Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)
Review Everything Everywhere All At Once: Multiverse of Madness

Film multiverse mendapatkan traksi beberapa tahun terakhir dan memuncak ketika Doctor Strange in the Multiverse of Madness dan Everything Everywhere All At Once rilis tahun lalu. Keduanya menyajikan konsep multiverse di mana dunia yang berbeda-beda timbul dari tindakan yang diambil tokoh film tersebut.

 

Doctor Strange in The Multiverse of Madness memiliki pendekatan yang ‘heroic’. Sang protagonis, Doctor Strange, dikisahkan melakukan perjalanan lintas semesta untuk mencegah Scarlet Witch mengacaukan universe lain. Dalam prosesnya, Doctor Strange malah ikut mengacak-acak semesta lain, bahkan membunuh variant dirinya yang berujung pada ancaman Incursion, tubrukan dua semesta.

 

Oleh berbagai kritikus, film itu dikritik. Mereka menganggap Doctor Strange in The Multiverse of Madness menyangkal judulnya sendiri, kurang gila. Perjalanan lintas semestanya cenderung ‘humble’, ‘limited’, dengan deviasi relatif terbatas. Fokusnya bahkan lebih ke Scarlet Witch yang mencari anak-anaknya di semesta lain.

 

Bagaimana dengan Everything Everywhere All At Once? Rilis berdekatan dengan Doctor Strange in The Multiverse of Madness, kedua film itu kerap diperbandingkan. Beberapa orang bahkan bertanya, “mana yang lebih madness di antara keduanya?”.

 

Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)

Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)

 

Perbedaan keduanya sangat kontras. Walaupun konsep awalnya sama, Doctor Strange, yang dimasak para eksekutif Marvel di kantor korporat, tidak sebanding dengan Everything Everywhere All At Once. Everything Everywhere All At Once benar-benar memahami definisi “ketidakterbatasan” multiverse. Dan, efeknya terlihat, film ini masuk nominasi Best Picture Oscar dan sejauh ini meraih jumlah penghargaan terbanyak untuk ajang penghargaan lainnya. Gila. 

 

Penulis tidak akan membandingkan kedua film lebih jauh. Penulis juga tidak akan memberikan kritik atau consumer guide soal plus minus film ini. Sebaliknya, penulis ingin bercerita soal apa yang dirasakan saat dan sesudah menonton Everything Everywhere All At Once.

 

Di babak pertama film ini, bertajuk Part I: Everything, duo sutradara Daniels (Swiss Army Man, Death of Dick Long) membangun fondasi multiverse yang mereka pakai. Quantum Many Worlds adalah acuan utama mereka di mana setiap keputusan akan berujung pada multiple timeline (baca: universe). Sebagai gambaran, satu lemparan dadu bisa menciptakan enam semesta karena (minimal) ada enam hasil yang bisa muncul, 1-6.

 

Fondasi itu disampaikan dari sudut pandang seorang perempuan bernama Evelyn Wang (Michelle Yeoh). Dia bukan heroine, apalagi superheroine. Dia adalah perempuan asal Tiongkok dan seorang istri paling biasa yang pernah ada. Ia tidak memiliki satupun hal menarik dalam hidupnya. Kelebihan dia? Banyak kekurangannya. Kekurangannya? Tidak punya kelebihan.

 

Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)

Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)

 

Tinggal di Amerika, Evelyn menjalankan bisnis laundromat dengan suaminya yang manis dan sigap, Waymond (Ke Huy Quan), serta putrinya yang bernama Joy (Stephanie Hsu). Walau begitu, kehidupannya jauh dari kata harmonis. Hubungannya dengan Waymond, misalnya, tidak direstui ayahnya yang tinggal bersama mereka, Gong Gong (James Hong). Waymond pun mempertimbangkan cerai dengan Evelyn.

 

Di saat bersamaan, Joy membenci Evelyn karena tidak merestui hubungannya dengan perempuan Amerika bernama Becky (Tallie Medel). Belum selesai, Evelyn juga berurusan dengan agen pajak Deirdre Beaubeirdra (Jamie Lee Curtis) soal laporan pendapatan yang bermasalah. Ruwet pokoknya!

 

Segalanya berubah ketika Evelyn berkunjung ke kantor pajak. Dirinya mengalami kontak dengan varian Waymond, Alpha Waymond, dari Alphaverse. Alpha Waymond mencoba menjelaskan kepada Evelyn bahwa multiverse itu nyata dan Evelyn adalah satu dari sekian juta Evelyn yang ada.

 

Meski Multiverse nyata adanya, Alpha Waymond yakin hal itu tak akan bertahan lama. Entitas nihilist bernama Jobu Tupaki berniat menghabisi seluruh multiverse, menyisakan nol semesta. Evelyn, kata Waymond, adalah satu-satunya harapan yang bisa menghentikan Jobu Tupaki karena ikatan keduanya.

 

Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)

Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)

 

Untuk mengalahkan Jobu Tupaki, Waymond mengatakan Evelyn harus menghubungkan pikirannya dengan berbagai varian dirinya, di manapun mereka berada, secara bersamaan. Dengan begitu, Evelyn bisa mengakses segala memori dan kemampuan variannya, membuatnya adaptif terhadap segala serangan yang dilancarkan Jobu Tupaki. Pertanyaannya tinggal siapkah Evelyn melakukan “lompatan semesta” dan melawan Jobu. Babak puncak, Part II: Everywhere, pun dimulai.

