Karya terbaru James Gunn, Superman (2025), adalah jawaban segar dan menghibur atas kerinduan penonton akan film “The Man of Steel” yang tidak hanya setia ke komiknya, tetapi juga lebih menyambut penggemar casual. Di tengah era film superhero yang sering terlalu sok gelp, sok serius, dan tak jarang pretensius, Gunn memilih pendekatan yang jauh lebih ringan.
Hebatnya lagi, untuk reboot Superman yang kesekian di layar lebar ini, Gunn memutuskan untuk tidak mengulang kisah origin “The Man of Tomorrow”. Ia mengesampingkan hal tersebut, gas kencang dari awal memperkenalkan berbagai sisi fantastikal dunia Superman yang jarang terangkat ke layar lebar, tetapi tetap terasa accessible. Tampak betul Gunn hakul yakin penonton tidak perlu disuapi, apalagi ditimang-timang, dalam menyampaikan kisah Supermannya karena mereka sudah terlatih untuk menonton film superhero selama belasan tahun #ThankYouMarvel.
Film Superman terbaru mengambil setting di mana penduduk bumi telah mengenal metahuman selama ratusan tahun. Oleh karenanya, kehadiran manusia super seperti Superman bukan hal baru bagi mereka. Sebaliknya, mereka cenderung take it for granted. Dan, sedikit meminjam konsep dari Civil War dan Men In Black, para metahuman wajib terdaftar agar bisa dimonitor segala pergerakannya, apalagi jika tindakan mereka berpotensi menimbulkan konflik geopolitik karena menembus perbatasan negara lain.

Superman (Source: IMDB)
Superman aka Clark Kent (David Corenswet) termasuk manusia super yang dianggap “Illegal Alien”. Walau segala aksinya bertujuan untuk menyelamatkan umat manusia, tak jarang ia menembus batas-batas kedaulatan negara lain. Hal itu membawanya dalam berbagai masalah dan hal itu diperburuk oleh Lex Luthor (Nicholas Hoult) yang secara agresif membentuk opini publik untuk berseberangan dengan Superman. Lex menyakini bahwa tidak ada yang namanya manusia super yang “berhati murni”, pasti menyimpan niatan buruk.
Masalah Superman tidak berhenti di situ. Di sisi lain ia berjuang mempertahankan hubungannya dengan jurnalis Daily Planet, Lois Lane (Rachel Brosnahan). Walau di satu sisi Lois mengetahui identitas asli Superman, di sisi lain sebagai jurnalis ia merasa patut bersikap kritis akan eksistensi Superman di bumi sebagaimana disuarakan oleh Lex. Namun, tidak diketahui baik oleh Superman maupun Lois, Lex telah menyiapkan sebuah rencana untuk menundukkan Superman tidak hanya secara citra, tetapi juga secara fisikal.
Sejak film dimulai, dengan kisah yang coba disampaikan, kita bisa merasakan bahwa ini bukan Superman versi Zack Snyder yang “dipuja-puja” itu. Gaya visual dan penceritaan Gunn membuat film Supermannya terasa fantastis, pop, colorful, tak jarang terasa konyol dan absurd, namun terkontrol dalam kadar yang tepat agar tetap bisa terasa emosional, berbobot, dan grounded. Misi Gunn jelas: Mencoba kembali ke akar komik DC yang lebih ringan, tetapi tetap sinematik.

Superman (Source: IMDB)
Kemampuan Gunn dalam menjaga keseimbangan antara nuansa serius dan komedi yang menyenangkan memang patut diacungi jempol. Dikenal dengan keunikannya dalam mencampur elemen absurd dan emosional—hal yang terbukti berhasil di Guardians of the Galaxy—dan di Superman, pendekatan itu ternyata bisa ia paskan untuk Superman. Beberapa momen mungkin terasa over-the-top, bahkan “overstuffed”, namun justru hal ini memberi warna pada film yang memang ditujukan sebagai perayaan semesta DC.
Sosok Superman yang diperankan David Corenswet pun terasa berbeda dengan Superman-nya Henry Cavill. Superman di sini tampil dengan karisma yang hangat dan bersahabat, a symbol of hope yang meleset pada direksi Zack Snyder di trilogi Man of Steel, Batman v Superman, dan Justice Leage. Ia bukan hanya pahlawan super, tapi juga manusia yang memiliki rasa, nilai, dan kerentanan. Hal itu terasa pas dengan direksi cerita yang dibuat Gunn, perihal dunia yang tidak terbiasa menerima sosok baik hingga take it for granted atau bahkan mengutuk keberadaannya.
Seperti pepatah lama, every great hero needs great villain, treatment Gunn untuk sosok Lex Luthor pun terasa apik. Walau film Supermannya bisa terasa campy, ia tetap ingin menghadirkan Lex sebagai villain yang layak diperhitungkan oleh Superman. Lexnya ambisius, manipulatif, dan secretly so powerful hingga semua masalah yang ada di Metropolis tidak mungkin tidak ada keterlibatannya. Lex, arguably, adalah salah satu akting terbaik Nicholas Hoult yang lucunya juga mengikuti audisi sebagai Superman.

Superman (Source: IMDB)
Kekuatan karakter film Superman tidak berhenti di situ. Versi 2025 ini juga memberi ruang bagi karakter-karakter pendukung. Elemen-elemen seperti Krypto si anjing super, hingga kemunculan The Justice Gang yang terdiri atas Hawkgirl, Mr. Terrific, dan Green Lantern memberikan rasa bahwa film ini bukan hanya tentang Superman, tetapi bagian dari dunia yang lebih luas—membangun fondasi bagi DC Universe yang baru.
Perlu ditegaskan, bukan berarti film ini tanpa cela. Narasinya terkadang terlalu padat dan cepat, seolah ingin menjejalkan banyak hal dalam durasi yang terbatas. Beberapa subplot terasa belum matang, dan bisa jadi membingungkan bagi penonton yang belum familiar dengan dunia DC. Tapi kekurangan ini tidak mengganggu kesenangan secara keseluruhan. Film ini tetap menyenangkan untuk diikuti, dan bahkan layak ditonton ulang.
Secara keseluruhan, Superman (2025) adalah langkah awal yang solid bagi dunia DC di bawah arahan James Gunn. Ini adalah film yang tidak mencoba menjadi terlalu serius, namun tetap memiliki hati. Ia berhasil menggabungkan rasa hormat terhadap mitologi lama dengan semangat baru yang lebih ringan dan berani. Bagi penggemar Superman lama maupun baru, film ini adalah sebuah ajakan untuk terbang kembali bersama ikon legendaris ini—kali ini dengan senyuman.
MARTIN AXCEL






