya memaksa saya untuk menambah daftar tontonan dan mempersiapkan diri untuk pulang lebih malam.

 

Berlatar pada tahun 1993, di sebuah desa di negara Nigeria, kita akan dipertemukan dengan dua kakak beradik yang sedang bermain. Tiba-tiba Ayah mereka datang, entah baru dari mana, langsung bergegas ke dalam rumah.

 

My Father’s Shadow (Source: MUBI)

 

Anak-anaknya yang jarang melihat ayahnya di rumah, merajuk agar ayahnya tak pergi. Sang ayah pun memberikan opsi untuk anak-anaknya ikut bersamanya ke kota. Ajakan ini pun disambut baik oleh anak-anaknya. 

 

Perjalanan mereka dimulai dengan menumpang sebuah minibus yang berfungsi seperti angkot yang akan membawa mereka ke dekat kota. Namun, di tengah jalan, angkot tersebut mogok karena kehabisan bensin. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati pasar.  Setelah berjalan beberapa lama, mereka pun akhirnya menumpang ‘ojek’ yang ada di pasar dan tiba pada tujuan sang ayah, yakni kantor di mana ia bekerja. Rupanya, tujuan Ayah mereka pergi adalah untuk meminta upah dari pekerjaannya yang sudah tertunggak 6 bulan.

 

Ketika sampai di sana, sang atasan tidak ada di kantor, yang artinya ia harus menunggu esok hari untuk meminta upahnya. Tak ingin menyelesaikan perjalanan ini dengan sia-sia, mereka pun akhirnya menjelajahi kota Lagos. Mulai dari pergi ke pantai,  ke taman hiburan, hingga akhirnya makan di restoran sebelum akhirnya pulang.

 

My Father’s Shadow (Source: MUBI)

 

Seperti poster dan trailernya, treatment yang dilakukan pada My Father’s Shadow sebenarnya cukup sederhana. Penggambaran suasana 90an dilakukan dengan grading yang dominan pada warna abu-abu. Dialog antara ayah dan anak juga tak begitu rumit. Alur dan penceritaannya to the point, praktis tak ada kejutan atau twist yang berarti.

 

Sentuhan teknis yang tak begitu mewah bukan tanpa alasan. Sang sutradara, Akinola Davies Jr., tahu bahwa yang seharusnya menjadi spotlight adalah hubungan antara ayah dan anak.

 

Di awal film, penggambaran dua kakak beradik ini terbingkai dalam situasi tanpa kehadiran ayah mereka yang utuh. Lambat laun lewat perjalanan mereka bersama ayahnya, Sang anak perlahan mulai mengenali ayahnya, apa yang dilakukannya, bahkan sampai rahasia kelam dari ayah mereka.

 

My Father’s Shadow (Source: MUBI)

 

Tak perlu untuk sang ayah bercerita. Lewat apa yang mereka lalui selama perjalanan, mereka bisa mengenal dengan baik, apa yang ayah mereka hadapi sehari-hari. 

 

My Father’s Shadow pun ditutup dengan cukup kuat, namun menimbulkan banyak interpretasi dari penontonnya. Ada yang mungkin mempertanyakan karena endingnya tak mendasar. Namun, ada juga yang berteori bahwa apa yang dilakukan oleh dua kakak beradik hanyalah mengikuti ‘bayangan’ sang ayah dan tak benar-benar melakukan perjalanan.

 

Terlepas dari pandangan akan endingnya, My Father’s Shadow berhasil menyajikan drama rekonsiliasi ayah dan anak, di mana sang ayah hadir dalam kehidupan anaknya, begitu pun anak-anak yang kini paham apa yang dihadapi oleh ayahnya selama ini. 

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

2 × two =