Memasuki kuartal terakhir tahun 2025, deretan film yang digadang-gadang sebagai kandidat Oscar mulai hadir di layar bioskop dan dapat dinikmati oleh penonton umum. Minggu ini, setelah suguhan karya terbaru PTA berjudul One Battle After Another, giliran sutradara kawakan Park Chan-wook yang kembali mencuri perhatian.
Karyanya yang berjudul No Other Choice, pemenang International People’s Choice Award di gelaran TIFF tahun ini, akhirnya tayang dan siap mengajak penonton menyelami kisah penuh lika-liku kejutan tanpa ampun

No Other Choice (Source: CBI Pictures)
No Other Choice berpusat pada kisah Man-Soo (Lee Byung-Man), seorang manajer sukses yang telah bekerja di sebuah perusahaan kertas selama 25 tahun. Pada awalnya, kita akan diperlihatkan potret sempurna kehidupan Man-Soo: Memiliki keluarga yang bahagia dengan seorang istri bernama Miri (Son Ye-Jin), dua orang anak, serta dua anjing peliharaan yang lucu.
Kebahagiaan dan kesempurnaan itu dirayakan Man-Soo dengan rutin menggelar makan siang bersama keluarganya di taman samping rumah, diikuti dengan obrolan hangat dan pelukan.

No Other Choice (Source: CBI Pictures)
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Dalam rangkaian sekuens berikutnya, Man-Soo diperlihatkan harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ia dipecat (PHK) dari pekerjaannya. Setelah kehilangan pekerjaan, Man-Soo dan keluarganya berada dalam tekanan berat. Mereka harus berjuang beradaptasi demi bertahan hidup, hingga pada titik terburuk mereka terancam kehilangan rumah. Sungguh kontras dengan kehidupan ia sebelumnnya yang ditampilkan di awal.
Tak mau kehilangan rumah yang dicintainya itu, Man-Soo pun semakin berambisi untuk mendapatkan pekerjaan baru di bidang yang sama: perusahaan kertas. Opportunity yang dinanti-nanti akhirnya datang ketika Man Soo mendapat panggilan untuk melakukan interview pada perusahaan kertas bernama Papyrus. Man-Soo sadar bahwa ia bukanlah satu-satunya kandidat untuk posisi yang diinginkannya. Ia pun melakukan segala cara untuk bisa mendapatkannya, karena tidak ada pilihan lain.

No Other Choice (Source: CBI Pictures)
Dari sinilah ketegangan cerita mulai dibangun. Setiap langkah yang diambil Man-Soo terasa semakin mendesak, makin desperate, membawa kita masuk ke dalam naik turunnya pilihan Man-Soo untuk mendapatkan pekerjaan,
Kekuatan utama yang membuat No Other Choice tetap membekas di ingatan, bahkan lama setelah selesai ditonton, terletak pada kelihaian Park Chan-wook dalam mengeksplorasi habis-habisan semua aspek kreatif dalam filmnya. Sutradara ini seakan tak pernah gagal menghadirkan momen tak terduga yang menempatkan para tokohnya dalam situasi ekstrem, menjaga penonton tetap terikat pada jalannya cerita dari awal hingga akhir.

No Other Choice (Source: CBI Pictures)
Salah satu teknik yang paling berkesan adalah penggunaan callback, di mana dialog atau kalimat dari percakapan sebelumnya dihadirkan kembali pada adegan berikutnya dengan konteks yang berbeda. Cara ini tidak hanya membantu penonton me-recall alur cerita, tetapi juga sering menciptakan momen komikal yang efektif membuat penonton tertawa.
Selanjutnya, pengambilan gambar dan sinematografi. Dibandingkan karya-karya Park Chan-wook sebelumnya, No Other Choice menampilkan pergerakan kamera yang lebih luwes dan eksploratif, menghadirkan visual yang memikat sekaligus memperkaya pengalaman bercerita.
Beberapa pengambilan gambar yang masih teringat adalah ketika sudut pandang POV digunakan dengan cerdik, seperti saat anak Man-Soo sedang menonton TV, lalu tiba-tiba ditarik mundur oleh ibunya. Kamera memperlihatkan kejadian itu dari perspektif sang anak, kemudian perlahan melakukan zoom out, menghasilkan kesan visual yang segar dan unik.