 

Seperti disampaikan di awal, penulis tidak akan bercerita banyak soal plus minus film ini, tetapi lebih ke experience-nya. Multiverse bisa jadi jualan utama film ini, namun pesan utamanya adalah masih bisakah kita merasakan cinta, menerima seseorang apa adanya, dan berdamai dengan diri sendiri saat hidup tak berjalan sesuai harapan.

 

Sebagai manusia, kalian sesekali pasti pernah berpikir betapa useless-nya diri jika dibandingkan dengan segala hal yang terjadi di sekitar, di alam semesta, atau mungkin multiverse yang tidak terbatas ini. Di sisi lain, pasti pernah terpikir juga “what if?” kalian mengambil keputusan yang berbeda di masa lampau.

 

Hal itu wajar. Manusia akan selalu mengejar hal-hal baru, achievement baru. Fakta menunjukkan tidak ada yang sempurna di dunia. Selalu ada yang kurang. Setiap orang memiliki masalah, merasakan kesedihan, dan mengalami kekurangan yang membuat mereka tak pernah puas akan apa yang ada.

 

Everything Everywhere All At Once mencoba memaparkan hal-hal tersebut kepada penontonnya. Sebagai manusia, sehebat apapun konsep yang dibangun di kepala, kita tidaklah se-spesial yang kita kira. Kita adalah figur yang akan selalu kurang, apapun bentuknya. Nah, respon yang perlu diberikan bukan malah mengejar “kesempurnaan” yang semu itu, melainkan merendahkan hati dan menghargai apa yang dimiliki.

 

 

Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)

Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)

 

 

Di film ini, kita diperlihatkan segala macam kemungkinan yang sebenarnya bisa terjadi dalam hidup Evelyn. Ada dunia di mana dia menjadi seorang ahli bela diri kungfu, menjadi artis, menjadi koki, bahkan ada dunia di mana ia memiliki jari-jari seperti sosis. Variannya tidak terbatas, memiliki beragam ciri khas, namun ada satu hal yang jelas: Tak ada satupun variannya yang sempurna.

 

Saat penulis melihat berbagai varian Evelyn, tidak timbul andai-andai ataupun keinginan-keinginan untuk kehidupan yang berbeda. Sebaliknya, hal itu tersebut membuat penulis lebih menghargai dan bersyukur apa yang dimiliki.

 

Ada satu poin di film ini yang betul-betul menohok: “Jika tidak ada yang benar-benar penting atau berarti, mengapa kita tidak bersikap baik saja?”

 

Poin tersebut sangat relevan bagi setiap karakter di film ini. Hal yang kurang dimiliki atau dirasakan oleh Evelyn dan keluarganya di awal film adalah kebaikan. Keduanya memandang negatif hidup mereka, berandai-andai akan kemungkinan lain yang lebih “sempurna”.

 

Jobu Tupaki yang nihilis, di mana memahami semua nilai-nilai dan keberadaan manusia tidak berarti, ironisnya malah sepaham dengan mereka. Segalanya berubah kita mereka mulai belajar untuk lebih menerima dan menghargai nasib dengan apa adanya.

 

Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)

Everything Everywhere All At Once (Source: IMDB)

 

Keajaiban Everything Everywhere All At Once tidak berhenti di situ. Di dalamnya, penonton akan menemukan setiap genre, mengalami setiap emosi. Ini adalah cerminan dari exposure berlebihan yang tak henti dari kehidupan di abad ke-21. Everything Everywhere All At Once adalah sebuah cinematic experience, dimana kita bisa menikmati kesederhanaanya yang juga dibuat sampai ke potensi maksimalnya.

 

Hal itu bisa terjadi bukan cuma karena gaya direction duo sutradara Daniels, sinematografi, editing, ataupun musik di dalam filmnya. Hal tersebut juga berkat penampilan-penampilan di film ini.

 

Stephanie Hsu sebagai Joy sangat membuka wawasan kita terhadap bagaimana rasanya menjadi seorang anak dengan segala permasalahan yang dihadapi, termasuk acceptance dari orang tua. Ke Huy Quan (Indiana Jones and Temple of Doom, Stand By Me) melakukan comeback menggelegar dengan acting laga dan drama yang membuat hati berdebar.

 

Jamie Lee Curtis (Halloween) tampil intimidatif sebagai seorang petugas pajak. Last but not least, Michelle Yeoh (Crazy Rich Asians, Crouching Tiger Hidden Dragon, Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings) tampil apik dan convincing sebagai ratusan varian Evelyn yang ditarik dari berbagai macam peran yang pernah ia mainkan.

 

Mengakhiri review ini, Everything Everywhere All At Once adalah film yang menantang. Perang multiverse hanyalah kedok. Ini film tentang cinta dan penerimaan yang kompleks dengan jutaan semesta menjadi latarnya. Ada berbagai macam perasaan dan pertunjukkan absurd di dalamnya, mulai dari seseorang dipukuli sampai mati dengan “mainan orang dewasa”, pertarungan dengan dua orang yang “bola-bolanya” terlihat, hingga dua batu berbicara yang dialognya membuat mewek. Don’t forget to breathe, film ini sungguh fantastis dan sungguh keterlaluan jika anda tidak/ belum menontonnya.

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment