Drama keluarga kian menempati posisi spesial di hati penonton, terutama di saat banyak orang mulai merasa lelah dengan banyaknya film horor yang seolah tak ada habisnya. Sejumlah film keluarga hadir dengan beragam tema yang dekat dengan keseharian, membuat penontonnya mudah merasa terhubung. Sebut saja “1 Kakak 7 Ponakan” yang menyajikan potret sandwich generation, atau “Home Sweet Loan” yang mengangkat realita anak muda yang bermimpi membeli rumah di tengah kondisi ekonomi yang kian mencekik.
Sinemaku Pictures, rumah produksi yang dikenal lewat karya-karya bertema anak muda, kini ikut meramaikan genre drama keluarga dengan pendekatan yang segar. Lewat film terbarunya, Hanya Namamu dalam Doaku, Sinemaku menghadirkan kisah keluarga yang dibalut dengan nuansa berbeda, sekaligus menyuguhkan titik emosional yang mampu menyentuh hati penonton.

Home Sweet Loan & 1 Kakak 7 Ponakan (Source: https://afrizalqosim.medium.com)
Kisah berpusat pada Arga (Vino G. Bastian), seorang suami yang menjadi nakhoda bagi keluarga kecilnya. Bersama sang istri, Hanggini (Nirina Zubir), dan putri mereka, Nala (Anantya Kirana), ia menjalani kehidupan yang tampak harmonis—sebuah potret keluarga idaman bagi banyak orang.
Namun di balik kebahagiaan itu, Arga menyimpan kegelisahan. Ia mulai merasakan gejala aneh pada tubuhnya: otot yang tiba-tiba melemah hingga kehilangan kendali atas gerakannya. Kondisi tersebut perlahan mengganggu aktivitas sehari-hari. Hingga suatu ketika, Arga kembali dipertemukan dengan Marissa (Naysilla Mirdad), mantannya semasa SMA yang kini berprofesi sebagai dokter setelah menempuh pendidikan di Amerika. Marissa pun menyarankan Arga untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Dari hasil pemeriksaan, Arga akhirnya mengetahui bahwa gejala yang dialaminya mengarah pada penyakit langka bernama Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). ALS atau Amyotrophic Lateral Sclerosis adalah penyakit saraf langka yang menyerang sel-sel motorik pada otak dan tulang belakang. Penyakit ini menyebabkan otot-otot tubuh perlahan melemah, sehingga penderitanya akan semakin kesulitan untuk bergerak, berbicara, menelan, bahkan bernapas.
ALS pun belum memiliki obat yang benar-benar menyembuhkan, sehingga pengobatan dan terapi yang ada lebih berfokus pada memperlambat perkembangan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Ketika akhirnya menyadari betapa serius dan berbahayanya penyakit yang dideritanya, dunia Arga seketika berubah 180 derajat. Semakin hari, kondisi itu perlahan menggerogoti kehidupannya. Sebagai sosok ayah dan suami yang selama ini menjalani kehidupan keluarga nyaris sempurna, Arga tak ingin mengecewakan istri dan putri semata wayangnya. Dengan segala upaya, ia pun berusaha menutupi keadaan kesehatannya dari mereka.
Namun, rahasia sebesar apa pun tak bisa disembunyikan selamanya. Hanggini mulai merasakan ada yang tak beres pada Arga. Kecurigaan itu pun mendorongnya untuk mencari tahu kebenaran di balik sikap suaminya yang semakin mencurigakan.
Kurang lebih seperti itulah gambaran Hanya Namamu dalam Doaku. Dari kerangka cerita dan latar yang ditawarkan, film ini sesungguhnya memiliki potensi besar untuk menghadirkan kisah yang emosional dan relevan. Setiap sequence yang hadir memiliki tujuan yang jelas dan berkontribusi pada alur, terutama dalam membangun atmosfer emosional yang dapat dirasakan penonton.
Sayangnya, potensi tersebut tidak sepenuhnya terwujud. Naskah yang lemah dengan dialog yang kurang mendalam membuat beberapa adegan kehilangan bobot dramatiknya. Bahkan, di sejumlah bagian, cerita kadang terlampau terlalu sederhana sehingga kurang memberi ruang untuk menghadirkan lapisan emosi yang lebih kompleks.
Meski demikian, performa para pemain justru menjadi penopang utama film ini. Vino G. Bastian dan Nirina Zubir berhasil menunjukkan kualitas akting yang matang, dengan rentang emosi yang luas dan chemistry yang terbangun secara meyakinkan. Keduanya mampu menghadirkan dinamika keluarga yang hangat sekaligus menyentuh.
Namun, bagi penulis pribadi, salah satu penampilan yang cukup mencuri perhatian adalah Anantya Kirana sebagai Nala. Setelah sebelumnya memukau lewat perannya di Monster, kali ini ia kembali menegaskan kapasitasnya sebagai salah satu talenta muda yang patut diperhitungkan. Di beberapa adegan, ekspresi dan gesturnya tampil begitu natural hingga mampu menghidupkan suasana dengan tulus, tanpa terlihat kalah oleh kehadiran aktor senior di sekitarnya. Di usianya yang masih belia, Anantya memperlihatkan potensi besar yang membuat kiprah masa depannya di perfilman Indonesia layak untuk ditunggu.
Hal lain yang patut diapresiasi dari karya ini adalah bagaimana Sinemaku tidak sekadar menjadikan ALS sebagai latar cerita, tetapi juga menyelipkan misi penting untuk membangun kesadaran publik mengenai penyakit tersebut.
Memang, kelemahan dari segi penulisan terasa cukup jelas. Naskah yang tidak kokoh membuat film ini sulit untuk benar-benar menghadirkan cerita yang solid. Namun begitu, pengalaman menonton masih dapat terselamatkan berkat penampilan para pemain yang tampil dengan penuh totalitas.
Jika kamu mencari drama keluarga dengan kedalaman cerita yang kuat, film ini mungkin tidak sepenuhnya memuaskan. Tetapi, jika yang dicari adalah penampilan akting yang emosional dan mengena, Hanya Namamu dalam Doaku punya banyak hal untuk ditawarkan.
Bagaimanapun juga, sebuah drama keluarga idealnya tidak hanya membuat penonton terenyuh dan meneteskan air mata, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam yang terbawa hingga selepas keluar dari ruang bioskop. Sayangnya, film ini belum mampu memenuhi ekspektasi tersebut.
Hanya Namamu dalam Doaku tayang di bioskop mulai 21 Agustus 2025.