No Other Choice (Source: CBI Pictures)
Ada pula adegan minum yang ditata dengan gaya artistik menyerupai iklan, di mana gelas tampak “tidur” sejajar layar, sementara mulut si peminum tampak vertikal di bawahnya.
Ditambah lagi, transisi dari satu frame ke frame berikutnya terasa begitu mulus dan seamless. Menarik melihat bagaimana Park Chan-wook tidak hanya menggunakan transisi sebagai pemisah antar adegan, tetapi juga menjadikannya medium bercerita visual. Dengan cara ini, transisi tidak lagi sekadar fungsi teknis, melainkan juga menjadi bagian dari narasi yang memperkaya pengalaman menonton.

No Other Choice (Source: CBI Pictures)
Aspek lain yang menarik untuk diperhatikan adalah penggunaan musik dan scoring. Ada momen-momen di mana musik gesek yang menjadi scoring film ternyata berasal dari karakter anak perempuan yang sedang memainkan cello di dalam adegan itu sendiri.
Dengan kata lain, musik tersebut bukan hanya hadir sebagai latar emosional, tetapi benar-benar menjadi bagian dari peristiwa di layar. Suara cello yang dimainkan sang anak sekaligus menjadi musik pengiring adegan, sehingga terasa menyatu dengan cerita.

No Other Choice (Source: CBI Pictures)
Secara keseluruhan, film ini memiliki banyak aspek positif, kreatif, dan eksploratif. Namun, rasanya tetap terdapat beberapa kelemahan yang akan dirasakan oleh beberapa penonton.
Salah satunya terdapat pada alur cerita yang sesekali terasa terburu-buru. Hal ini paling terasa di awal film, ketika transisi dari fase keluarga bahagia ke momen pemecatan, lalu langsung ke upaya mencari pekerjaan berlangsung terlalu cepat. Pergeseran yang padat ini membuat proses dan durasi waktu yang dilalui tokoh utama terasa samar.

Pada bagian tengah film, ritme cerita terjaga dengan baik dan cukup seimbang. Namun, menjelang sepertiga akhir, film kembali terasa tergesa-gesa. Hal ini mulai tampak sejak Man-Soo bertemu dengan kandidat kedua hingga momen ketika polisi datang, sehingga pengembangan cerita terasa kurang maksimal.
Di bagian akhir, No Other Choice tidak menghadirkan plot twist besar seperti yang biasa ditemukan pada film-film sejenis (Outboy, The Handmaiden, Decision to Leave). Park Chan-wook justru memilih menutup cerita dengan memperlihatkan situasi masa kini, ketika kemampuan dan pekerjaan manusia perlahan digantikan oleh teknologi. Tindakan Man-Soo sepanjang film kemudian menjadi ironi: lawan yang harus dihadapi ternyata bukan lagi manusia, melainkan komputer.
Hal ini sekaligus menjadi kritik tidak langsung terhadap relasi antar manusia dan bagaimana kehidupan kita mulai terdistrupsi oleh kemajuan teknologi. Tema persaingan antara manusia dan teknologi menjadi sebuah perenungan terbuka yang dimunculkan di akhir film.

No Other Choice (Source: CBI Pictures)
Maka secara keseluruhan, No Other Choice adalah karya yang memadukan kekuatan visual, penulisan yang cerdas, dan pesan yang relevan dengan kondisi dunia saat ini. Meskipun terdapat beberapa bagian yang terasa terburu-buru atau kurang tuntas, film ini tetap berhasil memberikan pengalaman menonton yang memikat dan meninggalkan kesan mendalam.
Park Chan-wook sekali lagi menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang sutradara yang mampu memadukan estetika, humor, dan kritik sosial dalam satu bingkai cerita. Bagi penonton yang mencari tontonan dengan kedalaman emosional sekaligus refleksi filosofis, No Other Choice adalah sajian yang tidak boleh dilewatkan.
No Other Choice tayang di bioskop 1 Oktober 2025.






