Para Perasuk (Source: IMDB)

Review Para Perasuk: Jika Kerasukan Menjadi Hiburan

Para Perasuk, film terbaru sutradara Wregas Bhanuteja (Penyalin Cahaya, Budi Pekerti), adalah kandidat kuat film Indonesia terbaik tahun ini. Ini adalah film paket komplit. Penonton tak hanya akan mendapatkan kisah yang compelling, tetapi juga presentasi budaya yang memanjakan indera dan hal-hal provokatif yang membuat badan begidik.

 

Premis dasar film ini sendiri unik: Apa jadinya jika kerasukan itu hiburan. Ya, film berdurasi 2 jam lebih ini memposisikan kerasukan sebagai escapism dari rumitnya dunia. Mereka yang kerasukan bukan kehilangan kendali akan tubuhnya, tetapi masuk ke alam roh. Di sana, mereka berpesta pora, dimanja sedemikian rupa.

 

Hiburan tersebut dipresentasikan lewat sebuah pesta rakyat bernama Sambetan. Ada dua elemen utama yang mengiringinya, Pelamun dan Perasuk. Pelamun adalah mereka yang kerasukan, sementara Perasuk adalah musisi yang mengantar mereka ke alam roh.

 

 

Para Perasuk (Source: IMDB)

Para Perasuk (Source: IMDB)

 

Tugas Perasuk tidak berhenti di situ. Mereka bertanggung jawab memastikan para Pelamun bersenang-senang di alam roh. Tiap bait yang mereka mainkan berdampak pada sensasi yang dirasakan. Salah-salah, Pelamun bisa merasakan sensasi yang tidak diharapkan, bahkan kesakitan.

 

Total ada 20 roh hewan yang dikawal Perasuk. Ada roh Bulus, Kupu-kupu, Kerbau, Lintah, dan sebagainya. Semua menawarkan sensasi yang berbeda. Mereka yang kerasukan dan masuk ke alam roh Bulus akan menganggap segala serangan fisik sebagai pijatan. Sementara itu, roh kupu-kupu akan memberikan berbagai sensasi rasa ke indra pengecap.

 

Tokoh utama film ini, Bayu (Angga Yunanda), adalah Perasuk di desa Latas. Ia adalah Perasuk pemula yang terbuang dari ibu kota dan mencari peruntungan di perdesaan. Kesempatan datang ketika guru Sambetan desa Latas, Asri (Anggun), tengah mencari Perasuk baru untuk rangkaian pesta penggalangan dana.

 

Dana yang digalang itu sendiri untuk menyelamatkan mata air sumber roh di Latas. Sebuah developer properti, Wanaria, berniat menyulap Latas menjadi mega proyek mereka. Lewat dana yang digalang, Asri berharap bisa membeli mata air tersebut sebelum Wanaria. Dengan begitu, para Perasuk baru seperti Bayu tetap bisa mencari roh di sana.

 

 

Para Perasuk (Source: IMDB)

Para Perasuk (Source: IMDB)

 

Bayu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, namun tak semudah yang ia bayangkan. Di satu sisi, ia menghadapi persaingan ketat dari sesama Perasuk, Ananto (Bryan Domani) dan Pawit (Chicco Kurniawan). Di sisi lain, ia berkonflik dengan ayahnya (Indra Birowo) yang ingin menjual rumah mereka ke Wanaria. Hal itu diperumit fokusnya merebut hati seorang Pelamun, Laksmi (Maudy Ayunda).

 

Hal-hal di atas memberikan tekanan besar pada Bayu untuk membuktikan dirinya, baik ke sesama Perasuk, ke ayahnya, maupun ke Laksmi. Ia yang awalnya memandang Sambetan sebagai mata pencaharian, perlahan mulai memandangnya sebagai pertaruhan. It’s do or die. Jika gagal, habislah dia.

 

Pada hakikatnya Para Perasuk adalah kisah soal ambisi dan obsesi dengan Sambetan dan penggusuran sebagai latarnya. Kisahnya berpegang pada argumen bahwa tekanan sosial dan standar kemapanan yang toxic bisa mendorong sesorang kelewat ambisius untuk membuktikan dirinya. Hal itu baik untuk keluar dari jurang kemiskinan ataupun sekedar membuktikan nilai dirinya.

