Saw X (Source: IMDB)
Review Saw X: Mendefinisikan Ulang Sosok Jigsaw

“This is not a retribution. This is a reawakening.”

 

Ucapan John Kramer (Tobin Bell) di trailer seakan merangkum bagaimana kualitas Saw X yang mengubah anggapan perihal sosok Jigsaw dalam franchise Saw. Setelah selama ini hanya dianggap sebagai bentuk pengagungan terhadap genre torture porn, Saw X seakan mendefinisikan kembali arti dari sosok Jigsaw alias John Kramer. Jelasnya, penonton diajak mengulik sosok John Kramer sebagai manusia. 

 

Selama hampir dua dekade franchise berjalan, sosok John Kramer dan bagaimana ambiguitas moral dalam modus operandinya justru tenggelam lewat ‘pertikaian’ antara ‘murid-muridnya’, Amanda Young (Shawnee Smith) dan Mark Hoffman (Costas Mandylor). Baru setelah franchise ini berjalan hingga sembilan judul, akhirnya kita dapat mengenal sosok John Kramer dan bagaimana dia, melalui ambiguitas moralnya, menculik dan menciptakan jebakan maut. 

 

Sebagaimana di film pertama, John Kramer digambarkan sebagai pria tua yang sudah terdiagnosis kanker otak stadium akhir. Terdorong oleh betapa berartinya kehidupan, Kramer mulai melihat bagaimana dia bisa mengubah target/korbannya supaya lebih menghargai hidup dengan cara menjebak mereka dengan alat ciptaannya.

 

Saw X (Source: IMDB)

Saw X (Source: IMDB)

 

Di awal film, kita bisa melihat imaji John Kramer ketika menyaksikan salah satu tindakan pegawai rumah sakit yang hendak mencuri barang pasien. Dan, ketika si pegawai mengurungkan niat, rencana John pun buyar (yang sangat disayangkan karena menampilkan vacuum mata yang ditampilkan di poster). 

 

John Kramer tidak berubah menjadi maniak pembunuh berantai begitu saja. Ketika dia menyadari dirinya menjadi korban penipuan berkedok operasi pengangkatan kanker, dengan diri yang masih diperban dan dengan hadiah untuk mereka yang telah “mengobatinya”, John dan muridnya tidak segan-segan menculik Cecilia Pederson (Synnøve Macody Lund) dan komplotannya untuk bermain dalam permainan mautnya. 

 

Peter Goldfinger dan Josh Stolberg  selaku penulis menyediakan waktu panjang untuk memberikan gambaran jelas bagaimana John Kramer adalah John Kramer. Di balik kekejamannya, John adalah seorang manusia yang putus asa untuk mencari pengobatan bagi kankernya. Intinya, Saw X ingin menegaskan bahwa John bukanlah pembunuh, melainkan vigilante dan korbannya memang pantas dihukum karena kejahatan mereka. 

 

Saw X (Source: IMDB)

Saw X (Source: IMDB)

 

Jika sosok Jigsaw ingin dibandingkan dengan pembunuh berantai lainnya seperti Zodiac atau Ted Bundy, Kramer bukan sosok pembunuh berdarah dengan motif kesenangan.  Dia lebih menyerupai malaikat pembalas dendam yang meminta orang untuk mengakui kesalahan mereka dengan mengorbankan potongan tubuh mereka sendiri.

 

Acungan jempol layak diberikan kepada Tobin Bell yang menampilkan aura seorang John Kramer yang manusiawi. Dia secara convincing menampilkan sisi lembut John yang berkawan dengan seorang anak kecil di dekat tempat tinggalnya dan menyelamatkan sandera ketika berhasil menyelesaikan misi mereka), bukan sosok dibalik boneka Billy dengan perekam bertuliskan “Play Me”.

 

Nah, tidak asyik membicarakan film Saw kalau tidak membahas adegan-adegan sadisnya. Untuk adegan penyiksaan, tak perlu diragukan lagi hasil kerja  sutradara Kevin Greutert yang  menyutradari Saw VI dan Saw 3D dan mengedit film Saw lainnya. Ia  paham betul bagaimana menampilkan kesadisan ala permainan Jigsaw. Hasilnya visceral dan bikin ngilu. 

 

Saw X (Source: IMDB)

Saw X (Source: IMDB)

 

Meskipun penampilan adegan vakum mata sempat menjadikan arah film menjadi mudah diduga, namun akhirnya Greutert fokus menahan keinginannya untuk sesegara mungkin menumpahkan darah sebanyak mungkin. Ia memberikan penonton waktu mengikuti keseharian John. Namun, ketika akhirnya adegan penyiksaan dimulai, Greutert seakan mengikuti kata-kata John dalam trailer, “You want to be alert” dan membawa kita menikmati sajian penuh darah yang lebih segar dibanding film-film sebelumnya. 

 

Nah, sedikit catatan bagi kalian, Saw X secara kronoligis bukanlah film yang paling akhir. Sebaliknya, film ini lebih seperti prekuel dengan mengambil setting antara film pertama dan kedua. Memang, ada sedikit problem di mana Tobin Bell sudah terlihat lebih tua dibandingkan sosoknya dulu, namun hal itu dikamuflasekan sebagai dampak dari penyakit kankernya.

 

Melihat direksi barunya yang lebih manusiawi, mungkina kita bisa berharap franchise Saw berkembang ke arah yang lebih baru dengan menampilkan karakter John Kramer lebih dalam lagi.

 

 

 

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment