5 CM Per Second (Source: IMDB)

Review 5 CM Per Second: Film Animasi Legendaris Makoto Shinkai

Arguably, 5 Centimeter Per Second adalah salah satu karya Makoto Shinkai yang legendaris. Kabar baiknya, film ini tayang kembali ke bioskop setelah belasan tahun lamanya. Dirilis pertama kali pada tahun 2008, film ini memiliki direksi yang kuat dalam menangkap keindahan dari hal-hal yang paling sederhana dan memnggunakannya sebagai story cues. Tak heran, banyak yang mengklaimnya sebagai salah satu pencapaian visual paling puitis dalam sejarah industri anime.

 

5 CM Per Second sendiri berkisah tentang Takaki Toono dan Akari Shinohara yang tak terpisahkan sejak mereka dipertemukan di bangku sekolah dasar. Kesamaan minat dan perasaan sebagai “orang asing” di lingkungan baru membuat keduanya tumbuh sebagai sahabat yang sangat dekat, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Namun, kebahagiaan tersebut mulai diuji ketika realitas memaksa mereka untuk berpisah mengikuti kepindahan keluarga masing-masing ke kota yang berbeda. Jarak yang awalnya hanya hitungan kilometer perlahan mulai terasa seperti jurang yang memisahkan kehidupan mereka.

 

Melalui tiga babak kehidupan yang melankolis, “Cherry Blossom”, “Cosmonaut”, dan “5 CM Per Second”, penonton diajak mengikuti perjalanan hidup Takaki yang terus dihantui oleh bayang-bayang masa muda yang hilang. Kekuatan utama yang langsung menyapa penonton tentu saja terletak pada visualnya yang luar biasa cantik. Direksi Makoto Shinkai yang begitu detail mampu mengubah pemandangan stasiun kereta yang dingin, jatuhnya kelopak bunga sakura, hingga hamparan bintang di langit malam menjadi kanvas yang bercerita.

 

5 CM Per Second (Source: IMDB)

5 CM Per Second (Source: IMDB)

 

Visual tersebut bukan hanya pemanis, melainkan instrumen utama yang mendukung atmosfer melankolis di sepanjang durasi film. Semua area di filmnya memang dicapture oleh Makoto sendiri dengan terjun langsung di lokasi asli.

 

Keindahan visual tersebut pun tidak berdiri sendirian, karena didukung sepenuhnya oleh penataan audio yang sangat mumpuni. Musik latar dalam film ini berperan sebagai jembatan emosi yang sangat efektif.  Bukan sekadar pengiring, tapi “ruh” dari setiap adegan. Audio berhasil menangkap kesunyian ruang di antara dua orang yang saling merindu di mana sangat mendukung narasi film ini  yang lumayan puitis.  Setiap monolog batin terasa seperti barisan sajak tentang kerinduan dan keputusasaan, memaksa penonton untuk tidak hanya menonton keindahan visual dan audio yang dihadirkan, tetapi juga merasakan beban emosional yang dibawa oleh para karakternya. 

 

Salah satu kritik utama adalah pacing-nya yang terasa agak melompat-lompat antar babak jika tidak ingin dikatakan berantakan. Bagi beberapa penonton, transisi waktu yang drastis ini bisa terasa menggangu. Transisi yang cepat dari masa sekolah menuju masa dewasa seringkali membuat beberapa penonton merasa kurang mendapatkan kedalaman eksplorasi karakter pada fase-fase tertentu. Durasi film yang relatif singkat ini sebenarnya menyimpan potensi narasi yang lebih luas, jadi format adaptasi Live-Actionnya nanti mungkin akan memberi kesempatan yang lebih baik bagi perkembangan emosinya.

 

5 CM Per Second (Source: IMDB)

5 CM Per Second (Source: IMDB)

 

Sifat film yang sangat puitis dan penuh metafora ini menciptakan ruang interpretasi yang sangat luas, yang bagi sebagian orang bisa menjadi pedang bermata dua. Penonton yang terbiasa dengan konklusi cerita yang gamblang mungkin akan merasa frustrasi dengan cara Makoto menutup film ini, karena setiap orang bisa saja memiliki perspektif yang berbeda. Semoga saat film LA-nya rilis, segala kekurangannya akan tertutup dengan approach yang berbeda.

 

IRFAN AP

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

seventeen + 2 =