28 Years Later: The Bone Temple (Source: IMDB)

Review 28 Years Later The Bone Temple: Lebih Seperti Side Story

28 Years Later: The Bone Temple adalah sebuah anomali. Pertama, jarang-jarang ada seri film yang sudah di-milking sampai film keempat seperti dirinya dan tetap solid secara kualitas. Kedua, jarang-jarang juga ada film yang solid secara kualitas walau tidak menjawab banyak hal yang diset pada prekuelnya. In short, 28 Years Later: The Bone Temple adalah film yang tidak hanya solid sajiannya, tetapi condong menceritakan hal baru instead of menjawab misteri dari prekuel-prekuelnya. It’s more like a detour than a sequel.

 

28 Years Later: The Bone Temple mengambil setting waktu dan tempat tepat setelah prekuelnya,  28 Years Later (2025). Sebagaimana diperlihatkan di ending 28 Years Later, Spike (Alfie Williams) mendapati dirinya ditolong oleh pria berpenampilan nyentrik, Jimmy Crystal (Jack O’Connell), dan pasukan Fingers-nya dari serbuan zombie Rage Virus. Merasa berhutang budi terhadap Jimmy dan memerlukan tempat aman, Spike memutuskan untuk bergabung ke komplotan pria tersebut.  Namun, apa yang ia dapat di luar ekspektasinya. 

 

Jimmy dan pasukan Fingersnya ternyata tidak hanya nyentrik, tetapi juga berbahaya. Mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, termasuk menggunakan kekerasan berlebih. Ia pun tega menyiksa mangsanya jika diperlukan, termasuk menguliti mereka hidup-hidup. Terjabak di situasi yang tidak ia inginkan, dengan jalan keluar yang nyaris nihil, Spike mendapat bantuan dari pihak yang tak terduga: salah satu bawahan Jimmy.

 

28 Years Later: The Bone Temple (Source: IMDB)

28 Years Later: The Bone Temple (Source: IMDB)

 

Di saat Jimmy dan komplotannya sibuk menguliti mangsanya, di tempat berbeda Doctor Kelson (Ralph Fiennes) melanjutkan eksperimennya. Ia belum menyerah mengembangkan serum untuk memulihkan Rage Virus. “Sahabat-nya”, sebuah zombie Alpha yang ia namai Samson (Chi Lewis-Parry), menjadi kelinci percobaannya. Seiring berjalannya waktu, koneksi mulai terbentuk di antara keduanya. Nah, yang tidak disadari Kelson, Jimmy tengah mengarah kepadanya. 

 

Tidak lagi disutradarai oleh Danny Boyle, 28 Years Later: The Bone Temple digarap oleh Nia DaCosta. Dia adalah sutradara perempuan di balik Candyman dan The Marvels. Rest assured, walaupun dia berpengalaman men-direct film Marvel Cinematic Universe, ia tidak mengubah ciri khas dari seri 28 Years Later.  Film ini tetap seperti film 28 Years Later, 28 Weeks Later, dan 28 Days Later yang kalian kenal.

 

Seperti yang bisa kalian lihat dari sinopsis di atas, fokus dari 28 Years Later: The Bone Temple bukan pada Spike, tetapi lebih kepada Jimmy dan Kelson. Walau tetap ada development pada kisah Spike, kisah coming of age dirinya tidak se-compelling dan sekompleks apa yang ditampilkan pada 28 Years Later. Tidak butuh waktu lama untuk Spike sadar bahwa ia membuat keputusan yang salah telah ke Jimmy, bahkan sejak ia memenangkan duel dengan salah satu bawahannya. Dari sana, kisah Spike cukup straightforward, perihal bagaimana bisa kabur. 

