JAKARTA – Indonesia Comic Con (ICC) 2026 memantapkan dirinya sebagai salah satu event pop culture paling dinanti di Indonesia. Digelar di Jakarta International Expo (JI Expo) dari 3-4 Oktober 2026 kemarin, event yang digelar Panorama Group itu ramai didatangi ratusan penggemar. Namun, sebagai event yang sudah memasuki tahun ke-10nya, bahkan mengusung tema “A Decade of Pop Culture Fiesta”, Comic Con 2026 tidak meninggalkan kesan mendalam.
Salah satu hal yang membuat Comic Con tahun ini kurang berkesan adalah lineup guest star-nya. Dari sekian tahun mengikuti Comic Con, mungkin ini Comic Con tersepi dari segi guest star. Mereka hanya mengandalkan satu tamu sebagai anchor figure, Mackenyu, dan tidak lebih dari itu. Walaupun dari sisi cosplay ada Hane Ame yang menarik perhatian, tidak ada banyak sosok yang bisa membuat kami betah bertahan di sana.
Kondisi tersebut diperburuk kondisi Hall yang belum ideal. Dilokasikan di salah satu hall baru JI Expo, Comic Con tahun ini berlangsung di ruangan yang belum sepenuhnya rampung digarap. Lantai dan temboknya masih berwujud semen dengan karpet, panel, ataupun keramik permanen belum tampak. Walhasil, di beberapa sisi hall masih terasa kotor dan berdebu.

Indonesia Comic Con (Source: 2026)
Lini tenant yang hadir, terutama dari sektor budaya pop, tidak membantu situasi di atas. Tidak banyak pemain besar yang hadir dengan aktivasi yang nyantol di kepala maupun di hati. Ambil contoh booth Clayface dari DC Studio yang merupakan bagian dari promosi filmnya. Tidak ada satupun bentuk kegiatan, baik announcement maupun games, yang membuat orang-orang tertarik menghadiri booth-nya yang berakhir menjadi booth “mati”.
Marvel Studios, selaku kompetitor DC Studio, malah sepenuhnya absen dari Comic Con tahun ini. Hal tersebut sungguh di luar dugaan mengingat Avengers: Doomsday akan tayang tidak lama lagi. Sebagai salah satu event Pop Culture “senior” di Indonesia, Comic Con adalah tempat yang tepat untuk mempromosikannya. Namun, Marvel lebih memilih untuk fokus ke card gamnenya, Marvel Hero Rush, entah apa alasannya.
Berbicara soal Card Game, hal tersebut menjadi salah satu elemen paling menonjol di Comic Con tahun ini. Banyak tenant memperkenalkan atau mempromosikan card gamenya, di mana beberapa di antaranya adalah pemain baru. Salah satunya datang dari Pionicon, pemilik IP “Si Juki”, yang memperkenalkan TCG bernuansa satir bernama “Dark Era”. Dua starter deck-nya pun “meminjam” berbagai isu yang erat dengan pemerintahan sekarang, membuat keduanya dinamai Solo Empire dan Sawit Empire.
Kian Kehilangan Identitas?

Indonesia Comic Con (Source: 2026)
Situasi Comic Con tahun ini tak lepas dari kian luntur identitas awalnya. Ketika pertama kali dilaksanakan di tahun 2015, Comic Con masih identik dengan pop culture asal western, seperti Batman dan Superman. Hal ini menjadikannya oases di tengah banyaknya event-event jejepangan di Indonesia.
Namun, seiring berjalannya waktu, asimilasi terus terjadi. Comic Con mulai mengadopsi elemen jejepangan ke dalam lini programnya. Lama kelamanaan, ditambah dengan fase kelam di skena film superhero western, elemen Jepang kian dominan di lini program Comic Con.
Hal ini tidak bisa sepenuhnya dikatakan negatif. Pada akhirnya event harus mengikuti trend yang berkembang sehingga Comic Con berevolusi menjadi seperti yang sekarang kita dapati. Namun, ketika identitas aslinya kian hilang, hal itu menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.
Makin Perhatian pada Industri IP Lokal

Indonesia Comic Con (Source: 2026)
Indo Comic Con tahun ini tak sepenuhnya buruk. Meski kurang berkesan, ada beberapa hal baru yang patut di-highlight. Salah satunya adalah keberadaan Jakarta Futur Connectiva. Diinisasi melalui kerjasama antara Panorama Group, selaku kreator Indo Comic Con, dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, program ini dihadirkan untuk memungkinkan para kreator IP lokal bisa saling berjejaring, berjualan derivatif, sekaligus mendapatkan feedback dari publik.
Spot khusus disiapkan untuk program ini. Namun, karena berada di ruangan yang sama dengan lokasi komersial Comic Con, Jakarta Futura Connectiva tidak berjalan sesuai harapan. Situasi di spot tidak cukup kondusif dam tenang untuk para kreator dan publik bisa berjejaring dengan nyaman.
Di sisi lain, tidak ada cukup introduksi kepada publik perihal siapa para pemain IP lokal yang hadir di sana. Jadwal program pun tidak tersampaikan dengan baik. Walhasil, ketika para kreator itu diberi panggung untuk memamerkan ip-ip mereka ke publik, tidak cukup banyak publik yang menyadari keberadaan mereka, berujung pada kursi-kursi hadirin yang lebih banyak kosong dibanding terisi.

Indonesia Comic Con (Source: 2026)
Keberadaan lorong berisi para artist comic dan ilustrator lokal juga patut di-highlight. Keberadaan mereka memberi ruang kepada publik untuk mengenal sosok-sosok di balik komik atau ilustrasi terkenal. Bahkan, salah satu comic artist langganan DC dan Marvel, Ario Anindito, memberi kesempatan pada artist-artist lokal untuk berkonsultasi dengannya.
In the end, it’s not the end of the world or the end of Indonesia Comic Con. Meski presentasinya tidak lebih baik dibanding tahun sebelumnya, upaya Comic Con untuk menghadirkan program di mana kreator-kreator IP lokal bisa berjejaring, berjualan, dan mendapatkan feedback publik atas karya-karya mereka patut diapresiasi. Spotlight terhadap card game juga menunjukkan event ini sadar akan tren yang berkembang. Namun, kembali, aktivasi yang engaging dan kenyamanan audience tidak bisa dikesampingkan.
ISTMAN MP





