The Fantastic Four: The First Steps (Source: Disney)

Review Fantastic Four The First Steps: MCU OTW Comeback

Setelah 10 tahun berlalu dari mimpi buruk bernama Fant4astic (2015), Marvel Studios memberikan kita film Fantastic Four terbaik yang pernah ada, Fantastic Four: The First Steps. Sebagai film superhero keluarga pertama, film ini memberikan feeling menonton MCU Phase 1 yang ringan, hangat, dan fokus kepada karakter-karaternya, instead of sibuk membangun semestanya dan konflik besarnya. Apakah MCU comeback is real, guys? Saya bisa katakan, MCU sedang on the way ke sana.

 

Film ini membawa kita ke semesta baru, pada era 1960-an yang penuh warna. Jika kalian sempat merasakan kartun karya Hannah Barbera, The Jetsons, pada kanal Cartoon Network, nah setting film ini memiliki vibe yang kurang lebih sama. Ceritanya sendiri, obviously, dimulai saat sekelompok ilmuwan brilian Reed Richards (Pedro Pascal), Sue Storm (Vanessa Kirby), Johnny Storm (Joseph Quinn), dan Ben Grimm (Ebon Moss-Bachrach)  mendadak menjadi superhero usai menjalani misi ke luar angkasa. Sebuah badai kosmik secara tak terduga menghantam kapal mereka dan memberikan keempatnya kekuatan super saat kembali ke bumi. Oleh publik, mereka dijuluki The Fantastic 4.

 

The Fantastic Four: The First Steps (Source: Disney)

The Fantastic Four: The First Steps (Source: Disney)

 

Selang beberapa tahun sejak peristiwa tersebut, Sue dan Reed menikah. Keduanya pun memiliki seorang putra, yang diam-diam mutant berlevel omega, Franklin Richards. Di tengah-tengah juggling antara menjalankan peran sebagai orang tua dan pahlawan, sebuah ancaman kosmis datang menghampiri mereka. Shalla-Bal (Julia Garner), atau dikenal juga sebagai Silver Surfer, datang ke bumi untuk memberikan peringatan kepada umat manusia. Dalam waktu dekat, bumi akan dilahap makhluk kosmis, Galactus, yang kelaparan. Jika umat manusia ingin mereka selamat, Galactus mengajukan satu syarat, Fantastic 4 menyerahkan Franklin kepada dirinya.

 

Sebuah plot yang mungkin cukup standar untuk ukuran sebuah film superhero. Namun, kekuatan dari film ini adalah castnya di mana sangat, sangat perfect. Setiap pemeran berhasil menghidupkan karakter mereka dengan sangat baik, menciptakan sebuah ansambel yang solid dan penuh chemistry. Shout out untuk Vannesa Kirby yang berkali-kali merebut perhatian. Ia sangat powerful namun punya hati yang besar.

 

Apakah menelan penampilan dari  sang leader, Reed Richards? Tidak juga. Porsi Sue Storm cukup seimbang dengan karakter Reed yang sangat logical dan penuh perhitungan. Pedro sukses menghidupkan karakter yang mengalami dilema moral ketika mendapati kepandaiannya belum tentu bisa menyelamatkan umat manusia dan Franklin dari Galactus. Silver Surfer di sini juga cantik poll. Julia Garner memainkan Shalla-Bal bagai duri di bunga mawar, cantik namun mematikan.

 

The Fantastic Four: The First Steps (Source: Disney)

The Fantastic Four: The First Steps (Source: Disney)

 

Bagaimana dengan karakter Johnny Storm? Ia salah satu kejutan yang menyenangkan. Awalnya, ekspektasinya adalah sosok flamboyan dan sedikit tengil ala Chris Evans di film lama Fantastic Four.  Namun, apa yang kita dapatkan justru Johnny sebagai karakter yang lebih matang dan diplomatis! Bahkan, dalam beberapa momen, terasa lebih bijak dibandingkan sang pemimpin, Reed Richards.

 

Sutradara Matt Shakman dengan cerdas memberikan porsi yang seimbang bagi setiap anggota, memastikan masing-masing dari mereka memiliki momen untuk bersinar dan memberikan alasan kuat mengapa mereka layak menyandang julukan “Fantastic Four”. Walau begitu, jika dilihat secara proporsional, jelas Johnny Storm dan Ben Grimm yang agak terkesampingkan di sini, walau tetap menonjol.



Dari segi direksi audio visual, film ini benar-benar memukau. Nuansa retro futurism-nya kental, otentik, berkat kehadiran Production Designer yang sebelumnya juga menggarap serial Loki. Hal ini menjadi kekuatan besar, tidak hanya dalam tampilan film, tetapi juga dalam strategi pemasaran yang sangat menarik perhatian.  Konsistensi visualnya pun luar biasa. Segala elemen, mulai dari desain set hingga properti kecil, tampak dipikirkan secara matang, khususnya dalam pemilihan warna yang seragam dan mudah dikenali. Inilah yang membuat identitas film terasa kuat dan mudah diingat oleh penonton. The Blue strikes again!

 

The Fantastic Four: The First Steps (Source: Disney)

The Fantastic Four: The First Steps (Source: Disney)

Tapi, poin yang paling menonjol jelas adalah penggambaran Galactus yang ukurannya benar-benar gigantic dan mengintimidasi. Gede banget pokonya. Sinematografi di film ini berhasil menangkap skala yang pas untuk membuat penulis bergetar melihat sosok Galactus. Suara dari Ralph Ineson menambah ketegangan di semua scene Galactus. Ini kebalikan total dari kasus Ant-Man Quantumania yang gagal total memberikan persepsi skala raksasa yang pas dan convincing.

 

Meskipun menyajikan ancaman sebesar Galactus, inti cerita The First Step terasa ringan, hangat, dan personal. Pesan moral yang tersirat pun cukup menyentuh: Bahwa kekuatan doa seorang ibu bisa menjadi kunci kemenangan. Pesan sederhana namun sangat mendalam bukan?

Namun, hal itu bisa menjadi pedang bermata dua. Pendekatan yang diambil Matt Shakman membuat film ini memiliki porsi action yang relatif minim karena fokus yang ditekankan pada pengembangan karakter dan ceritanya. Tidak berlebihan menyebut film ini terasa main aman atau tidak memaksimalkan potensinya.

 

The Fantastic Four: The First Steps (Source: Disney)

The Fantastic Four: The First Steps (Source: Disney)

 

Beberapa di antaranya,  masifnya Galactus tidak di deliver secara maksimal, kekuatan kosmiknya tidak terlalu menonjol. Kelemahannya lainnya adalah dunia di sekitar Fantastic Four yang terasa agak hampa. Latar belakang dunianya terasa kurang hidup, kurang terdevelop dibagian negara lain. Selain itu, scoring terasa kurang powerful di beberapa adegan penting. Musiknya seperti hanya lewat begitu saja.

 

In the end, perlu ditegaskan lagi, ini film Fantastic Four terbaik dibanding versi 2015 dan 2005. Kekurangan yang dimilikinya tidak mampu menghalanginya untuk memegang predikat tersebut. Marvel telah banyak belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya dan tidak berlebihan memprediksi mereka akan segera comeback ke masa kejayaannya. Kita semua berharap kualitas dan kapasitas itu terus dijaga sampai event besarnya, Avengers Doomsday.

 

IRFAN AP, RAINI RAHMI

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

15 + 17 =