Sulit rasanya jika tidak menempatkan Paul Thomas Anderson pada jajaran sutradara top. Beberapa karyanya seperti Phantom Thread, There Will be Blood, The Master, cukup konsisten dalam memberikan suguhan cerita yang fresh dan mencoba menyelipkan isu sosial kemudian menabraknya pada situasi yang tak biasa.
Selang 4 tahun dari film terakhirnya, Licorice Pizza, Kini Ia kembali dengan suguhan action yang tak biasa berjudul One Battle After Another.

One Battle After Another (Source: Warner Bros)
Premisnya memang sederhana, bahkan terasa klise: Seorang ayah berusaha melindungi anaknya dari musuh lama yang hadir kembali. Namun, hal ini dikembangkan lewat subplot dan situasi yang diramu dengan baik, sehingga premis sederhana tersebut berkembang menjadi cerita yang kompleks nan menarik.
Ghetto Pat (Leonardo DiCaprio) dan Perfidia, dua sejoli yang bergabung dalam kelompok pemberontak bernama French 75 merencanakan sebuah operasi ke markas perbatasan Amerika Serikat-Meksiko. Dalam aksi itu, mereka berhasil menyandera semua tentara penjaga serta membebaskan para tahanan dengan penuh huru-hara.

One Battle After Another (Source: Warner Bros)
Di sana, Perfidia bertemu dengan Kolonel Steven J. Lockjaw (Sean Penn) yang memimpin pasukan di markas perbatasan. Dibalik sosoknya yang kuat dan sempurna bagi kaum kulit putih, Lockjaw malah memiliki ketertarikan pada wanita kulit hitam. Lockjaw tak dapat menahan rasa itu dihadapan Perfidia. Ia terobsesi pada Perfidia. Pertemuan itu pun menjadi awal masalah yang lebih kompleks.
French 75 pun terus melakukan aksinya. Ghetto Pat dan Perfidia pun tampil bak Bonnie and Clyde. Hingga akhirnya, Perfidia pun mengandung dan seketika mereka menjadi sebuah keluarga.

One Battle After Another (Source: Warner Bros)
Masalah pun muncul, saat anak mereka telah lahir dan muncul perbedaan pandangan di antara keduanya. Perfidia masih dengan idealismenya, masih ikut dalam aksi bersama French 75. Sedangkan Ghetto Pat, mulai meninggalkan kehidupan lamanya dan fokus mengurus anaknya.
Ketika French 75 hendak melakukan aksi-aksi pemberontakan selanjutnya, Lockjaw yang sangat terobsesi pada Perfidia berhasil menangkapnya. Perfidia pun berada pada posisi sulit yang mengharuskannya untuk mengkhianati French 75.
Di sisi lain, Lockjaw yang telah mengetahui bahwa anak dari Perfidia telah lahir, memaksa Ghetto Pat untuk lari dan mengubah identitasnya sebagai Bob Ferguson dan memberi nama anak mereka Willa. Sedangkan Perfidia, Ia juga berhasil kabur dari dekapan Lockjaw.

One Battle After Another (Source: Warner Bros)
Enam belas tahun berlalu, Willa pun beranjak menjadi seorang gadis remaja SMA. Lockjaw kini punya misi khusus yang harus ia selesaikan. Mendapatkan Bob dan anaknya demi menghapus masa lalunya yang kelam, sekaligus menuntaskan misi balas dendamnya pada Bob.
Selama 2 Jam 40 Menit pun kita akan disuguhkan dengan berbagai hal yang menghibur. Mulai dari aksi tembak-tembakan yang penuh ledakan, aksi kejar-kejaran yang intens, namun juga sarat akan hal-hal mengejutkan dan berhasil membuat tawa.

One Battle After Another (Source: Warner Bros)
Tak tepat rasanya jika menyebut One Battle After Another sebagai suguhan film action biasa. Film ini menawarkan berbagai lapisan emosi dan cerita yang kompleks, rapih, namun tidak berbelit-belit. Selipan selipan kritik sosal akan isu-isu penting di Amerika pun banyak ditemukan.
Ceritanya cukup to the point, namun tidak one-sided. Kedalaman karakternya pun terasa kuat, terutama pada Bob dan Lockjaw. Penampilan dari cast pendukung pun tak kalah menarik. Salah satu yang berkesan adalah Benicio del Toro yang memerankan Sensei dengan gayanya yang santai tapi juga komikal.
Walaupun dari segi cerita masih banyak yang dapat dikembangkan seperti hubungan antara Bob dan Willa. Namun secara kualitas penulisan, film ini cukup konsisten dan berhasil mempertahankan pace agar tidak kendor dari awal sampai akhir.

One Battle After Another (Source: Warner Bros)
Dari segi produksi pun, film ini punya kualitas yang luar biasa. Musik dan suara yang dinamis berhasil membawa suasana menonton yang pas. Lini produksi lain, seperti editing dan sinematografi, juga sangat matang. Ada cukup banyak scene long-take yang tentunya tak mudah dari segi teknis.
Tentu sangat disarankan kalau semua pengalaman menonton film ini di bioskop. Kalau tersedia di kota anda dan anda punya budget cukup, maka tontonlah di IMAX, karena film ini full menggunakan resolusi IMAX dari awal sampai akhir.

One Battle After Another (Source: Warner Bros)
Maka sudah seharusnya, One Battle After Another dinobatkan sebagai salah satu film terbaik tahun ini. Capaian ini pun melanjutkan tren positif yang dilakukan oleh Warner Bros sebagai pencetak film-film berkualitas.






