Kembar Danny dan Michael Philippou atau dikenal juga sebagai RackaRacka, nama yang mereka gunakan saat masih menjadi Youtuber, kembali melanjutkan kesuksesan Talk to Me dengan membuat film baru bertema serupa tapi tak sama, Bring Her Back. Masih mengusung genre supernatural horror, kali ini mereka berfokus pada ritual membangkitkan mereka yang mati di mana sedikit banyak mengingatkan dengan Hereditary karya Ari Aster.
Bring Her Back menceritakan kakak beradik yatim piatu, Andy (Billy Barratt) dan Piper (Sora Wong) yang diadopsi oleh Laura (Sally Hawkins) karena Phil (Stephen Phillips), ayah mereka, mengalami kecelakaan di kamar mandi. Sejak diadopsi Laura, Andy menyadari ada banyak hal aneh di sekitarnya, terutama anak asuh Laura lainya yang bisu, Oliver (Jonah Wren Phillips). Ia menyakini Laura menyembunyikan sesuatu yang kelam darinya dan Piper.
Format revive the dead sebetulnya bukan sebuah premis baru. The Lazarus Effect dan Pet Sematary karya Stephen King adalah beberapa di antaranya. Nah, pendekatan yang digunakan Philippou bersaudara pada Bring Her Back sedikit banyak mengingatkan pada konsep jutsu Edo Tensei di Naruto yang sama-sama menekankan kebangkitan orang mati. Dikombinasikan dengan gaya film-film A24 selama ini yang sarat kritik sosial dan metafora, Bring Her Back menjadi salah satu horror paling menjanjikan di tahun 2025

Menurut saya pribadi, Bring Her Back is better than Talk to Me. Film ini mampu mengkombinasikan berbagai mazhab horror mulai dari supernatural, gore, hingga psychological secara apik, tak hanya di-eksekusinya namun juga di visualnya. Porsinya pun relatif merata, dari awal sampai akhir film. Penempatan adegan-adegan yang mencekam pun tidak menumpuk. Penonton dimanja dengan ketegangan dan teror yang terjaga, tidak kehilangan tensi sedikitpun. Rapi, tetapi tidak berlebihan. Bersiap-siaplah untuk merasa jijik dan kaget terhadap horor yang disuguhkan.’
Selain horror, film ini pun memiliki nilai drama keluarga yang tidak kalah bagus. Di balik duka yang ditampilkan Laura, jelas terlihat ada masalah yang ia sembunyikan dan siap menerkam ketika penonton lengah. Hal itu tidak lepas dari performa Sally Hawkins yang sukses memberikan performa seorang ibu yang kehilangan anaknya, tapi memiliki kepribadian twisted. Akting cast-cast lainnya pun tak kalah bagus dalam menjalankan fungsinya, sukses membuat saya gemas dan marah terhadap karakter-karakter mereka. Perihal karakter, harus diakui kembar Philippou berhasil mengembangkan karakter-karakter yang compelling dengan latar belakang kelam.

But, I think A24 could do better than this. Film-film horror A24 biasanya memiliki kesan tersendiri setelah selesai menontonnya. Misalnya Tusk, Hereditary, Midsommar, dan Heretic. Judul-judul itu mampu menyuguhkan rasa disturbing yang tidak dapat dirasakan oleh film-film lainnya. Bring Her Back adalah film yang bagus, tapi kurang memberikan kesan mendalam, tidak memiliki elemen yang mencolok untuk diingat. Tentu ini penilaian pribadi saya yang subjektif.
Hal itu diperkuat temuan saya bahwa sebagus-bagusnya drama yang dibangun Bring Her Back dari awal sampai akhir, ia kurang menonjok pada klimaks cerita. Tidak sampai anti klimaks, tapi rasanya masih ada elemen yang kurang di mana redemption antagonis utama bisa lebih pecah lagi pada puncak klimaksnya.
A24 dan RackaRacka kelihatannya memiliki potensi yang baik untuk melanjutkan proyek-proyek horror lainnya seperti Ari Aster. Bring Her Back mampu menyuguhkan tontonan yang menarik di tengah tahun 2025 ini. Be open minded to watch this movie!




