Setahun sesuai dengan rencana Universal Pictures dan Jon M. Chu, merela merilis film Wicked: For Good tanpa menunggu ba bi bu. Prosesnya sudah dilakukan pada tahun 2022 bersamaan dengan film prekuelnya sehingga film ini masih segar untuk diingat pada November tahun 2024

Source: IMDB
Cerita masih melanjutkan prekuel sebelumnya dimana Elphaba (Cynthia Erivo) tidak henti-hentinya melawan propaganda The Wonderful Wizard of Oz (Jeff Goldblum) apalagi terhadap para hewan yang dianggap sebagai makhluk kelas rendah meski ia dicap sebagai Wicked Witch of the West. Untuk menaikan moral masyarakat, Madame Morrible (Michelle Yeoh) memalsukan status Glinda (Ariana Grande) menjadi Good Witch of the North dan menjodohkannya dengan Fiyero (Jonathan Bailey) yang juga berstatus sebagai kapten dari Witch’s Guard.
Komentar yang tepat untuk film ini adalah “Epicness of Wicked” dimana kemegahan yang totalitas. Sama seperti film pertamanya, Wicked Part Two dibuat layaknya produksi Hollywood of old yang mengandalkan set design yang luas dan megah. The CGI of today is just the cherry on top.

Source: IMDB
Mereka masih dan mampu mempertahankan dengan production quality, production design and costume design yang layak kembali memenangkan Oscar di kategori yang sama. Spares no expense. Bahkan mungkin lebih apik dan epik dari film pertama.
Misalnya mereka mampu memberikan sentuhan CGI yang modern pada aktor hewan, set kostum dan lainnya. Tapi mereka juga mempertahankan kualitas-kualitas klasik yang tetap elegan. Seperti bagaimana poster propaganda wicked witch dan font judul film retro yang menekankan bahwa ini adalah salah satu karya seni klasik yang tidak perlu sentuhan modernisasi.

Source: IMDB
Untuk urusan akting, Ariana Grande dan Cynthia Erivo yang masih tetap menjadi powerhouses. They nailed the acting and singing. Cerita Wicked Part 2 kali ini lebih intimate dan personal. Their acting reflected on the movie as in the singing part or just a dialogue. Hats off to Ariana and Cynthia.
Cynthia Erivo dan Ariana Grande mampu menunjukan akting yg bunglon dengan karakter manapun tanpa mengurangi nilai aktingnya. Menjadi bestie satu sama lain, intimate dengan Jonathan Bailey, hubungan persaudaraan yg rapuh dengan Marissa Bode, ketegangan dengan karakter Michelle Yeoh dan karakter lainnya.

Source: IMDB
Untuk supporting character lainnya memang screentime-nya tidak merata seperti film pertamanya. Tapi menjadikan fokus cerita yang lebih detail dengan motivasi karakter yang cukup kuat.
Lagunya? Tidak perlu ditanyakan. Beautifully written songs dengan spectacle super megah albeit with fewer dance numbers berkat cerita Part Two yang lebih intimate. “For Good” is a decent closing number tapi tetep gak bisa ngalahin “Defying Gravity”.

Source: IMDB
Selain drama musikal, mereka juga tetap mengangkat karya ini dalam bentuk satir terhadap rasisme yang terjadi pada banyak komunitas. Menggambarkan sebuah negara yang memberikan utopia palsu dan mereka sendirilah yg mengontrol rakyatnya
Sebelum menonton film ini, disarankan melakukan riset terhadap karya-karya Wicked: Musical. Riset spesifik pada Wicked Musical Stage karya Stephen Schwartz tahun 2003. Karena banyak kisah Wizard of Oz atau Wicked versi buku/pertunjukan panggung dengan penyampaian dan kisah yang berbeda.
Kalau Wicked Part One masih bisa dinikmati tanpa riset terlalu dalam pada kisah “The Wizard of Oz, Wicked: For Good” demands that you at least know about the story of “The Wizard of Oz”. Walau tidak banyak, beberapa ceritanya berjalan paralel dengan The Wizard of Oz dan banyak context bisa hilang kalau nonton Wicked: For Good tanpa The Wizard of Oz.

Source: IMDB
Film yang sangat layak kita nikmati karena mampu mempertahankan kualitas yang baik. Wicked: For Good adalah salah satu film musikal yang mengadaptasi tanpa mengurangi esensi utama cerita bahkan menunjukan ‘keajaiban’ World of Oz yang luar biasa pada era modern ini.
Dimas Fadhillah dan Fahreza Purnama
Stills (Photos) Source: IMDb.





