Gimana jadinya kalau dunia AI dan dunia manusia akhirnya melebur jadi satu? One click away dari layar komputer, dengan batas realitas dan program hilang. Di situlah muncul sosok baru di semesta Tron, yaitu Ares (Jared Leto), sebuah entitas AI yang nggak cuma cerdas (banget), tapi juga mulai punya niat dan perasaan sendiri. Dari sinilah dilema besar dimulai.
Ares memiliki misi mencari suatu Kode di duni manusia, kunci yang bisa menentukan keberhasilan salah satu perusahaan teknologi yang sedang bersaing. Tapi, semakin jauh ia menjalankan misinya, semakin kuat pula kesadarannya sebagai “makhluk” yang bisa berpikir dan memilih. Film ini sedikit menyoroti pertanyaan yang relevan banget di era digital: kalau AI bisa berpikir dan punya kehendak sendiri, siapa sebenarnya yang mengendalikan siapa?

Tron: Ares (Disney)
Secara garis besar, Tron: Ares masih mengusung tema klasik Tron Universe, perebutan kekuasaan di antara manusia dan sistem. Tapi, kali ini, semuanya dikemas dengan visual yang jauh lebih kaya. Kalian akan dibawa berpindah-pindah dari setting The Grid dan dunia nyata secara bergantian dengan transisi yang terasa jauh lebih halus. Hal itu, di sisi lain, mengisi celah-celah visual kosong yang dulu masih terasa di Tron: Legacy. Long story short, secara sinematografi, film ini jelas naik level.
Menariknya, di tengah konflik besar antara manusia dan AI, film ini juga nyelipin sesuatu yang nggak disangka-sangka: AI-Human romance-emphaty trope. Meskipun cuma tersirat, elemen ini berhasil menambah sisi emosional dan bikin kita mikir ulang soal definisi “hubungan” di era digital.

Tron: Ares (Disney)
Dari segi moral value, di era AI seperti sekarang, Tron: Ares mengangkat satu pesan menarik: AI bukanlah ancaman utama. Film ini berargumen bahwa yang lebih berbahaya justru ambisi manusia sendiri. Dalam masalah kekuasaan dan kesempurnaan, manusia sendiri yang sering melampaui batas dan akhirnya celaka karena ulahnya sendiri.
Tapi, tentu aja, film ini tetap ada kekurangannya. Masih ada gap yang terasa antara cerita Tron: Legacy dan Tron: Ares. Beberapa bagian transisi ceritanya agak terburu-buru, seolah ingin segera nyambungin dua timeline yang terlalu jauh. Selain itu, akting Jared Leto juga sedikit goyah di bagian akhir, penulis lebih dapet dan teryakinkn justru di Act 1 dan 2, sebelum mulai agak “off the grid” di penutupan film.

Tron: Ares (Disney)
Secara keseluruhan, Tron: Ares adalah perjalanan visual yang megah, penuh refleksi, dan tetap setia dengan DNA khas Tron. Bukan cuma soal perang manusia vs mesin, tapi tentang batas kesadaran, kehendak, dan sisi kemanusiaan di dunia yang makin bergantung kepada dunia digital.
Oh, buat para penggemar lama, siap-siap akan ada fan service yang bakal bikin senyum-senyum sendiri. Spoiler alert: ada satu major flashback yang bikin nostalgia banget, seperti hadiah kecil buat mereka yang udah ngikutin perjalanan Tron dari awal.






