Review Senin Harga Naik: Tak Sempurna, Tapi Tulus

Setelah berhasil memperoleh sekitar 3 Juta penonton lewat film Komang, lebaran tahun ini Starvision akan mempercayakan slot film lebaran mereka pada “Senin Harga Naik” yang disutradarai oleh Dinna Jasanti (Dua Hati Biru, My Annoying Brother).

 

Seperti film periode Lebaran kebanyakan, film ini berfokus pada kisah keluarga. Ensemble utamanya adalah Ibu Retno (Meriam Belina), pemilik toko roti legendaris bernama Mercusuar, yang memiliki tiga anak yaitu Amal (Andri Mashadi), Mutia (Nadya Arina), dan Tasya (Nayla Purnama). Setelah lebih dari 30 tahun berbisnis, Ibu Retno mendapatkan kendala tak terduga ketika tanah tempat Toko Roti Mercusuar-nya berdiri hendak dibeli oleh sebuah perusahaan properti.

 

Senin Harga Naik (Source: Starvision)

 

Mutia, yang ndilalah bekerja pada perusahaan properti tersebut, sialnya ditunjuk sebagai perwakilan perusahaan untuk menyelesaikan carut marut pembebasan lahan milik ibunya. 

 

Mutia dianggap capable “membebaskan” tanah ibunya karena ia selalu berhasil menggunakan pendekatan emosional. Tidak sedikit orang tua yang berhasil ia bujuk untuk melepas tanah mereka agar bisa diubah menjadi properti. Namun, untuk meyakinkan ibunya sendiri, jelas bukan hal yang mudah. Dari situ, konflik dan dilema mulai timbul antara Mutia dan keluarganya. Ia harus memilih antara melindungi bisnis keluarganya atau melindungi karirnya. 

 

Senin Harga Naik (Source: Starvision)

 

Ada beberapa tantangan yang harus Mutia hadapi. Tantangan pertama, ia harus pulang dulu ke rumah ibunya setelah pergi merantau untuk waktu yang lama. Tantangan selanjutnya, membujuk ibunya yang punya sifat keras kepala dan berpendirian kuat. 

 

Tak disangka, pekerjaan sulit ini malah menjadi moment rekonsiliasi Mutia dengan ibunya. Di tengah hubungannya yang membaik, Mutia harus tetap berpacu dengan waktu untuk meyakinkan Ibu Retno menerima uang kompensasi dan menjual Toko Roti Mercusuar.

 

Senin Harga Naik (Source: Starvision)

 

Dari keseluruhan film, Senin Harga Naik berhasil mendeliver perasaan yang kuat lewat penampilan cast yang tak berlebihan. Sulit untuk memberikan spotlight bagi salah satu pemeran, karena semuanya bermain cukup seimbang dan tak berusaha untuk mendramatisir setiap adegan atau emosi yang ada.

 

Sayangnya, Senin Harga Naik masih punya kesalahan formulasi cerita yang biasa ditemui pada film-film Indonesia. Cerita yang sudah cukup kompleks ditimpa dengan sub plot bertubi-tubi. Permasalahan ini nampaknya disadari dan coba diatasi dengan langsung memberikan konflik di awal film. Hal ini malah membuat pace cerita jadi sedikit berantakan di awal, mereda di pertengahan, dan dirasakan lagi di akhir film. 

 

Senin Harga Naik (Source: Starvision)

 

Di sisi lain, sulit juga untuk penonton bisa mengikuti latar suasana maupun alur waktu pada film ini. Ada beberapa bagian yang terasa patah karena transisi yang kurang smooth dari satu bagian ke bagian yang lainnya. Ajaibnya, pace cerita yang kurang rapih tak menjadi masalah untuk penonton bisa merasakan emosi dari setiap kisah para tokohnya.

 

Layaknya sebuah roti, film ini berhasil memberikan kehangatan di balik lapisan-lapisan emosi yang cukup kompleks. Ada momen-momen di dalam film ini, yang berhasil membuat air mata mengalir pelan dari sudut mata saya. \

 

Senin Harga Naik (Source: Starvision)

Di tengah ketidaksempurnaannya, Senin Harga Naik tetap berhasil memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan sekaligus menghangatkan. Memang bukanlah tipikal film yang solid, tetapi Senin Harga Naik tetap worth it untuk disaksikan bersama keluarga di moment lebaran tahun ini Senin Harga Naik tayang 18 Maret 2026 di bioskop kesayangan anda.

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

19 − 5 =