 

Ambisi tersebut tak jarang berubah menjadi obsesi. Pada titik tersebut, seseorang bisa melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, bahkan menyingkirkan orang-orang yang menyayanginya. Dalam film Para Perasuk, situasi destruktif tersebut yang dialami Bayu.

 

 

Para Perasuk (Source: IMDB)

Para Perasuk (Source: IMDB)

 

Jika harus dibandingkan dengan film lain, film ini memiliki spirit yang sama dengan Marty Supreme, Kokuho, atau bahkan Tunggu Aku Sukses Nanti yang belum lama ini tayang. Kisahnya sama-sama berfokus pada ambisi, obsesi, yang berakar dari tekanan untuk membuktikan diri. Namun, ada satu hal yang membuat Para Perasuk begitu berkesan dibanding ketiga film tersebut: Delivery-nya.

 

Para Perasuk tidak tiba-tiba serius dari awal. Sebaliknya, Para Perasuk dibuka dengan begitu “ceria”, nyaris tanpa drama. Anda akan dibuat terpingkal-pingkal dengan segala kekacauan yang diakibatkan Bayu terhadap para Pelamun di alam roh. Dialog antara Bayu denga Laksmi pun lebih menyerupai romcom remaja yang bikin mesam mesem sendiri.

 

Semua keceriaan itu adalah foreshadow dari segala masalah yang menimpa Bayu di kemudian hari. Secara rancak, Wregas menjadikan elemen-elemen “ceria” tadi sebagai hal yang menekan Bayu untuk bertindak ekstrim. Ia tidak ingin kehilangan momen-momen “ceria” tersebut tanpa menyadari apa yang ia lakukan justru berdampak sebaliknya.

 

 

Transisi tersebut begitu seamless yang membuat pengembangan karakter Bayu terasa begitu convincing. Dan, secara gradual, Wregas terus menaikkan intensitas dari kisah Bayu hingga pada satu titik mengambil direksi yang begitu dark. Saking darknya, tidak akan mengagetkan jika kalian akan menutup mata dan berkata “he’s beyond saving”. Tetapi, Wregas membuktikan sebaliknya. Ia bahkan bisa menghadirkan resolusi yang begitu satisfying atas situasi yang dihadapi Bayu.

 

 

Para Perasuk (Source: IMDB)

Para Perasuk (Source: IMDB)

 

Compellingnya delivery kisah Para Perasuk tak lepas dari performa castnya. Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun, Bryan Domani, Chicco Kurniawan, dan Indra Birowo bring their A game. Mereka tampil total untuk menghidupkan karakter masing-masing.

 

Bayu mungkin salah satu karakter tersulit yang pernah diperankan Angga selain Bima di Dua Garis Biru. Karakter ini menuntut fisik dan mental Angga, terlebih pada bagian-bagian di mana Bayu mulai memasuki fase destruktif. Hal yang sama berlaku pada Maudy Ayunda. Ia berhasil tampil sebagai Laksmi yang walau tampak manis dan fun, namun menyimpan luka dan trauma yang begitu mendalam. Kemampuan acting Maudy terlihat ketika trauma Laksmi berbenturan dengan fase destruktif Bayu.

 

Anggun pun tampil ciamik. Karismanya begitu terasa sebagai Guru Asri di mana kemampuan vokal-nya pun ikut unjuk diri. Namun, aktor yang benar-benar mencuri perhatian adalah Bryan Domani. Karakter Ananto yang ia perankan jauh dari tipikal karakter yang biasa ia mainkan. Instead of menjadi cowok cool yang biasa ia perankan, Bryan justru menjadi cowok yang ‘komikal’. Dengan suara cempreng, aksen Betawi medok, dan gaya sok asyik, ia berperan besar menceriakan first act Para Perasuk.

 

Tentunya perhatian yang diberikan Wregas pada pengembangan karakter-karakter Para Perasuk tidak serta merta membuatnya mengesampingkan Sambetan yang menjadi latar film. Sambetan adalah tool Wregas untuk menggambarkan fase-fase konflik yang ada di film ini, sehingga perhatian yang ia berikan tak kalah besar.

 

 

Para Perasuk (Source: IMDB)

Para Perasuk (Source: IMDB)

 

Untuk benar-benar menghadirkan Sambetan sebagai pesta pora di alam roh, Wregas tidak hanya memperhatikan koreografi dari para Pelamun. Ia juga memberi atensi ke aransemen musik, bait-bait pantun mantra, wujud roh, hingga visualisasi alam roh yang condong ke kontemporer dibanding tradisional. Final produknya begitu otentik. 

 

Kalian akan banyak dikejutkan dengan cara Wregas memvisualisasikan sensasi yang dirasakan para Pelamun di alam roh. Mulai dari panti pijat, tempat cuci mobil, hingga jemuran kasur adalah sebagian kecil dari hal-hal yang akan kalian lihat. Tak jarang visulisasi yang ditampilkan begitu trippy, ala fever dream, hingga mengingatkan dengan Everything Everywhere All At Once-nya Daniels.

 

Nah, untuk menegaskan pembeda antara alam roh dan dunia nyata, Wregas membedakan aransemen musik yang digunakan. Dari alunan melodi tradisional di dunia nyata, Wregas memajukan industrial rock ala Nine Inch Nails sebagai theme-nya alam roh. Gak umum, tetapi mendengarnya jelas mengundang senyum. Namun, ketika kisah Bayu mulai memasuk fase yang lebih depressing, batas antara alam roh, ilusi, dan realita jadi tipis.

 

Perhatian pada elemen-elemen di atas membuat Para Perasuk an audio visual feast, a sensory overload. Enak dipandang dan asyik didengar. Pada satu bagian bahkan sukses bikin saya kelaparan. Tak heran ketika mengetahui Wregas menghabiskan lebih banyak waktu di pasca produksi dibanding produksi. Hasilnya kentara, Para Perasuk sukses menampilkan kerasukan sebagai hiburan. Saya tak akan kaget kalau film ini akan memunculkan ketertarikan akan tradisi atau budaya yang “bermain-main” dengan roh seperti Kuda Lumping.

 

 

Para Perasuk (Source: IMDB)

Para Perasuk (Source: IMDB)

 

Harus diakui, direksi yang diambil Wregas pada film ini menunjukkan evolusinya sebagai sutradara. Dibandingkan kedua film sebelumnya, Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, direksi Wregas terasa kian matang dan fresh. Selain kisah yang disampaikan kian berani tanpa mereduksi kritik sosialnya, ia juga banyak bereksperimen menggunakan CGI dan practical effect untuk memberikan sensasi unhinged di alam roh dan alam pikiran Bayu.

 

Tentunya hal tersebut tidak serta membuat film ini bebas masalah. Ada part-part di mana CGI yang ditampilkan terasa setengah matang. Selain itu, seperti kedua film Wregas sebelumnya, masih terdapat beberapa bagian yang production valuenya terasa ‘murah’. Namun semua itu terbayar oleh treatment terhadap Sambetan dan sensasi di alam roh yang larger than life.

 

In the end, Para Perasuk adalah film terbaik Wregas Bhanuteja. Direksinya kian matang yang tampak jelas pada naskah, presentasi audio visual, dan teknik storytellingnya. Hal itu membuat Para Perasuk tak hanya berhasil menghadirkan kerasukan sebagai hiburan, tetapi juga alat kritik terhadap standar kemapanan yang toxic dan mencekik. Tidak kaget jika Para Perasuk nantinya masuk nominasi atau bahkan menjadi film panjang terbaik pada Festival Film Indonesia 2026.

 

Sedikit trigger warning, ketika kisah Para Perasuk mulai mengambil direksi yang menyerupai psychologial thriller, akan ada beberapa visualisasi kekerasan dan penyiksaan yang bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan borderline disturbing. Therefore, watch it with full consideration.

 

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

4 × 2 =