Drive to Survive (Source: IMDB)
Drive to Survive: Menyulap Balapan F1 Menjadi Drama Hollywood

Kalian ingat sebuah film dokumenter dari layanan streaming Netflix yang dimiliki oleh Jessica Wo…. maksud saya Reed Hastings hehehe…. yang berjudul Ice Cold? Film dokumenter tersebut mengisahkan tentang peristiwa kematian misterius Mirna yang disinyalir disebabkan oleh segelas kopi susu yang sudah dicampur sianida dari berbagai sudut pandang. Banyak ahli, kerabat, serta pengacara dari sang terdakwa terlibat dalam pembuatan dokumenter ini sebagai narasumber, membentuk suatu skenario yang bertujuan untuk mengarahkan opini publik. 


Ketika dokumenter ini dirilis resmi, opini publik menjadi terpecah. Sebagian ada yang mempertanyakan versi resmi dari kasus ini, sebagian lain bingung. Sebagian lainnya masih berusaha mempercayai versi resmi dari kasus kematian misterius tersebut.

 

Itulah keajaiban dari sebuah karya, di mana karya berupa film dokumenter bisa meretas pikiran banyak orang dan membuat orang-orang menjadi berpikir keras. Dan kini, kita akan membahas satu karya dokumenter lainnya yang juga turut berperan besar untuk melambungkan nama balap Formula 1 yaitu sebuah serial dokumenter dari Netflix berjudul Formula 1: Drive to Survive. 

 

Drive to Survive (Source: IMDB)

Drive to Survive (Source: IMDB)

 

In a nutshell, serial Drive to Survive (DTS) adalah sebuah series docudrama yang dibesut oleh James-Gay Reese, seorang sutradara film dokumenter kenamaan yang sukses membuat film dokumenter bertema F1 lainnya yang berjudul Senna. Fokus dokumenternya sendiri mengisahkan perjuangan para pembalap dan tim F1 untuk memenangkan kejuaraan dunia balap Formula 1 ataupun hanya sekedar bertahan di dunia F1 itu sendiri yang terkenal mahal dan ganas, bahkan memiliki julukan The Piranha Club.

 

Premisnya memang tergolong sederhana, namun premis sederhana yang dieksekusi baik bisa menjadi senjata untuk membentuk opini dan persepsi publik. Nah, itulah yang berhasil dilakukan oleh Drive To Survive.

 

Memasuki musim baru, yang telah tayang di Netflix, serial ini kerap disebut-sebut berjasa mempopulerkan F1, yang tergolong niche, ke kalangan mainstream. F1 bahkan kian populer di Amerika, yang berujung pada munculnya tiga sirkuit Amerika di musim balap F1: Circuit of The America, Miami, dan Las Vegas. Tak berlebihan mengakatakn Drive To Survive meromantisasi atau meng-Hollywood-kan F1, memberikan bumbu laga dan drama yang tak jarang fabrikasi belaka. 

 

Berikut beberapa alasan mengapa DTS bisa mengubah F1 menjadi sebuah fenomena global dan menjadi olahraga yang paling digemari di dunia sejak era 2020an.

 

 

1. Cerita yang Sangat Personal

 

Drive to Survive (Source: IMDB)

Drive to Survive (Source: IMDB)


Banyak kisah di dokumenter ini yang menyorot para pembalap dan team principal secara lebih intimate, menghapus jarak antara mereka dengan fans casual.


Salah satu kisah yang paling sering ada di setiap season dari DTS adalah bagaimana para pembalap yang sedang underperform atau sudah mendekati habis kontrak berusaha untuk bertahan di F1.  Selain itu, bagaimana para team principal tim midfielder ke belakang berusaha mempertahankan timnya agar bisa terus eksis di olahraga ini karena F1 merupakan olahraga yang mahal dan memerlukan jumlah uang yang tidak sedikit untuk bisa bertahan di sana.

 

Cerita yang personal ini adalah salah satu cara untuk membangun simpati dari penonton agar penonton merasa relate untuk kemudian invested terhadap series ini.

 



2. Drama ala Reality Show Hollywood

 

Drive to Survive (Source: IMDB)

Drive to Survive (Source: IMDB)

 

Jikaa kita menonton film, pasti menyenangkan jika plot film tersebut menghadirkan pola cerita Heroes and Villains. Drive to Survive kurang lebih mengambil pendekatan yang mirip. Jika dalam satu musim terjadi perebutan gelar atau rivalitas antar rekan setim yang sangat sengit, hal itu menjadi jalan yang sempurna bagi DTS untuk menerapkan pola heroes and villain.

 

Case Heroes and Villains lain yang juga kerap dimunculkan DTS adalah  jika terjadi selisih paham antar team principal F1. Biasanya hal itu berhubungan dengan pengakalan regulasi F1 yang borderline curang atau perkara berebut pembalap. Anda tidak akan asing dengan meme “Change your fcking car!” yang berasal dari salah satu episode series ini.

 



3. Every DTS Moment is A Meme

 

Drive to Survive (Source: IMDB)

Drive to Survive (Source: IMDB)

 

Hampir semua momen-momen yang ada di DTS bisa menjadi meme yang menarik dan mengocok perut. Momen seperti “change your fcking car” atau “we’re like a bunch of wankers” adalah salah dua dari contoh meme yang lahir dari serial ini. Atau momen ketika Juara Dunia F1 4 Kali Sebastian Vettel mengumumkan bahwa ia akan pensiun dari F1, dikemas secara menarik dan relate sekali sehingga melahirkan meme lainnya.

 



4. Reka Ulang Adegan

 

Drive to Survive (Source: IMDB)

Drive to Survive (Source: IMDB)

 

Film dokumenter rata-rata mengambil reka ulang adegan dari footage-footage semi fiktif yang diikemas menjadi beberapa film pendek. DTS mengambil jalan yang berbeda. Sang filmmaker bekerjasama dengan Liberty Media selaku pemegang hak siar F1 menggunakan aset-aset mereka untuk dijahit menjadi sebuah adegan reka ulang yang menarik untuk ditonton.

 

Memang, seperti dikatakan di belakang, tak jarang aset-aset faktual itu diutak-atik, dikemas menjadi skenario fiktif, namun hal itu berhasil memberi bumbu drama ke perhelatan f1 itu sendiri. 

 

 

5.Politik Belakang Sirkuit

 

Drive to Survive (Source: IMDB)

Drive to Survive (Source: IMDB)

 

Nah, inilah alasan terakhir kenapa Drive to Survive bergitu asyik ditonton. Drive to Survive memberi akses ke “belakang sirkuit” di mana di situlah politik F1 berlangsung. Ya, seperti olahraga mahal pada umumnya, F1 tak jauh dari praktik politik, baik untuk bertahan hidup atau sekadar mempertahankan dominasi.  Pelakunya tidak hanya tim principal atau induk dari tim f1, tapi juga pembalap dan tak jarang anggota keluarga mereka juga. 

 

Praktik-praktik politik yang dipertontonkan bisa memberikan perspektif ekstra bahwa kemenangan sebuah tim itu tidak selalu murni karena kombinasi mobil cepat dan pembalap hebat, tapi juga keberhasilan pejabat-pejabat tim memainkan pengaruh mereka. Hal itu memang bisa memberikan citra buruk pada FIA sendiri selaku penegak hukum di F1, namun organisasi olahraga mana sih yang sepenuhnya lepas dari permainan politik? Jawabannya sudah pasti tidak ada. 

 

 

 

Bagikan:

Anda Juga Mungkin Suka

Leave a Comment