 

28 Years Later: The Bone Temple (Source: IMDB)

28 Years Later: The Bone Temple (Source: IMDB)

 

Hal itu kontras dengan prekuelnya. Spike di 28 Years Later lebih conflicted dibanding apa yang diperlihatkan di The Bone Temple. Tidak hanya ia merasa bersalah telah meninggalkan kampung halamannya, ia juga menyakini bahwa hidup mati ibunya bergantung pada dirinya. Ia pun mengalami titik titik dilematis di mana ia harus memutuskan apakah akan lanjut mengembara atau kembali ke kampung halamannya di Holy Island dan mengabdi untuk keselamatan warga Inggris yang tersisa di sana. 

 

Kebalikan dari Spike, Kelson mendapat porsi pengembangan yang lebih besar. Ia kian dekat dengan ambisinya untuk menyelamatkan umat manusia walau tetap tersisa pertanyaan, apakah ia sudah terlambat atau tidak. Di sisi lain, “persahabatannya” dengan Samson juga kian menarik, dua makhluk berbeda, human and zombie, yang gradually mulai mencapai titik temu perihal relasi mereka di dataran Inggris yang tak lagi manusiawi. Semua itu kian terasa compelling dan believeable berkat akting yang top tier dari Ralph Fiennes. 

 

What about Jimmy? Karakternya tidak sekompleks Kelson, buat it’s hard to not hate him. Jimmy adalah bajingan kelas tengik dengan kekejian setara Ramsay Bolton di Game of Thrones. He plays with his victim for his own satisfaction. Walaupun kesadisannya tidak over the top, aksinya tetap bisa bikin mual. However, parody predator seksual Jimmy Saville itu juga memiliki masalahnya sendiri. Berlagak bak dewa, ia harus konsisten memposisikan dirinya sebagai mahkluk superior agar para bawahannya menurut kepadanya. Di sinilah perjalanan Kelson dan Jimmy bertemu.

 

28 Years Later: The Bone Temple (Source: IMDB)

28 Years Later: The Bone Temple (Source: IMDB)

 

Di luar segitiga Spike, Jimmy, dan Kelson,  Samson adalah scene stealer. Bisa kalian lihat dari deskripsi di atas, Samson memiliki porsi yang lebih besar, sebesar badannya. Ada banyak momen di mana kalian bisa melihat dirinya kian “manusiawi”. Tanpa ragu, Samson pasti akan memiliki peran penting di penutup kisah 28 Years Later nanti. 

 

Kisah-kisah Spike, Jimmy, Kelson, dan, in some capacity, Samson, di atas disampaikan secara apik. You’ll be surprised, in terms of story, film ini menawarkan emosi yang lebih beragam. 28 Years Later: The Bone Temple tidak hanya menawarkan horror, tetapi juga komedi dan drama. Porsinya pas, tidak ada bagian yang berlebihan, membuat film ini terasa enjoyable, tidak membosankan, dari awal hingga akhir. Hal itu ditambah dengan beberapa info tambahan yang memperkuat world building dari kisah 28 Years Later plus sebuah cameo penting sebagai cherry on top-nya. 

 

Namun, perlu ditegaskan lagi, film ini lebih terasa seperti detour dibanding sekuel murni. Ibarat lagi jalan-jalan, film ini seperti sebuah spot yang dimampiri dulu sebelum mencapai tujuan akhir. Meski menawarkan info-info baru, 28 Years Later: The Bone Temple membiarkan sejumlah pertanyaan tidak terjawab seperti kondisi dunia di luar Inggris, nasib Jamie dan warga Holy Island, ataupun soal bagaimana caranya seorang Alpha bisa melahirkan anak normal. 

 

In the end, rest assured, 28 Years Later: The Bone Temple adalah sebuah sekuel yang solid dengan karakter-karakter yang unik, emosi yang bervariasi, banyak kejutan (bukan Jump Scare), dan dunia yang kian menarik untuk dijelajahi. Ini adalah pembuka 2026 yang apik dan Jujur jadi gak sabar sama sekuelnya. 

 

TAREEN IVENNA

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

15 − 6 =