Panggil Aku Ayah (Source: Visinema)

Review “Panggil Aku Ayah”: Ringo Ayah Kita Semua

Setelah sukses mengadaptasi banyak film korea seperti Miracle in Cell No.7 (2013) atau Sunny (2011), kali ini giliran Pawn (2020) yang mendapatkan adaptasi ulang. Dengan budaya, komedi, cerita, dan isu yang berbeda, Benni Setiawan dan Visinema sukses ‘membumikan’ film Pawn (2020) agar  cocok untuk penonton Indonesia. 

 

Film versi Indonesia ini bisa dikatakan memiliki script yang hampir serupa dengan film aslinya pada tahun 2020. Menceritakan Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Tatang (Boris Bokir) yang merupakan debt collector. Mereka lalu menagih hutang terhadap Rossa (Sita Nursanti). Karena tidak bisa membayar langsung, mereka lalu menjadikan anaknya yang bernama Intan (Myesha Lin) sebagai ‘jaminan’. Drama keluarga dan masalah yang muncul menjadikan Intan atau yang dipanggil Pacil (kepala kecil) menemukan keluarga baru bersama Dedi dan tatang.

 

Penonton tetap dapat bernostalgia dengan film pendahulunya tanpa perlu ketakutan filmnya memiliki detail point atau script yang berubah atau membosankan karena memiliki cerita yang sama. Misalnya, soal bagaimana pada versi Korea, ibu dan anak terpisah karena deportasi. Pada versi Indonesia, detail tersebut diubah menjadi perpisahan karena ibunya menjadi TKW. yang meski berbeda masih bisa masuk ke dalam cerita.   

 

Panggil Aku Ayah (Source: Visinema)

Panggil Aku Ayah (Source: Visinema)

 

Sayangnya, beberapa detail point film ini memiliki hit & miss, terutama dalam hal kontuinitas. Misalnya, cerita saat Rossa yang yang harus menjadi TKW yang tidak bisa pulang selama 15 tahun dan baru bisa bertemu saat Intan dewasa. Tapi, ada pula adegan dimana Rossa menemukan Intan saat SMA di tengah-tengah tahun tersebut.

 

Pada film Korea, banyak sekali symbolism seperti nama Seung-I yang dipanggil 담보 (Dambo) yang berarti ‘Pawn/Jaminan’. Hal itu merujuk pada kontinuitas cerita bagaimana Seuing-I awalnya hanya sebagai penjamin dan berkembang menjadi anak asuh. Pada versi Indonesia, hal tersebut kurang kuat dibandingkan film pendahulunya. Intan dipanggil Pacil hanya karena dia seorang anak kecil yang memiliki kepala berukuran kecil. 

 

Atau simbol buku tabungan yang sangat menyentuh di versi Korea. Versi Indonesia, Intan menyadari adanya buku tabungan Dedi yang berpengaruh pada jalannya cerita, tapi tidak disampaikan sebaik versi Korea-nya. Padahal, product placement Bank terkenal tersebut bisa masuk dengan leluasa tanpa menjadi cringe.

 

Panggil Aku Ayah (Source: Visinema)

Panggil Aku Ayah (Source: Visinema)

 

Meski begitu, versi Indonesia ini memiliki detail-detail kecil yang justru lebih baik dari versi Korea. Seperti bagaimana memori Intan yang kuat akan ibunya terwakilkan oleh boneka kelinci Intan. Atau bagaimana pekerjaan penerjemah versi Korea diubah menjadi dokter yang lebih umum di Indonesia.

 

Ada pula detail pada lagu Rossa – Tegar jauh lebih berpengaruh dibandingkan lagu Seo Taiji pada film Korea. Sayangnya lagu Rossa hanya berdampak di awal saja saat Intan berpisah dengan Rosa. Padahal banyak momen lainnya pada film yang bisa memaksimalkan potensi lagu tersebut.

 

Untuk akting, para aktor memiliki Chemistry luar biasa. Ringgo-Boris-Myesha-Tissa sangat layak mendapat perhatian khusus. Termasuk chemistry antar ibu dan anak Setelah Miracle Cell No. 7, kita dapat menyaksikan film adaptasi tearjerker dan komedi lainnya di tahun ini.

 

Panggil Aku Ayah (Source: Visinema)

Panggil Aku Ayah (Source: Visinema)

 

Komedi pun menjadi point penting dalam drama keluarga kali ini. Boris Bokir menjadi pusat komedi yang segar dan berbeda tanpa merusak cerita. Komedi yang disampaikan berbeda dengan versi Korea yang hanya menampilkan komedi sisipan. Akan ada beberapa sketch comedy dimana para pemain lainnya memberi umpan dan Boris lah yang menjadi pusat punchline komedi tersebut. Boris tetap mendapat porsi pengembangan cerita yang menjadi turning point dari pengembangan karakter Ringgo. Sedikit berbeda dengan versi Koreanya, tapi tetap impactful.

 

Chemistry antar Myesha Lin dan Sita Nursanti pun sangat baik di awal cerita. Antara Tisa Biani dan Sita Nursanti sebetulnya sudah cukup baik pada klimaks perpisahan. Tapi belum sekuat Myesha dan Sita pada act 1.

 

Penggunaan bahasa Sunda oleh para karakter tergolong cukup natural. Ringgo dan Sita yang memang berdarah Sunda tidak perlu ditanyakan. Boris yang sudah lama tinggal di Bandung pun tidak ada kesulitan. Sayangnya peran Totos Rasiti yang justru terkenal dengan bahasa Jawanya belum cocok berdialog dengan bahasa Sunda.

 

Film ini mampu mengundang kesedihan, rasa terharu ataupun air mata komedi yang membuat kita tersenyum rehat sejenak dari drama yang diberikan. Film ini bisa lebih maksimal lagi pada detail point yang menyesuaikan budaya dan para penonton Indonesia. Karena masih banyak point yang hit & miss. Ada yang dieksekusi dengan baik, ada pula yang belum maksimal.

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment

15 − 9 =