Plague Tale Requiem
Review Game A Plague Tale Requiem

Sekuel dari surprise hit 2019 besutan Asobo Studio rilis bulan oktober kemarin. Game yang next-gen only ini menghadirkan grafis yang sangat ciamik dan merupakan upgrade besar dari game pendahulunya. Bagaimanakah dengan keseluruhan packagenya?

 

Astonishing Graphics

Pertama-tama, let’s talk about graphics. They are very pretty. Benefit dari merilis hanya untuk konsol PS5, Xbox Series X/S dan PC membuat Asobo Studio go all out dari segi visual. Bahkan game ini bisa dikatakan sebuah benchmark baru dalam dunia gaming layaknya Crysis dahulu.

 

Specification Requirement

Kembali dengan spek PC Ryzen 5 3600, RTX 2060 Super dan RAM 16 GB, penulis bisa memakai setting grafis rata kanan dengan resolusi 1080p tapi dengan satu syarat: framerate locked at 30fps. Kenapa? Karena kalau tidak, spek PC penulis paling mentok berada disekitar 40an fps, belum lagi kalau para tikus sudah muncul. Auto turun ke nyaris 30fps. Untuk pengalaman bermain yang lancar dan imersif, penulis akhirnya memutuskan untuk mengunci di 30fps dibantu dengan RTSS. Ini belum ditambah Ray Tracing yang katanya akan termasuk update patch sekitar tahun depan.

 

Baca juga: Fun fact film Avatar 2 dengan budget fantastis!

 

Synopsis A Plague Tale Requiem

Oke sekarang ke cerita. Setelah Innocence, Requiem melanjutkan kisah Amicia dan Hugo yang mencoba mencari cara bagaimana menghadang penyakit yang diderita Hugo sekaligus survive dari ancaman tentara dan kerumunan tikus pemakan manusia. Seperti sekuel kebanyakan, cerita Requiem jauh lebih besar dan ambisius dari Innocence. Dibantu dengan grafis yang ciamik, bermain game ini seperti menonton film summer blockbuster berkat segala kehancuran yang dibuat oleh kerumunan tikus. Hewan kecil yang tadinya hanya berupa gerombolan biasa kini bisa berubah jadi ombak besar bak zombie di film World War Z. They look impossibly hilarious but menacing at the same time. Semua itu juga turut terbantu dengan performance dari semua aktornya yang sangat baik, terutama Amicia. Segala kesulitan yang mereka alami dan hadapi bisa terasa. Amicia yang semakin lama semakin bengis juga turut kita rasakan.

 

Gameplay flow

Segi gameplay tidak ada yang spesial. Kalian tetap akan mengendap-endap menghindar antara musuh manusia dan tikus sama seperti Innocence. Hanya saja kini Amicia lebih cakap melawan musuh dan berkat level design yang memiliki ruang gerak yang lebih besar (satu level malah lebih ke mini open world), kalian punya banyak cara untuk menyelesaikan level tersebut. Improvement paling besar (yang merupakan an annoyance di Innocence) adalah Amicia tidak akan langsung mati dalam sekali pukulan. Puzzle solving juga sedikit diupgrade namun tidak sebesar combatnya. Kalian juga akan bisa menggunakan kemampuan rat-control milik Hugo tapi hanya pada level-level tertentu.

 

Verdict

Sebagai penutup, walau technically game ini adalah sebuah walking simulator, ceritanya cukup menarik untuk diikuti dan hubungan kakak adik Amicia sang pelindung dengan Hugo lumayan menyentuh hati. Dibalut dengan grafis super cantik yang memanjakan mata membuat game masuk dalam nominasi GOTY The Game Awards.

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment