Review Mission Impossible Final Reckoning: Bukan Yang Terbaik

Setelah hampir 30 tahun berlari, Tom Cruise kembali menjadi Agent Hunt yang udah kaya manusia super di Mission Impossible: Final Reckoning. Misi kali ini, ia dan timnya harus mengalahkan sebuah AI yang memegang kendali persenjataan dunia dan berpotensi menyebabkan kepunahan manusia, The Entity. Well, i think i’ve seen this film before.



Cerita kali ini melanjutkan langsung dari akhir film Dead Reckoning. Ethan dan tim berhasil mendapatkan kunci yang bisa mengontrol “The Entity”. Erika Sloane, Mantan Direktur CIA yang naik jabatan sebagai Presiden US, menugaskan Ethan untuk mematikan The Entity dan menyelamatkan dunia dari ancaman perang nuklir yang akan dipicu The Entity. Ethan menerima misi tersebut, walaupun harus mengorbankan diri serta timnya.



Di banding film-film sebelumnya, film kedelapan ini benar-benar memberikan experience kepada penonton seberapa sesak nafasnya lautan dalam dan merindingnya ketinggian di atas pesawat. Stunt yang ditampilkan gokil dan intense banget. Nggak cuma visualnya yang memukau, ketegangan setiap adegannya juga terasa banget.  Dari segi stunt dan ketegangan visual, Final Reckoning jelas sebuah peningkatan signifikan untuk franchise Mission Impossible, bahkan kalau dibandingin sama “Dead Reckoning”.

 

Mission Impossible: Final Reckoning (Source: IMDB)

Mission Impossible: Final Reckoning (Source: IMDB)

 

Buat kalian yang ngikutin franchise ini dari dulu, banyak easter egg dan callback ke seri-seri sebelumnya. Segala aksi yang dilakukan Ethan dulu memberikan dampak yang signifikan ke cerita film ini. Walau begitu, beberapa bagian callback kadang-kadang terasa dipaksakan untuk ada sebagai elemen nostalgia.



Development character di film ini cukup baik. Sosok Luther,  yang dimainkan oleh Ving Rhames dan telah mendampingi Ethan Hunt sejak film pertama, diberikan porsi yang pas dan cukup bikin hati tersentuh. Karakter dari Benji Dunn, yang dimainkan secara apik oleh Simon Pegg  juga diberikan porsi yang lebih matang dan tenang dibanding sebelumnya. Perkembangan karakternya cukup pantas diberi jempol karena kita tahu Benji Dunn adalah salah satu scene stealer dan favorit banyak orang. Karakter Grace dan Paris juga scene stealer disini. Sayangnya, di balik semua aksi keren dan karakter yang keren itu, ada beberapa hal yang agak ngeganjel penulis.



Plot utamanya sih sebenernya punya potensi serius banget, tapi entah kenapa ada beberapa bagian yang eksekusinya malah jadi kerasa aneh, bahkan bikin pengen ketawa saking konyolnya. Semuanya menampilkan kesan serius yang cukup dipaksakan, malah jadinya keliatan kocak.

 

Mission Impossible: Final Reckoning (Source: IMDB)

Mission Impossible: Final Reckoning (Source: IMDB)

 

Set-up ceritanya yang lumayan bikin jengah adalah salah satu kelemahan film ini juga. Hampir sepertiga awal film adalah eksposisi tentang masalah dan ancaman dari The Entity-nya, bikin “The Final Reckoning” jadi agak downgrade dari seri sebelumnya dari segi penceritaan. Seolah-olah seperti gak percaya sama kemampuan penonton untuk mencerna dan menyusun kepingan plot filmnya.

 

Masalah lain ada di antagonis utamanya, Gabriel. Sosok yang digadang sebagai rival dari Ethan ini sayangnya kurang punya motivasi yang jelas dan terasa nanggung, bahkan sampai babak ketiga film. Jujur, August Walker masih villain terbaik Mission Impossible dalam beberapa seri terakhir.



Overall, meskipun aksi dan beberapa momennya juara, ada beberapa notes yang sebenernya bisa dieksekusi lebih baik yang bikin pengalaman nonton jadi sedikit kurang maksimal. Tapi untuk sebagai film action tahun ini, Mission Impossible The Final Reckoning masih film yang wajib ditonton di layar lebar dengan kualitas audio terbaik!

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

20 − 16 =