Salah satu tanda bahwa sebuah film terasa impactful adalah ketika ia tetap tinggal di kepala kita jauh setelah layar berakhir dan kemudian muncul kembali secara tak terduga, bahkan di saat kita mencoba tidak memikirkannya. Setidaknya, begitulah saya mengukur dampak sebuah film dan The Social Reckoning adalah salah satu contohnya.

Jeff Horwitz (Jeremy Allen White) and Frances Haugen (Mikey Madison) in Columbia Pictures’ THE SOCIAL RECKONING.
Hal tersebut rasanya cukup menarik jika melihat bagaimana film ini membawa kita kembali ke dunia Facebook. Ditulis dan disutradarai oleh Aaron Sorkin, penulis naskah The Social Network, The Social Reckoning memang masih berada di semesta yang sama dengan prekuelnya. Tetapi, film ini bukanlah sekuel langsung. Jika The Social Network bercerita mengenai bagaimana Facebook dibangun, maka film ini melihat bagaimana media sosial tersebut berkembang dan menjadi bagian besar dari kehidupan manusia.
Berlatar dua dekade setelah Facebook didirikan, The Social Reckoning mengikuti Frances Haugen (Mikey Madison), seorang insinyur Facebook yang mulai mempertanyakan bagaimana algoritma perusahaan bekerja dan dampak yang ditimbulkannya. Ia kemudian menghubungi Jeff Horwitz (Jeremy Allen White), seorang jurnalis teknologi dari The Wall Street Journal. Bersama-sama, keduanya mencoba mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik sistem yang selama ini menentukan apa yang kita lihat, baca, dan konsumsi di media sosial.

Mark Zuckerberg (Jeremy Strong) in Columbia Pictures’ THE SOCIAL RECKONING.
Sebagai seseorang yang bekerja di bidang teknologi informasi, saya paham betul bagaimana algoritma dirangkai dan bekerja sesuai kemauan pembuatnya. Ketika menyaksikan The Social Reckoning, ada banyak hal menarik yang saya dapatkan mengenai pandangan Zuckerberg dan keputusan-keputusan yang dibuatnya dalam menyusun algoritma. Terlebih, film ini juga memperlihatkan bagaimana pengejaran akan “keuntungan” dapat dengan mudah menggeser prinsip dan tujuan awal sebuah perusahaan dibangun.
Namun, keputusan The Social Reckoning untuk memberikan banyak perhatian pada bagaimana algoritma Facebook dirangkai tak jarang membuatnya terasa membosankan. Banyak istilah yang akan sulit dimengerti oleh orang-orang yang tak mengenal dunia teknologi atau algoritma. Hal itu diperumit dengan dialog penuh kiasan. Namun, bagi yang bisa menangkap jeli detail atau makna tersirat di setiap dialog, maka penulisan film ini termasuk yang cukup baik, rapih dan menarik. Sedikit banyak mengingatkan dengan The Big Short.

Mark Zuckerberg (Jeremy Strong) and Charlie Garrity (Bill Burr) in Columbia Pictures’ THE SOCIAL RECKONING.
Film ini juga berjalan dengan alur maju-mundur. Namun, hal tersebut tidak menyulitkan penonton untuk mengikuti timeline ceritanya karena setiap kepingan waktu disusun dengan sangat baik, sesuai dengan apa yang ingin disampaikan. Dari segi teknis, tentu tidak banyak hal yang menggelegar atau fantastis. Tidak jelek, tetapi juga tidak bisa dibilang istimewa. Saya akan menyebutnya cukup. Setidaknya, aspek teknis tersebut tidak sampai mengganggu penonton untuk menikmati ceritanya.
Pada akhirnya, The Social Reckoning mungkin bukan film yang akan langsung terasa menyenangkan untuk semua orang. Dialog yang padat, istilah teknologi yang cukup berat, serta alurnya yang maju-mundur membutuhkan perhatian lebih dari penonton. Namun, justru setelah film berakhir, banyak hal yang masih tertinggal dan terus mengendap di kepala. Ia membuat saya kembali memikirkan bagaimana sesuatu yang selama ini kita anggap sederhana ternyata bisa memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap cara kita melihat dunia. Dan mungkin, di situlah The Social Reckoning benar-benar bekerja.






